
Mereka berdua keluar dari kamar dengan senyuman yang tidak pernah pudar. Arkan mau pun Suci merasakan sangat bahagia. Seperti biasa, Arkan akan menyapa ke dua orang tuanya yang sudah duduk di meja makan.
" Ma, pa."
Bagas dan Keyla sangat terkejut saat melihat tangan kanan putranya ada tiga hansaplast. Belum sempat mereka berdua bertanya Indra datang.
" He, selalu paling akhir."
" Kamu memang sudah biasa, selalu paling akhir, sudah tidak aneh, tapi sekarang bukan mama lagi yang pertama turun, melainkan Suci."
Memang bagi Keyla putra tirinya itu tidak aneh, ini masih pagi, biasanya juga turun pukul 10.00WIB. Kini mata Indra melihat ke arah Suci yang sedang membantu kaka tirinya duduk di kursi, ada rasa cemburu di hatinya, tapi saat melihat tangan kanan kaka tirinya di hansaplast, ia sangat terkejut.
" Bang, itu tangan abang kenapa? Habis mukul apaan tuh?"
Indra yakin kalau kaka tirinya itu telah memukul sesuatu, karena ia sudah hapal, kalau kaka tirinya tidak bisa menahan emosinya maka kaka tirinya akan memukul sesuatu untuk melampiaskannya.
" Abang tidak apa-apa."
" Iya sayang, itu tangan kamu kenapa? Jujur sama mama jangan lakuin aneh-aneh."
Keyla menatap ke arah putranya dengan kuatir, lalu beralih menatap menantunya yang sedang membuka cadarnya, ia melihat mata menantunya yang sembab.
" Loh menantu mama juga kenapa matanya sembab? Kalian tidak habis berantem'kan?"
Jujur saja Keyla sangat kuatir dengan putra dan menantunya.
" Arkan tidak apa-apa ma, jangan kuatir gitu, luka kecil di anggap serius."
" Jujur sama mama, kalian tidak sedang berantem?"
Arkan menggeleng pelan, sedangkan Suci hanya diam membisu tanpa mau mengeluarkan pembicaraan. Indra yang melihat mata Suci sembab, ia menghela nafas pelan.
" Bang, kenapa harus menikahi Suci sebagai gantinya? Abang egois, hanya ingin mendapatkan Wijaya Grup, abang sampai menikahi wanita yang tidak abang cintai, bahkan abang sampai membuat Suci menangis, sebenarnya apa yang terjadi semalam? Bang, kalau sampai abang menyakiti Suci, aku tidak akan pernah tinggal diam, selam aku menjadi sahabatnya, aku selalu berusaha untuk selalu mengerti untuk Suci, tapi abang dengan tega membuat Suci menangis." batin Indra
Indra memang sudah mencari tau pada pak Samsul tentang kenapa kaka tirinya bisa menikah dengan Suci, karena kakanya Suci membatalkan pernikahan, dan akhirnya Suci yang menggantikan pernikahan itu. Bagas hanya menggeleng pelan melihat istrinya yang sangat kuatir.
__ADS_1
" Ma, sudah ayo sarapan, seperti tidak pernah mengalami pengantin baru saja."
" Tapi pa, mama harus tau dong, apa yang terjadi."
" Itu rumah tangga Arkan ma, jangan ikut campur sama rumah tangga putra kita, lagian juga tidak perlu kuatir, mana mungkin nak Suci melakukan KDR yang di sengaja."
Arkan mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan dari papa mertuanya.
" KDR yang di sengaja atau tidak di sengaja bagai mana pa?"
" Iya bisa saja luka di tanganmu itu karena istrimu menahan sakit."
" Nahan sakit apaan pa?"
Indra bertanya dan menatap serus sang papa.
" Kamu anak kemarin sore, tidak perlu tau."
" Ih papa, lagian usia Indra sama Suci juga lebih tua Indra 3 bulan."
Indra menutup mulutnya sendiri, ia tidak bermaksud untuk mengatakan itu, hanya saja jiwa keponya menggebu-gebu.
Keyla dan Bagas bertanya bersamaan, karena kemarin pagi putranya itu mengaku tidak kenal, tapi sekarang putranya mengetahui tentang usia Suci, itu artinya mereka memang saling kenal.
