
Kyra kembali termenung di balkon kamar, menatap ke arah pantai yang menunjukkan keindahan sorenya. Dari dalam, Andini dan Silva saling tatap. Mereka jelas tahu apa yang terjadi pada temannya itu. Keduanya pun mendekati Kyra, Andini menyentuh pundak sahabatanya itu dengan perlahan hingga Kyra menengok.
“Kalian, maafkan aku. Aku tidak bisa menunjukkan kebahagiaan saat ini.” Ucapan Kyra ditambah dengan wajah lesunya itu membuat Andini dan Silva menghela napas.
“Ky, kita lihat sunset yuk! Hotel ini dekat dari pantai, papi kamu pasti kasih izin kalau kita ke sana.” Andini mengusulkan pada temannya untuk berjalan-jalan di pantai dan melihat sunset.
Ajakan itu di sambut dengan sebuah suara berseru, itu adalah Silva yang tidak tahan lagi berada di kamar.
“Ayolah, ini liburan, bukan pemakaman,” ucap Silva yang mendapat tatapan tajam dari Andini.
Kyra pun menyetujui keinginan temannya, dia tidak bisa terus seperti ini di kamar tanpa membuat temannya bahagia. Mereka pun pergi bersama setelah Kyra meminta izin pada Dirga.
Kyra mencoba untuk bisa membaur dengan kedua temannya, merasakan kebahagiaan yang sama dengan mereka. Kedua teman Kyra yang sederhana itu memang sangat jarang bisa berlibur, sehingga aura kebahagiaan mereka terpancar begitu saja.
“Ky, lihat deh! Mataharinya hampir hilang tuh.”
Kyra tidak menjawab, tetapi hanya tersenyum dan mengangguk saja.
Di kejauhan, ada segerombolan orang yang terlihat memperhatikan Kyra dan teman-temannya. Mereka adalah Reyhan dan teman-temannya. Melihat kehadiran Kyra di pantai, membuat Reyhan tidak mengalihkan pandangan matanya dari sang gadis.
__ADS_1
“Cie … yang ketemu ayang. Uhuk!” goda Niko.
Reyhan tersenyum, tetapi ada yang mengganjal di sana.
“Sepertinya Kyra tidak tahu kita ada di sini,” sahut Jenny yang akhirnya berjalan menarik Naura untuk menghampiri gadis itu.
“Eh, eh! Jen! Ngapain?”
“Kita samperin dia. Aku kangen sama kelucuannya.”
Tidak hanya Reyhan, Jenny pun merasa kehilangan saat kelucuan Kyra yang begitu natural tidak ada di antara mereka.
Jenny berhenti di depan Kyra dan membuat gadis itu terperanjak. “Kak Jenny? Kak Naura?”
“Eh, Kyra mau dibawa ke mana?” sahut Andini yang melihat temannya dibawa dengan paksa.
“Tenang saja. Ra, bawa mereka juga gih! Kita senang-senang bersama.”
Naura yang mengerti dengan isyarat Jenny pun bergerak mendorong tubuh Andini dan Silva mengikuti mereka.
__ADS_1
Kini, mereka berada di satu area yang sama, dengan jarak yang begitu dekat. Namun, sayangnya suasana menjadi sangat canggung di sana. Kyra terdiam begitu tubuhnya didekatkan pada Reyhan.
“Ky, enjoy ya! Jangan memikirkan yang lain, kita di sini mau senang-senang.” Jenny menjadi pawang kecanggungan di sana.
“Iya, Ky. Kasihan tuh yang disebelahmu, sudah beberapa hari ini manyun saja. mana badannya kelihatan kurus karena kurang asupan,” sahut Niko yang mendukung istrinya.
Reyhan menghela napasnya perlahan, lalu berusaha untuk tetap tenang dan membuat Kyra tidak terganggu atas kehadirannya di sana.
“Jika kamu merasa tidak nyaman, kamu bisa pergi. Tidak akan ada yang memaksamu," ucapnya berusaha tersenyum. Reyhan tidak ingin Kyra merasa tidak nyaman karenanya, terlebih setelah kejadian beberapa jam yang lalu.
“Mereka sedang menikmati masa liburan. Aku tidak mau egoku membuat mereka kembali terkurung.” Kyra duduk di samping Reyhan, menikmati sunset bersama pria itu dengan meja kecil sebagai pemisah.
“Indah dan menenangkan bukan?” tanya Reyhan memastikan Kyra menikmati keindahan sore ini.
Reyhan mencoba mengajak Kyra berbicara seakan masalah tidak ada diantara mereka, semua itu hanya untuk menutupi hatinya yang merasa sedih jika harus kehilangan Kyra. Apa pun yang terjadi, Kyra akan tetap menjadi miliknya dan Reyhan tidak akan menyerah, Reyhan tetap akan bersikap sebagai pacar Kyra karena memang itulah kenyataannya, terlepas dari dapat atau tidaknya restu dari Dirga, saat ini Reyhan tetap pacar Kyra.
“Ya, kamu benar. Sayangnya … suasana ini hadir di antara jarak yang membuat kita tidak bisa bersatu.”
“Sayang, percayalah aku hanya ingin bersamamu. Akan kuperjuangakn cinta ini, aku akan membuktikannya."
__ADS_1
“Jangan terlalu banyak berjanji jika kamu tidak bisa menepati. Sungguh, itu adalah beban yang membuatmu menjadi pribadi penuh alasan.”
Reyhan terdiam sejenak mencoba mencerna ucapan Kyra. Tiba-tiba saja dia tersenyum dan berkata, “Aku semakin mencintaimu. Setiap waktu berjalan, maka semakin bertambah juga rasa yang aku miliki untukmu. Aku yakin akan cintaku dan cintamu. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk melewati setiap rintangan yang ada. Cukup percaya padaku." Reyhan menyentuh tangan Kyra dan menggenggamnya.