
Sudah hampir satu jam sejak Reyhan berada di sana. Beberapa menit telah berlalu, di antara mereka tidak ada yang bersuara. Bahkan, Reyhan terlihat sibuk membalas pesan masuk di ponselnya. Sedangkan Kyra hanya menatap malas pada pria di dekatnya. Kyra sudah tidak tahu harus berkata apa pada Reyhan, karena apa pun yang dia ucapkan akan selalu mendapat jawaban dari Reyhan.
Dia bahkan dengan santainya duduk di sini bermain ponsek seolah-olah ini adalah rumahnya. Batin Kyra.
Pikiran Kyra sedikit terganggu dengan beberapa perkataan ayahnya tentang menjalin sebuah hubungan. Kyra melirik Reyhan beberapa kali, lalu berpikir bagaimana bisa dia mengenal seorang duda yang kini tergila-gila padanya. Sungguh sebuah kesialan sekaligus keberuntungan, mungkin.
Tatapan mata Kyra tampak kosong, mengarah ke sudut lain rumah itu. Keberadaannya di rumah sang ayah beberapa waktu lalu, membuat Kyra kembali teringat dengan hubungan orang tuanya yang hancur. Kejadian itu membuat Kyra berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Teringat dengan ucapannya pada sang ayah, Kyra berpikir untuk kembali mengingatkan Reyhan tentang bagaimana mereka bertemu. Kyra tidak ingin ayahnya berpikiran buruk tentang dirinya hanya karena kedekatan itu.
Melihat wajah Reyhan saja orang-orang bisa menebak jarak usia mereka. Apalagi wajah Kyra yang begitu cantik dan tidak terlihat telah menuju kedewasaan meskipun body nya begitu cocok untuk wanita dewasa.
Setelah beberapa menit hening, akhirnya Reyhan meletakkan ponselnya kembali. Matanya menatap Kyra yang kini ada di dekatnya. Perasaan rindu meski hanya satu hari tak bertemu, membuat Reyhan ingin sekali memberikan hukuman pada gadis kecil itu. Terlebih setelah mengingat jika Kyra menerima tamu pria.
Dia terlihat sangat kesal padaku. Ini hanya permulaan, nanti kamu pasti akan sangat menempel padaku. Batin Reyhan percaya diri.
“Sayang, maaf aku mengabaikanmu. Jadi … kenapa kamu terlihat seperti memikirkan sesuatu? Ceritakan padaku!" ucap Reyhan.
“Tolong dengarkan aku. Ingat apa yang harus dikatakan jika bertemu dengan papiku? Aku harap Om mau menjelaskan bagaimana kita bertemu seperti ini, jadi … kita bertemu karena Om menolong aku saat ada seseorang yang mau mencelakaiku. Bagaimana? Om bisa menjelaskan itu pada papi jika bertemu dengan papi?" ucap Kyra berharap Reyhan dapat bekerja sama, sekaligus mengalihkan pembicaraan dari pembahasan tentang pasangan.
Entah mengapa ada firasat buruk saat kalimat terakhir dikatakan Kyra. Gadis itu merasa ada sesuatu yang akan terjadi saat Reyhan menyeringai menjawab keinginannya.
“Jadi, kamu mau aku mengatakan itu kepada ayahmu?” tanyanya.
“Ya, jika tidak … Papi bisa marah," jawab Kyra.
“Baiklah—“ ucap Reyhan setuju.
__ADS_1
“Benarkah? Om mau membantuku dengan mengatakan hal itu?” Mata Kyra berbinar mendengar jawaban Reyhan.
Namun, kenyataan tidak seindah yang Kyra bayangkan. Reyhan memanfaatkan keinginan Kyra itu untuk mengambil keuntungan tentang hubungan mereka.
“Jadi, kita bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih setelah ini, bukan?”
Sontak wajah Kyra berubah dari ceria jadi cemberut. Gadis itu seakan menerima kesialan bertubi-tubi saat mendengar syarat dari Reyhan.
“Anda memang menyebalkan ternyata.”
“Ayolah, tidak ada yang gratis di dunia ini, Sayang. Apalagi yang kamu inginkan memiliki dampak yang begitu besar untuk hubunganku dengan orang tuamu ke depan.” Reyhan berbicara dengan mencubit gemas dagu Kyra.