" He, iya ma, pa, Indra memang kenal Suci, dulu saat SMA kita sekolah di sekolah yang sama, bedanya Suci di kelas IPA 1, sedangkan Indra di IPA 2, Indra juga baru ingat semalam ma, kalau dia itu Suci teman Indra, soalnya kita juga tidak begitu akrab, terlebih Suci juga pindah sekolah, jadi Indra sudah lupa sama Suci."
Arkan tersenyum, ternyata dugaannya benar kalau adik tirinya memang mengenal istrinya, memang kemarin ekspresi keduanya juga berbeda, sangat terlihat jelas kalau mereka berdua saling kenal. Bagas dan Keyla hanya mengangguk dan percaya dengan ucapan putranya yang sedang membohonginya.
" Cepat katakan pa, nahan sakit seperti apa?"
Kini Indra kembali ke topik awal yang memang sudah penasaran dari tadi.
" Iya maksud papa, bisa saja Arkan melakukan malam pertama pada istrinya, dan istrinya menggigit tangan Arkan karena merasakan sakit di sesuatuanya, tidak perlu di jelasin detail yang jelas intinya begitu."
" Papa!"
__ADS_1
Arkan berteriak pada papa tirinya yang pagi-pagi sudah membicarakan hal mesum. Sedangkan Indra melebarkan matanya karena terkejut, tapi sedetik kemudian ia menggeleng pelan, ia tau siapa kaka tirinya, ia sangat mengenal kaka tirinya yang tidak pernah suka bermain dengan wanita, apa lagi ia tau kalau kaka tirinya mencintai Sulis, jadi ia tidak percaya kalau hubungan kaka tirinya sudah melangkah sejauh itu. Sedangkan wajah Suci sudah memerah, ia tidak mengerti kenapa papa mertuanya itu dari kemarin selalu saja membicarakan hal mesum.
" Sudah, ayo sarapan, nanti masakan menantu papa keburu dingin. Ma, kapan-kapan belajar masak sama menantu kita, malu masa mama mertua tidak bisa masak."
" Iya pa."
Arkan dan Indra hanya menggeleng pelan mendengar permintaan papanya, sedangkan Suci mengerutkan kening beberapa saat, ia tidak percaya kalau ucapan kemarin yang di katakan papa mertuanya itu pada mama mertuannya yang mengatakan tidak bisa masak, ia pikir bercanda, tapi ternyata benar adanya. Suci langsung mengambil piring suaminya, ia letakan di samping miliknya, sedangkan ia mengisi piringnya sendiri.
" Uci apa yang kamu lakukan? Kamu menyuruh mas tidak boleh sarapan."
Suci menggeleng pelan, bukan begitu maksudnya, ia hanya ingin membuktikan pada suaminya kalau ia menikah dengan suaminya itu karena percaya suaminya adalah jodohnya.
" Mas, suka sup ikan mas?"
" Semua yang di masak oleh kamu mas suka Uci, mas hanya alergi udang."
Suci mengangguk pelan, sedangkan orang tua Arkan dan Indra sudah mulai sarapan sambil sesekali menatap Arkan dan Suci. Suci langsung mengisi sendoknya dengan nasi dan lauk, lalu ia sodorkan di depan mulut suaminya.
" Ayo makan mas?"
" Uci, jangan aneh-aneh, kamu itu belum makan dari semalam."
" Iya kita makan bersama satu piring berdua mas, ayo buka mulutnya."
Mau tidak mau Arkan hanya pasrah, ia membuka mulutnya. Suci langsung menyuapi suaminya sambil tersenyum, setelah itu ia juga menyuapi mulutnya sendiri dengan satu sendok yang sama. Arkan awalnya mengerutkan keningnya, tapi sedetik kemudian ia tersenyum saat melihat istrinya makan dengan satu sendok yang sama.
" Aduh pengantin baru romantis banget, papa jadi pengen muda lagi."
" Papa, memang masih muda, mama saja yang sudah tua."
" Kamu iya Arkan, bukan belain mama, eh belain papa."
" Itu pakta ma, sudah ayo lanjutin sarapannya."
Memang Bagas dan Keyla berbeda usia 8 tahun, lebih muda Bagas 8 tahun. Suci menyuapi suaminya dengan telaten, senyumannya tidak pudar. Arkan langsung mengambil piring yang di depan istrinya, lalu mengambil alih sendoknya.
__ADS_1
" Biar mas yang suapin."
Suci hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Sekarang gantian Arkan yang menyuapi istrinya. Mereka berdua sama-sama bahagia setelah kesalah pahaman semalam.