Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Jangan Dekat Dengan Pria Lain


__ADS_3

Beberapa kali Kyra menghirup oksigen dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu mencoba untuk menenangkan pikirannya setelah mendengar ucapan Reyhan yang mengatakan mereka resmi berpacaran. Sementara Reyhan mulai bermanja-manja dengan mendekatkan tubuhnya pada Kyra, menyandarkan kepalanya di bahu Kyra.


“Om, tolong jangan seperti ini!” ucap Kyra yang jelas merasa risih dengan sikap Reyhan.


“Eh, kok masih panggil Om?” Reyhan tak terima dengan panggilan Kyra padanya.


“Ya terus apa? Daddy? Pak Tua mesum?” jawab Kyra, bertanya.


“Ternyata sudah jadi pasangan pun mulutmu masih perlu belajar lagi. Benar-benar pedas," cibir Reyhan.


“Kenapa? Om …tidak suka dengan sikapku yang seperti ini? Om bisa kok berpikir ulang untuk menjalin hubungan denganku.”


Ucapan Kyra seakan sebagai ancaman. Alih-alih ingin menegaskan bahwa tanpa hubungan itu, dia akan baik-baik saja, Kyra bersikap biasa saja saat Reyhan menjawabnya.


“Kamu pikir aku ini anak muda yang mudah terpancing emosi? Hum … jangan membuatku ingin terus menggodamu, Kyra ku. Seperti yang pernah aku katakan, aku akan mengikuti caramu. Katakan jika ada yang tidak kamu sukai, aku akan coba mengimbanginya,” ucap Reyhan.


“Baiklah, itu bagus. Du mulai dari tolong jaga sikap Om," Kyra mendorong pelan tubuh Reyhan agar tidak menempel padanya.


"Jadi, begini ya, Om. Aku akan menjelaskan mengenai jalannya hubungan ini. Aku tidak mau siapa pun tahu mengenai hubungan kita, terutama orang tuaku. Om tidak boleh memperkenalkan aku pada siapa pun itu. Om harus bersikap biasa, seakan tidak ada hubungan spesial di antara kita. Bagaimana?”


Reyhan terdiam sejenak, pikirannya sedang mencerna apa yang dikatakan Kyra.


“Baiklah. Jadi, aku hanya bisa bersikap seperti ini jika hanya ada kita berdua?” Reyhan kembali mendekatkan dirinya pada Kyra.

__ADS_1


Semakin dekat posisi pria itu hingga membuat Kyra merasa tidak nyaman dan mencoba untuk menjaga jarak. Sayang, apa pun yang dilakukan Kyra di sana, seakan tidak ada gunanya, Reyhan selalu berhasil membalikkan keadaan, meski pria itu sendiri yang mengatakan akan menurutinya.


"Aku punya dua orang teman, aku ingin merrka mengenalmu, sama seperti kamu yang punya dua orang teman," ucap Reyhan yang teringat pada dua sahabatnya, Reyhan tidak akan bisa merahasiakan itu dari mereka.


"Baiklah. Hanya mereka, selebihnya tolong berpikir sebelum berbicara dan bersikap, jangan sampai menimbulkan masalah di masa depan, terutama mengenai orang tuaku," ucap Kyra lagi yang sudah tidsk tahu harus bagaimana, sebab status mereka sudsh resmi pacaran, sekali pun Kyra sudah berusaha menolak sebelumnya.


Reyhan pun menyetujui syarat dari Kyra. Pria itu bersiap untuk kembali berkutat pada pekerjaannya, tetapi sebelum melanjutkan kegiatannya, Reyhan memiliki pesan untuk Kyra yang wajib dia ikuti.


“Giliranku lagi, Sayang. Sebelum aku kembali bekerja, aku ingin mempertegas mengenai hubungan ini. Jika kamu tidak setuju masalah publikasi. Aku juga memiliki syarat lain yang melarangmu untuk bertemu atau berdekatan dengan pria mana pun. Apa kamu mengerti?”


Kyra menepuk dahinya dengan keras hingga mengeluarkan suara. Ternyata Reyhan tidak begitu saja membuat hubungan itu menjadi lebih rumit.


