Di Nikahi Calon Kaka Ipar

Di Nikahi Calon Kaka Ipar
BAB. 117 Dokter Viona


__ADS_3

Suci pikir dokter Viona bukan anak tiri kakek dari suaminya, terlihat jelas wanita itu seumuran dengan usia suaminya, terlebih ia tidak pernah melihat istri kakek dari suaminya.


Bahkan suaminya tidak pernah menceritakan tentang keluarganya, apa lagi saat mendengar suaminya memanggil dokter Viona, bukan dengan embel-embel tante.


"Ko usianya sepertinya sama sama mas? Dan kenapa mas memanggilnya dokter Viona?"


"Dokter Viona baru berusia 30 tahun, seharusnya mas memanggilnya dengan panggilan tante, tapi dokter Viona melarang mas untuk memanggil tante karena usia kita hampir sama dan dokter Viona juga belum menikah, jadi dokter Viona tidak suka di panggil tante."


Dokter Viona memang tidak suka di panggil tante oleh Arkan, alasanya usia mereka yang hampir sama membuat dokter Viona risih dengan panggilan tante.


Suci hanya mengangguk saja, ia tidak ingin bertanya lagi tentang keluarga dari suaminya, walau pun jiwa keponya sudah meronta-ronta, tapi ia tidak mau kalau suaminya mengatakan ia crewet.


"Mas, aku lapar."


"Iya sudah sayang tunggu di sini mas akan mengambil makanan dulu."


Saat Arkan sudah berdiri, istrinya langsung mencekal pergelangan tangannya.


"Bukan makan sesuatu mas."


Arkan yang mendengar jawaban dari istrinya ia langsung menundukan tubuhnya untuk bertanya sambil mengusap lembut pipi istrinya.


"Lalu sayang mau makan apa? Nanti mas buatin."


"Sudah bilang kalau aku tidak ingin makan sesuatu mas, aku hanya ingin makan ini."


Suci menjawab ucapan dari suaminya sambil mengusap lembut bibir suaminya.


"Jangan aneh-aneh sayang, masih sakit saja minta yang aneh-aneh."


Setelah itu Arkan menghela nafas berat, ada saja kelakuan mesum istrinya di saat sedang terbaring.


"Ih mas, aku maunya ini."


Suci berbicara sambil memegang bibir suaminya lagi.


Arkan dengan terpaksa langsung mencium bibir istrinya dan langsung di sambut oleh istrinya dengan senang hati.

__ADS_1


Ciuman mereka terus saja berlanjut hingga mereka mendengar suara langkah kaki dari sesaorang.


Mereka langsung menghentikan ciumannya saat mendengar helangan nafas kasar dari sesaorang dan langsung menatap ke orang tersebut.


Arkan dan istrinya melihat kakeknya yang sedang menatapnya dengan kening berkerut.


"Kakek!"


Arkan dan istrinya langsung mengusap bibirnya sendiri karena basah, wajah ke duanya sudah memerah karena malu.


"Kakek pikir Uci belum sadar, kalau begitu kalian lanjutkan saja, kalau kakek tau kalian sedang bercumbu, kakek tidak akan mengganggu kalian. Suci apa kamu sudah baikan nak?"


"Alhamdulilah Uci sudah jauh lebih baik kek."


"Iya sudah suyukur kalau seperti itu, iya seharusnya tanapa kakek bertanya juga kamu sudah jauh lebih baik, buktinya sudah bercumbu. Kakek heran sama kalian baru juga sadar sudah di sambut dengan cumbuan."


Erlangga berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ada saja kelakuan aneh cucu dan cucu menantunya, ia juga pernah muda dan pernah menikah dua kali, tapi tidak nyosor terus seperti cucunya.


Wajah Arkan dan istrinya semakin memerah, mereka berdua merasa malu saat mendengar ucapan dari kakeknya.


"Kakek jangan bilang begitu, seperti tidak pernah muda saja, kasihan istri Arkan malu karena ucapan kakek."


Suci berbicara sambil menaik turunkan satu alisnya.


Erlangga yang mendengar ucapan dari mereka berdua, ia hanya tersenyum lebar.


Erlangga tau kalau cucu dan cucu menantunya sangat malu, tapi ada saja kelakuan mereka yang seolah-olah dirinya tidak malu.


"Kakek memang pernah muda, tapi kakek tau kondisi dan situasi, tidak nyosor seperti kamu Arkan. Oh iya, sebentar lagi Viona datang, kakek tadi sudah menelpon Viona untuk memeriksa kandungan Suci. Kakek tidak mau kalau Arra yang memeriksa keadaan Suci, kakek sudah tidak percaya."


