
Sulis hari ini tidak bekerja, ia masih asik tiduran di ranjangnya sambil menunggu konferensi pers yang akan di adakan oleh Arkan, ia hanya fokus di tabletnya yang ingin tau apa yang akan di katakan Arkan, tapi nyatanya di luar dugaannya.
Sulis pikir Arkan akan mengakui ia sebagai mantan, tapi nyatanya tidak, Arkan bahkan tidak mengakui pernah menjalin hubungan dengan ia selama 2 tahun lamanya, ia tidak menyangka kalau Arkan akan melakukan itu, lebih parahnya lagi ternyata Suci menjadi pemegang utama di Wijaya Grup.
Belum cukup Sulis mendapatkan kekecewaan itu, bahkan kakeknya juga hadir di sana dan akun gosip Sarantika yang ia bayar juga mengakui kebohongannya, ia yakin kalau Sarantika itu di desak oleh salah satu sahabat Arkan untuk mengakui berita itu.
Sulis langsung bangun dari rebahannya, ia langsung berdiri, lalu langsung melempar tabletnya ke tembok.
Bruk..
Tablat itu langsung pecah, ia langsung menarik selimut lalu ia jatuhkan ke lantai, setelah itu ia langsung membuang semua bantalnya ke lantai, bahkan menarik sprei dan langsung membuangnya juga di lantai.
"Sial! Kenapa harus Suci dan Suci!"
Sulis sangat marah, bukan hanya Arkan yang tidak mengakuinya, tapi juga kakeknya ikut hadir di sana, lalu menjelaskan tentang perhotelan dan seluruh apartement akan menjadi milik Suci, betapa malunya ia yang sebagai model papan atas dan sebagai bintang iklan juga tidak di akui cucu oleh kakeknya.
"Kenapan Suci selalu saja memiliki kasih sayang dari semua orang?! Kenapa aku yang selalu saja tersingkirkan?! Suci, aku membencimu!""
Sebelumnya Sulis tidak pernah membenci adiknya sendiri, tapi kali ini ia sangat membenci adiknya yang selalu saja mendapatkan apa pun yang adiknya inginkan, sedangkan ia sendiri selalu saja tersisihkan.
Tiba-tiba saja suara pintu kamar Sulis ada yang mengetuk.
Tok-tok.
Sulis langsung membuka pintunya, di sana menampilkan kakeknya yang sedang berdiri menatapnya.
"Kakek."
Sulis langsung mencium tangan kakenya, ia tidak menyangka kalau kakeknya datang dengan sangat cepat, ia pikir kakeknya datang ke rumah itu nanti sore, tapi ternyata di luar dugaan ia, kakeknya sekarang sudah datang.
"Kakek boleh masuk?"
__ADS_1
"Silahkan kek."
Selama kakeknya pindah ke kota kelahirannya, kakeknya belum pernah masuk ke dalam kamar ia, kakeknya hanya akan masuk ke kamar adiknya.
Rendra sangat terkejut dengan ranjang cucunya yang berantakan, bahkan bantal, selimut dan sprei itu berserakan di lantai.
"Apa yang terjadi Sulis? Kamu itu sudah dewasa, masih saja bersikap seperti anak kecil."
Rendra memunguti bantal, selimut dan sepreinya, lalu ia langsung meltekannya di atas ranjang lagi.
"Kamu kenapa nak?"
Sebenarnya tanpa bertanya Rendra tau kalau cucunya sedang menyesalinya karena telah melepaskan Arkan, tapi ia sama sekali tidak tau bahwa cucunya yang membuat kekacawan di rumah tangga cucu kesayangannya, apa lagi Anisa juga tidak menceritakan tentang itu, termasuk Suci yang tidak menceritakannya.
Sulis menggeleng pelan, matanya mulai memerah, apa ia sedang bermimpi kalau kakeknya berbicara lembut padanya? Biasanya yang Sulis dengar suara tegas dari sang kake. Kakeknya hanya lembut pada adiknya saja, tapi bukan hanya ia yang di perlakukan berbeda, Reyhan, Siska dan Sisil juga di perlakuan sama seperti ia, hanya Suci yang di perlakukan dengan baik oleh kakeknya.
Seharusnya kakeknya itu memperlakukan Reyhan dengan baik, mungkin Sulis juga tidak ngiri, karena Reyhan cucu lelaki satu-satunya, di tambah lagi ke dua orang tuanya sudah meninggal, tapi kakeknya tidak pernah menyangi Reyhan seperti menyayngi Suci.