“Baiklah, Om. Sekarang waktunya bekerja. Bukankah Om memiliki banyak laporan yang tertata rapi di meja kantor? Kenapa masih bertahan di sini?”


“Kenapa? Bukankah kamu yang membuatku bertahan, Sayang?”


"Jangan marah, marahmu membuatku semakin lapar," ucap Reyhan menggoda.


Reyhan bangkit berdiri bersiap untuk pulang, melihat Reyhan yang sudah berdiri membuat Kyra merass lega, tetapi tanpa di duga pria itu tiba-tiba menunduk, menarik tengkuknya dan mengecup sekilas bibir Kyra, membuat mata Kyra terbelalak syok dengan sikap Reyhan yang terlalu berani melakukan itu di rumah Kyra.


"Aku pergi bekerja dulu, Sayang. Kamu istirahatlah." Melihat Kyra yang masih terdiam, Reyhan kembali mendaratkan satu kecupan di dahi Kyra, setelah itu beranjak pergi dari sana.


Kyra dengan cepat menatap ke sekitarnya, berharap apa yang terjadi barusan tidak ada yang melihatnya, setelah di rasa aman, Kyra berlari naik ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah perdebatan selesai dan Reyhan benar-benar kembali ke kantor. Meninggalkan Kyra yang kini lebih nyaman saat sendirian di kamar.


“Argh! Kenapa jadi begini? Semakin sulit saja hidupku!” gerutu Kyra yang tidak menerima keputusan itu, tapi tanpa sadar kecupan Reyhan di bibirnya membuat Kyra menyentuh bibirnya.


"Astaga, apa yang aku pikirkan?" ucapnya lagi menggelengkan kepala.


Kepalanya terasa berat saat memikirkan banyak kemungkinan buruk di antara mereka. Tidak hanya karena status Reyhan, usia pria itu bisa membuat orang tua Kyra kembali mengalami penurunan kesehatan.


“Jadi, apa yang harus aku katakan pada Dinda? Keputusan ini bisa saja membuatnya mengirim bom waktu yang bisa membunuhku kapan saja. Argh! Belum lagi kalau kami bertemu tanpa disengaja, pasti banyak pertanyaan yang muncul dalam pertemuan itu, dan berakhir tragis untukku.”


Kyra mengomel tanpa henti, mengungkapkan banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi dalam hidupnya. Sampai akhirnya, rasa lelah menyelimuti tubuhnya. Dia menjatuhkan badannya ke tempat tidur, meraih boneka beruang untuk dipeluk. Namun, bukannya nyaman, Kyra justru melihat wajah Reyhan pada bonekanya. Sontak hal itu membuat Kyra membuang boneka tersebut ke sembarang arah.


Kenapa bonekanya jadi mirip dia? Batin Kyra.


Sekali lagi, Kyra merasa ada yang aneh dalam dirinya. Apa jangan-jangan Reyhan menhipnotis dirinya sehingga bisa membuat kyra tidak fokus? Ternyata masih banyak lagi kemungkinan ketika mereka berbincang bersama tadi.


Bisa-bisanya Kyra tidak berpikir dengan matang untuk keputusan menjalin suatu hubungan?


Rasa-rasanya umpatan dan hinaan yang terucap dalam hati lebih cocok dengan hinaan untuk Kyra.


“Pak Tua mesum itu pasti sedang berteriak kegirangan sekarang. Dan aku? Semakin bodoh dalam belenggu yang kubuat sendiri!”


Kyra menenggelamkan wajahnya pada bantalan yang ada di tempat tidur. Mulutnya berteriak, tetapi tertahan oleh bantalan. Saat kembali muncul, wajah Kyra memerah.

__ADS_1


“Satu lagi! Kenapa aku bisa-bisanya tidak memikirkan tentang orang tuaku? Bagaimana jika papi tiba-tiiba saja bertanya siapa Reyhan? Lalu … bagaimana jika mami tiba-tiba saja peduli dengan hubungan kami?”


Astaga! Apa ini Tuhan? Batin Kyra.


__ADS_2