Suci yang mendengar ucapan dari kakek suaminya ia mengerutkan keningnya untuk beberapa saat, karena tadi suaminya bilang kalau Arrabella sedang sibuk, tapi berbeda dengan ucapan dari kakek suaminya.


Kakek suaminya seperti sedang marah pada Arrabella, entah apa yang terjadi membuat Suci semakin bingung, apa lagi ia tidak begitu mengenal Arrabella, karena Arrabella jarang sekali berbicara dengan ia, bahkan sekedar bertegur sapa saja tidak kalau tidak ia duluan yang menyapa Arrabella.


Suci langsung melihat ke arah suaminya untuk menanyakan tentang Arrabella, ia tidak berani untuk bertanya pada kakek dari suaminya.


"Memangnya ada apa mas? Bukan'kah tadi mas bilang Arra sedang sibuk untuk itu mas akan menelpon dokter Viona?"

__ADS_1


Erlangga menghela nafas berat saat mendengar pertanyaan dari cucu menantunya, ia yakin kalau cucunya tidak menceritakan tentang kejadian tadi pagi dan ia juga lupa kalau cucu menantunya memang tidak boleh banyak pikiran.


Apa lagi Erlangga tau kalau janin yang di kandung cucu menantunya sangat lemah, hanya saja ia bersyukur janin yang ada di dalam kandungan cucu menantunya selalu kuat.


Sebelum Arkan menjawab pertanyaan dari istrinya, kakeknya lebih dulu menjawab pertanyaan dari istrinya.


"Oh itu nak, maksud kakek Arra masih terlalu muda dan belum menjadi ahli dokter kandungan, jadi kakek tidak percaya pada Arra, lebih baik kakek percayakan pada Viona yang sudah ahlinya."


"Oh, kirain Uci mas dan kakek menyembunyikan sesuatu."


Suci berbicara sambil tersenyum lebar, ia tau kalau suaminya dan kakek dari suaminya sedang menyembunyikan sesuatu, tapi ia tidak mau di ambil pusing, ia tau kalau mereka berdua tidak mau melihat ia sakit lagi seperti sekarang, ia terlalu sadar dengan pisiknya yang tidak setabil.


Apa lagi Suci tau semenjak hamil ia sering sekali di infus jadi ia hanya pura-pura percaya saja, apa lagi ia tau kalau keingin segera hamil adalah keinginanya, sedangkan suaminya ingin menunda kehamilan ia 1 tahun untuk menunggu ia pulih, tapi bagi ia menjadi seorang Bunda adalah keinginan terbesarnya semenjak ia menikah bersama Arkan yang menurut ia Arkan adalah sosok suami idaman.


"Iya sudah kakek keluar dulu."


"Iya kek."


Arkan dan istrinya menjawab ucapan kakeknya serempak, tapi sebelum kakeknya keluar pintu kamar Arkan lebih dulu di ketuk.


Tok-tok.


"Masuk!"


Setelah mendengar teriakan dari dalam dokter Viona masuk sambil menenteng tas peralatan dokternya, ia tersenyum lebar saat melihat mereka, lalu langsung menyalami papa tirinya.


Setelah mencium tangan papa tirinya, ia langsung bertanya sambil tersentum lebar.


"Bagai mana keadaan papa?"


"Alhamdulilah sehat, anak nakal, sudah 2 bulan tidak pulang ke rumah."


Dokter Viona hanya tersenyum lebar saat di katai anak nakal, walau pun mamanya sudah meninggal 1 tahun yang lalu, tapi ia sangat bersyukur karena papa tirinya itu tetap menganggap anak kandungnya seperti saat mamanya masih hidup dan perlakuan papa tirinya itu tidak pernah berubah hanya saja ia tidak suka semenjak Arrabella sudah tidak tinggal di apartement lagi.


Jadi dokter Viona memutuskan keluar dari rumah ini dengan alasan rumah sakit tempat ia bekerja terlalu jauh, sebenarnya ia sangat malas beradu mulut dengan Arrabella.


Arrabella yang selalu memaki dokter Viona tidak tau malu, dan dokter Viona yang selalu memaki Arrabella cucu pungut.

__ADS_1


Bahkan dokter Viona tidak sampai memaki Arrabella cucu pungut, tapi juga memaki Arrabella tidak tau malu, mencintai cucu kandung dari kakek angkatnya.


__ADS_2