"Kake tau kamu menyesal nak, tapi sekarang Arkan dan Suci sudah sama-sama bahagia, tolong kamu relakan Arkan untuk adikmu. Kamu harus mementingkan kondisi adikmu, kakek tidak mau Suci kenapa-napa."
Hati Sulis merasakan sakit, selalu saja adiknya lagi dan adiknya lagi.
"Jangan melakukan apa pun itu, kamu harus ingat nak, kalau kamu yang melepaskan Arkan dan kamu juga yang menyuruh adikmu untuk menggantikan pernikahanmu."
"Maaf kek, Sulis tidak akan melepaskan Arkan. Sulis akan mengambil Arkan kembali, tidak peduli kalau Suci adalah adik Sulis. Sulis hanya akan mengambil milik Sulis kembali." batin Sulis
Sulis juga membalas pelukan dari kakenya, pelukan hangat yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya, dan hanya Suci yang mendapatkan posisi itu.
"Sudah, ayo duduk."
Rendra langsung melepaskan pelukannya, ia memegang tangan cucunya untuk duduk di sofa dekat ranjang.
__ADS_1
"Bagai mana pekerjaanmu? Apa selalu lancar?"
"Semuanya lancar kek."
"Bagus kalau lancar, kamu memang wanita yang sangat berbakat dengan karir."
Sulis hanya tersenyum lebar, bagi ia pujian dari kakenya itu terdengar sangat aneh, ia tidak pernah sedikit pun di puji dalam hal apa pun dari kakeknya, tapi kali ini kakeknya sedang memujinya, atau kakeknya sedang mengejek ia sekarang karena telah menyesali perbuatannya secara tidak langsung, ia juga tidak tau.
"Sulis, kake akan mengenalkan kamu dengan cucu sahabat-sahabat kakek bagai mana? Kamu bisa memilih salah satu dari mereka untuk kamu jadikan calon suami kamu. Kamu bisa kenalan lebih dulu dan mencocokan dengan kepribadianmu dan kepribadiannya, tidak perlu terburu-buru."
Sulis tidak percaya kalau sikap baik dan pujian dari kakeknya memiliki maksud tertentu, ia tidak menyangka kalau kakeknya akan menjodohkan ia dengan cucu dari sahabat kakeknya.
"Maksud kakek apa?"
"Kamu sudah pantas untuk menikah, seorang wanita tidak perlu memikirkan karir, jadi kamu bisa berkenalan dengan cucu sahabat kakek, di jamin tidak akan menyesl, mereka semua tampan-tampan dan juga pembisnis, ada juga yang sebagai dokter dan model papan atas, kamu mau yang mana?"
"Untuk sementara ini Sulis ingin fokus pada karir Sulis dulu kek. Sulis masih butuh bermain-main."
Sulis tidak mungkin menerima tawaran dari kakeknya, yang ia cintai hanya Arkan, perjuangannya untuk mendapatkan Arkan belum selsai, tidak peduli apa yang akan terjadi, ia akan selalu berusaha.
"Masih ingin main-main boleh saja, kake juga tadi bilang kenalan dulu, siapa tau ada yang cocok dari mereka."
Sulis yang mendengar ucapan dari kakeknya lagi, ia hanya menghela nafas kasar, kakeknya itu selalu saja ingin memaksakan kehendaknya sendiri, jelas-jelas ia sudah menolaknya.
Sulis langsung berdiri dari duduknya, ia langsung mengomel pada kakeknya.
"Kalau kakek datang hanya ingin menjodohkanku, lebih baik kake keluar dari kamarku! Kakek tau apa dengan keinginan Sulis? Kakek juga tidak pantas ingin menjodohkan Sulis, bukan'kah selama ini cucu kesayangan kakek hanya Suci? Suci yang selalu kakek sayangi dan kake manja, jadi kakek tidak berhak ikut campur dengan masalahku!"
Begitu pun dengan Rendra yang ikut berdiri.
"Ini lah yang kakek tidak pernah suka dengan sikapmu, kamu selalu berpikir kalau kamu bisa mendapatkan segalanya sendiri, kamu selalu memaksakan kehendak yang tidak bisa kamu dapatkan, kalau kamu tidak ingin kakek berbicara lebih baik padamu baik, mulai sekarang kamu urusi saja urusanmu sendiri, kakek tidak akan ikut campur, tapi sekali saja kamu berpikir mengacaukan rumah tangga adikmu, kake tidak akan segen-segan untuk membuatmu menderita Sulis!"
__ADS_1