
Setelah kejadian semalam, pagi harinya setelah sholat subuh Arkan mengajak istrinya untuk tidur lagi, bahkan sebelum tidur, ia menyuruh istrinya untuk minum air putih, lalu tidur dengan memakai dua bantal, sesuai yang di katakan dokter Rini semalam, ia tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi pada istrinya.
Arkan juga sengaja memeluk istrinya, walau pun berkali-kali istrinya itu mau melepaskan pelukannya, tapi ia pura-pura masih tidur dan mengeratkan pelukannya, ia takut istrinya pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Sedangkan Suci sudah kesal sediri melihat tingkah suaminya yang terus memeluknya.
" Mas Arkan ini sengaja atau bagai mana? Sepertinya tidak mungkin kalau mas Arkan tidur." batin Suci
Melihat suaminya yang lagi-lagi mengeratkan pelukannya, ia tidak percaya kalau suaminya itu tidur. Suci melirik jam yang sudah menujukan pukul 07.00WIB, ia mau tidak mau berbicara pada suaminya yang masih memejamkan mata, siapa tau suaminya itu sudah bangun.
" Mas, ini sudah siang jangan seperti ini dong, aku mau bikin sarapan, nanti pahalaku tidak bertambah."
" Jangan bikin sarapan lagi sayang, nurut sama suami pahalanya bertambah juga."
" Mas sudah bangun?"
" Hhhmmm."
Arkan masih enggan untuk membuka mata, ia semalaman pull menjaga istrinya, walau pun darah rendah terbilang biasa, tapi ia takut istrinya pingsan lagi saat mau melakukan apa pun, ia selalu ngekor di belakang istrinya, yang biasanya ia tidak pernah sholat tahajud, ia pun ikut sholat tahajud.
" Mas masih ngantuk iya?"
" Iya sayang, mangkannya jangan terus menyikirkan tangan mas, mas masih ngantuk, biarkan mas tidur sebentar."
" Iya sudah iya."
Mau tidak mau Suci hanya pasrah apa yang di bilang oleh suaminya. Arkan mencoba untuk tidur, ia sudah sangat ngantuk, tapi ucapak dokter Rini lagi-lagi mengganggu pikiranya, membuat ia tidak nyaman untuk tidur. Jam sudah menujukan pukul 08.00WIB, Arkan mau tidak mau ia membuka matanya.
" Sayang, hari ini masuk kuliah?"
" Iya mas."
" Lusa saja iya? Hari ini sayang di rumah saja."
" Tapi mas."
Suci belum sempat melanjutkan ucapannya, suaminya sudah memotong ucapannya.
" Tidak nurut sama suami itu dosa sayang."
Suci mau tidak mau hanya mengangguk pelan, sepertinya suaminya itu sedang sengaja, tapi ia juga tau kalau semua itu dosa, terpaksa ia hanya mengalah.
__ADS_1
" Sayang mandi dulu, nanti mas juga baru mandi."
" Iya mas."
Setelah istrinya masuk ke dalam kamar mandi, Arkan langsung mengambil ponselnya, ia mengaktifkan ponselnya. Arkan melihat ponselnya banyak pesan, tapi yang ia buka pesannya dari sang kake terlebih dahulu. Kake jam 2 sampai, kamu tidak perlu jemput kake ke bandara, itu lah isi pesan dari sang kake.
Arkan langsung membuka pesan dari Sulis, ia juga penasaran apa isi pesan dari Sulis, ia langsung membeca pesan dari Sulis. Arkan, aku tau mungkin aku terlambat menyadarinya, tapi aku benar-benar mencintaimu, Arkan aku rindu kamu, aku sekarang menerima keadaanmu, aku mau menikah sama kamu, jadi tolong ceraikan adikku, kita kembali seperti dulu menjadi pasangan yang bahagia. Setelah membaca pesan dari Sulis, Arkan menghela nafas kasar, enak sekali setelah membuangnya seperti sampah, di hina habis-habisan dan sekarang ingin kembali lagi?
" Wanita Gila!"
Arkan mengumpat, ia sangat kesal dengan isi pesan dari Sulis. Arkan juga tidak membalas pesan dari Sulis, ia langsung menghapus pesan itu, baginya sudah tidak penting. Sedangkan Suci mematung di tempat saat mendengar kata-kata umpatan dari suaminya, walau pun ia melihat dari samping, ia bisa melihat kalau suaminya itu sangat marah. Suci mendekati suaminya masih memakai handuk kimino.