Kyra kembali menahan dirinya untuk tidak menyumpah serapah di depan pria itu. Bagaimanapun Kyra ingin menjaga sikap meihat pria itu jauh lebih tua darinya. Tidak sopan namanya jika kembali berkata kasar, karena hanya akan menambah dosa nya sebab Reyhan juga tidak akan peduli dengan sikapnya. Pikir Kyra.
Reyhan tersenyum dalam hati, sepertinya akan ada perayaan atas kemenangan hari ini. Reyhan tidak sabar menunggu jawaban ‘setuju’ dari Kyra untuk hubungan mereka.
“Tidak, aku belum memutuskan, Om. Jadi, jangan memutuskan secara sepihak!”
“Baiklah, itu terserah padamu, jika saja ayahmu ada di sini sekarang, bagaimana jika aku langsung saja mengatakan bahwa aku menginginkan anaknya?”
“Astaga! Om! Memangnya Om mau disebut sebagai pedofil?”
“Hei, usiamu bahkan sudah tujuh belas tahun lebih, itu tidak akan mempengaruhi sebutan yang kamu katakan.”
Benar saja, usia Kyra tidak lagi di bawah tujuh belas, tetapi tetap saja Kyra tidak ingin ayahnya berpikir buruk tentang anaknya. Ya … meski Reyhan adalah sosok pria yang cukup tampan di mata Kyra. Namun tetap saja status Reyhan sedikit banyak akan berdampak buruk padanya.
“Waktuku masih banyak untuk menunggu keputusanmu, tetapi … apa kamu memiliki banyak waktu untuk memutuskan sebelum aku bertemu dengan ayahmu?” tanya Reyhan mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
“Bisanya hanya memanfaatkan keadaan," dengus Kyra kesal.
Reyhan terkekeh melihat wajah lucu Kyra. Pria itu merasa menang dengan skor sempurna. Lagi-lagi, Kyra terdiam dan melamun meski pun sempat menggerutu. Kyra berpikir seperti ada banyak hal yang muncul dalam pikirannya, dan semua itu tertebak dengan baik oleh Reyhan.
“Jadi, kamu sedang menimbang semua ini? Apa kamu memikirkan suatu akibat dari hubungan kita? Hum … sepertinya kamu memerlukan sebuah pencerahan, Sayang.”
Reyhan mendekat pada Kyra, tetapi gadis itu bergerak menghindar.
“Baiklah, aku akan memberikan sebuah contoh kecil padamu. Apa kamu pernah mendengar hubungan yang begitu aneh dari pasangan yang memiliki perbedaan usia? Aku yakin, kamu pernah melihat atau mendengar tentang hal ini. Hubungan itu terjalin karena perasaan yang kuat di antara keduanya.”
Belum sempat Reyhan melanjutkan ucapannya, Kyra mengatakan bahwa kedua pasangan itu memiliki perasaan yang sama, tetapi tidak dengan mereka.
“Asal Om tahu, di sini hanya Om yang memiliki perasaan itu. Sementara aku? Aku tidak memiliki perasaan pada pria yang jauh lebih tua dariku,” ucap Kyra dengan yakin.
“Benarkah? Apa kamu yakin dengan ucapanmu? Kamu tidak takut karma dan tiba-tiba saja jatuh hati padaku serta tidak ingin jauh-jauh dariku.” Reyhan kembali terkekeh melihat ekspresi wajah Kyra mendengar ucapannya.
Sementara hati Kyra sedang bergelut dengan janjinya pada Dinda—mantan Reyhan. Kyra berjanji akan menjauhi Reyhan, tetapi saat ini justru mereka semakin dekat dengan permintaan yang Kyra inginkan.
Apa yang harus kulakukan dengan pria ini? Kenapa dia tidak menyerah denganku? Sungguh membuat keputusan ini menjadi berat. Jika aku tidak menolak dan menjauhinya, betapa bersalahnya aku pada wanita itu. Batin Kyra dengan wajahnya yang begitu memelas.
Reyhan menyadari apa yang terjadi pada gadis kecil itu dan tiba-tiba saja mengangjat tanganya menyentuh wajah Kyra. “Hei, apa sangat berat untuk menjawab?” ucapnya dengan lembut menangkup kedua pipi Kyra.
Maaf ya guys kalau sikap Reyhan mungkin terlalu alay menurut kalian. Tolong selalu dukunganya, kritik saran boleh, tapi tolong dengan bahasa yang tidak menyakiti ya kak.
__ADS_1