
Hening sejenak. Kyra masih saja diam saat Kyra bingung harus berkata apa, sebab pikirannya sedang berkecamuk. Semua hal terlebih lagi tentang Reyhan berputar di kepalanya dan itu membuat Kyra merasa pusing.
"Tinggal lah bersama papi atau mamimu. Setidaknya ada yang akan selalu menjagamu," ucap Dirga kembali mencoba peruntungannya berharap Kyra mau tinggal bersamanya.
Dulu saya saat kalian berdua masih bersama, kalian tidak dapat menjagaku. Hanya bu Wardah yang selalu setia bersamaku. Batin Kyra menjawab.
"Papi, sekarang sudah malam, Papi lebih baik istirahat. Kyra Antarkan ke kamar, ya?" ajak Kyra, berusaha untuk segera terbebas dari situasi mencekam ini. Dia takut jika berlama-lama di sini akan membuatnya ketahuan jika dirinya sudah mengarang cerita. Kyra bukan perempuan yang pandai berbohong, alhasil dia merasa sangat was-was sekarang.
Siapa pun pasti pernah mengalaminya? Benar-benar bingung dan takut ketahuan.
"Kamu saja duluan, Papi mau menelepon seseorang dulu," balas Dirga kemudian tersenyum hangat pada gadisnya.
Kyra perlahan mengangguk, "Ya sudah, Kyra duluan. Papi jangan lama-lama teleponnya, harus segera istirahat. Papi belum benar-benar sehat," pungkas Kyra yang pada akhirnya langsung bergegas pergi setelah dibalas anggukan oleh Dirga.
__ADS_1
Namun, langkah kakinya terhenti ketika di mendengar Dirga tampak marah kepada orang yang berbicara dengannya di telepon itu. Kyra kembali mundur dan bersembunyi di balik pintu kaca supaya bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Papi.
Entahlah, kenapa tiba-tiba dia merasa penasaran sekarang. Jarang-jarang Kyra melihat Dirga marah-marah seperti itu melalui telepon. Jarang-jarang juga dia merasa ingin tahu dengan apa yang terjadi. Biasanya Kyra selalu tak acuh dan bodo amat, tapi saat ini Kyra merasa jika itu semua mungkin saja ada hubungannya dengan dirinya.
"Kenapa kalian tidak becus menjaga Kyra?" Dirga membentak orang yang dia teleponĀ
DEG!
Kyra benar-benar membelalakkan kedua matanya. Dia kaget. Rupanya Dirga sedang menelepon seseorang untuk membicarakan Kyra. Dugaannya benar. Apa yang mereka bicarakan? Kyra semakin penasaran, dia berjalan tiga langkah ke depan lalu berdiri di balik pot besar yang hampir seukuran badannya jika Kyra berjongkok. Di sana dirinya merasa aman dan dia bisa mendengar obrolan papinya dengan cukup jelas.
"Perketat keamanan! Jangan sampai kesalahan kembali terulang. Aku tidak mau anakku lecet sedikit pun! Jika sampai kembali terulang, kupastikan kalian tak akan menjadi pengawalnya lagi. Dan tidak akan mendapatkan pekerjaan di mana pun itu," sambung Dirga mengancam.
Kyra hampir saja berteriak kaget karena refleks. Untung saja kedua tangannya langsung bergerak menutupi mulut hingga suara itu tidak terdengar jelas.
__ADS_1
"Jadi, orang-orang aneh yang selalu terlihat membuntutiku itu suruhan Papi? Selama ini aku pikir itu semua hanya perasaanku saja, ternyata semua itu benar," gumam Kyra pelan.
"Ya ampun, bagaimana jika Papi tahu kalau tadi aku berbohong mengenai kejadian danau? Bagaimana jika para pengawal tahu mengenai masalahku dengan Reyhan? Ah, Kyra! Bodoh sekali kamu!" Kyra tak henti-hentinya memaki diri sendiri, dia merasa sangat bimbang sekarang.
"Kalian cari pengawal tambahan! Aku harap dengan makin banyak pengawal, Kyra makin aman! Tapi ingat! Tetap berhati-hati jangan sampai siapa pun curiga terutama Kyra," pungkas Dirga sebelum dia menutup panggilan teleponnya.
Melihat Dirga hendak kembali ke dalam, membuat Kyra langsung lari pontang-panting supaya tidak ketahuan. Dia segera masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan duduk di bibir kasur sembari menetralkan napasnya yang terasa berat dan panas.
Kyra tak habis pikir, ternyata Dirga sampai seperti itu. Di sisi lain Kyra senang dan terharu karena diam-diam Papi sangat perhatian dan selalu ingin menjaga Kyra meski dia sudah tak lagi memberikan kasih sayang yang banyak untuknya. Namun, di sisi lain dia merasa takut dan terkekang karena pasti yang dilakukannya akan selalu dilaporkan oleh pengawal kepada Dirga.
Bagaimana jika pengawalnya tahu mengenai masalah dirinya dan Reyhan? Pasti mereka akan langsung memberitahukan yang sebenarnya pada papinya.
Ah! Kyra benar-benar stres. Dia sangat menyesal karena telah mengarang cerita. Karangannya itu justru malah semakin menambah runyam masalah yang dia hadapi.
__ADS_1
"Kyraaa! Kenapa kamu jadi bego seperti ini, sih?" pekiknya sembari memukul-mukul permukaan kasur yang sama sekali tidak salah.
"Aku harus bagaimana nanti?" tanyanya.