" Mas, marah sama siapa? Siapa yang kirim pesan? Sampai-sampai membuat mas marah?"
Arkan menggeleng pelan, ia menarik tangan istrinya untuk duduk di pangkuannya.
" Mas, kalau aku duduk seperti ini kaki mas berasa tidak?"
" Tidak merasakan apa pun sayang."
Arkan langsung mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, ia bisa merasakan nafas wangi stroberi milik istrinya.
Bukan Suci tidak mau melakukannya, tapi ia baru saja mandi, subuh mandi dan sekarang mandi, tidak mungkin akan mandi lagi.
" Bukannya seorang istri itu wajib melayani suami?"
Arkan menggoda istrinya sambil tersenyum, ia hanya akan mencium bibir istrinya, tapi istrinya langsung bersuara, lagian ia mana mungkin mau melakukan itu, wajah istrinya saja masih terlihat pucat, hanya saja tidak seperti semalam.
" Iya, aku tau wajib, tapi aku sudah mandi."
Arkan langsung mencium istrinya sekilas sambil tersenyum
" Jangan mikirin bersetubuh saja Uci! Pagi-pagi sudah mesum."
" Ih mas, jangan frontal gitu berbicaranya, tidak enak di dengar di telingaku."
" Apa bedanya jima sama bersetubuh sayang? Bukan'kah artinya sama?"
Suci mengangguk pelan, artinya memang sama, tapi mungkin karena menurutnya ucapan dari suaminya itu begitu asing dan kasar, hingga ia tidak nyaman mendengarnya.
__ADS_1
" Mas mandi gih."
Suci langsung turun dari pangkuan suaminya. Arkan mengangguk pelan, ia di bantu pindah ke kursi roda dengan istrinya. Setelah suaminya masuk ke kamar mandi, Suci memakai gamis sambil tersenyum lebar, wajahnya memerah saat mengingat kejadian tadi, ia hanya berjaga-jaga takut suaminya minta pagi-pagi, tapi ternyata ia sendiri yang sudah berpikir mesum.
Setelah selsai Arkan keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Suci yang melihat perut suaminya, ia menelan ludahnya sendiri, entah kenapa dari kemarin ia selalu tergoda dengan pemandangan itu, ingin sekali ia meraba-raba. Arkan yang melihat istrinya, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Jangan mesum sayang, masih pagi."
Setelah mengatakan itu Arkan langsung pergi ke ruangan ganti, memang sudah biasa istrinya setiap hari selalu sudah meletakan baju ganti. Sedangkan Suci hanya merengis saat mendengar ucapan dari suaminya. Arkan selsai mengganti baju. Suci langsung bertanya saat suaminya mengganti baju santai, bukan baju kantor
" Ko mas masih pakai baju santai? Memang tidak ke kantor?"
" Akan ke kantor, tapi aga siangan."
Suci mengangguk pelan.
" Ayo turun mas."
" Iya sayang."
Suci langsung mendorong suaminya masuk ke dalam life. Seperti biasa Arkan selalu menyapa orang tuanya dan adik tirinya yang sudah ada di meja makan.
" Ma, pa, Indra."
Mereka hanya mengangguk pelan sambil menatap ke arah Suci. Keyla langsung mendekati Suci, ia memegang tangan kiri menantunya.
" Sayang semalam kenapa pingsan? Mama semalam mau nengokin kamu, sudah mengetuk pintu kamar kalian, tapi tidak ada jawaban dari kamar.
" Uci tidak apa-apa ma, cuma darah Uci rendah."
" Dia juga kecapean ma."
Arkan juga bersuara untuk mengadukan perihal semalam.
" Kamu itu sayang jadi suami tidak becus! Coba perhatiin istrinya, pola makannya, istirahatnya, jangan sibuk kerja mulu! Di tambah lagi istrinya di kasih toko, gimana tidak kecapean hah?! Seharusnya istrinya mau ini itu harus di larang dong! Jadi suami masih saja sipatnya seperti anak-anak, selalu saja tidak peduli!"
Semua orang yang ada di meja makan hanya mengerutkan keningnya, melihat Keyla yang mengomel, seolah-olah kecapean itu hal yang besar.
" Itu keinginan Suci ma, mana bis Arkan melarang ke inginan istri Arkan sendiri."
__ADS_1