
Suara Dirga terdengar menakutkan dari seberang sana, membuat Kyra panic setengah mati. Buru-buru Kyra meraih sandal, dan merapikan pakaiannya yang kotor karena pasir pantai. Di depannya, Reyhan terlihat masih bersantai dan tidak bergerak dari tempatnya.
Kyra yang sadar jika Reyhan bahkan tidak sepanik dirinya, mulai menarik tangan Reyhan untuk segera pergi dan pulang ke rumahnya.
“Kita harus cepat pulang! Papi ada di rumahku," ulang Kyra tampak bingung.
Reyhan menahan tangan Kyra dan menyuruh kekasihnya itu untuk tetap tenang. Reyhan menakup kembali wajah Kyra lalu berkata, “Tenang. Jika kamu pulang dalam keadaan seperti ini, aku yakin papimu akan semakin mencurigaimu.”
Kyra pun berusaha untuk tenang dengan bantuan Reyhan.
Setelah mendapat ketenangan, Kyra pun mulai berkata pada Reyhan untuk segera mengantarkannya pulang. Namun, kali ini Reyhan sungguh ingin menggoda kekasihnya dengan tujuan bertemu Dirga. Sontak permintaan Reyhan mendapat penolakan dari Kyra.
“Aku akan menemui Tuan Dwayne di rumahmu, bukankah ini akan menjadi hal yang menarik?” Reyhan semakin menggoda Kyra hingga membuat gadis itu emosi.
“Kalau Om berani ketemu papi dan mengatakan tentang hubungan kita, aku pastikan Om nggak akan bisa bertemu aku lagi. Aku akan melanjutkan studi ke luar negeri dan menjauh dari Om,” ancam Kyra sembari menghentakkan satu kakinya karena kesal.
Reyhan terkekeh mendengar ancaman kekasihnya. Bahkan, perdebatan itu cukup lama hingga Kyra sadar bahwa Reyhan hanya memperlambat dirinya untuk bisa kembali ke rumah dengan segera.
“Please! Aku harus pulang, jangan buat aku semakin takut. Om tidak mengenal Papi," ucap Kyra memelas.
“Oke, aku antar kamu pulang. Tapi tetap saja kan? Papimu pasti bertemu denganku.”
“Tidak! Tidak seperti itu, setidaknya Om turunkan aku di dekat rumah, dan aku bisa menggunakan taksi sampai rumah.” Kyra tiba-tiba saja memiliki ide untuk tidak turun dari mobil Reyhan sesampai di rumah.
"Jika Om keberatan, maka sekarang aku akan mencari taksi, itu lebih baik." Kyra bersiap pergi tapi Reyhan menahannya.
“Aku tidak akan membiarkan itu. Menurunkan kekasihku di pinggir jalan sama sekali bukan sikapku, tapi ternyata gadis kecilku ini nakal.” Tatapan mata Reyhan sangat menggoda Kyra.
“Sudahlah! Aku seperti ini juga bukan karena kebaikanku, tetapi juga karena Om. Memangnya Om mau hubungan ini selesai di hari kedua? Hm?” Seperti biasa, Reyhan selalu berhasil membuat Kyra kelabakan dengan tingkahnya.
Reyhan lagi-lagi tertawa mendengar ucapan Kyra yang memang benar. Gadis pandai itu terlihat berpikir dengan alasan apa yang akan diambilnya setelah sampai di rumah.
Mereka pun berada di mobil dan Reyhan kembali mengemudikan mobilnya. Selama perjalanan, Dirga masih terus menghubungi putrinya dan membuat Kyra semakin panik. Gadis itu tidak ingin sebuah masalah membuatnya tidak bisa kembali bebas.
“Angkat teleponmu, ucapkan dengan tenang keberadaanmu.”
“Baiklah," jawabnya.
Kyra menggeser layar ponselnya dan menerima panggilan telepon dari Dirga.
“Iya, Pi. Masih di jalan ini, macet.”
__ADS_1
“Kamu di mana? Kenapa lama sekali?”
“Papi... Bukan salahku. Jalanan macet, lagi pula kenapa Papi tidak kasih kabar dulu kalau mau ke rumah?” ucap Kyra membuat Reyhan yang mendengar berusaha menahan tawanya.
“Ditanyain orang tua kenapa balik tanya?”
“Yang jelas, Kyra ada di jalan, Pi. Sebentar lagi sampai, tunggu ya?”
Panggilan berakhir begitu saja, Kyra mengelus dadanya sembari melirik Reyhan dari ekor matanya. Pria itu tengah tersenyum kecil mendengar perbincangannya di telepon dengan Dirga—ayah Kyra.
Perasaan Kyra kembali tidak tenang saat berpikir, bagaimana jika ada salah satu pelayannya yang mengatakan apa yang terjadi pada Kyra dan Reyhan?
“Argh! Aku nggak bisa bayangin muka kesal papi dan aku benci dengar omelan tentang keburukan.” Kyra mengeluarkan isi hatinya tanpa sadar.
Reyhan yang mendengarkan hal itu merasa ada yang tidak baik pada diri Kyra. Tentang apa yang sudah dilakukan orang tuanya selama ini.
“Sayang, hei. Tenang, kuncinya kamu harus tenang. Okay?”
Kyra mengangguk dan menatap jalanan di depannya. Saat mobil Reyhan menepi, Kyra bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Reyhan kali ini?
“Kok berhenti? Kenapa enggak jalan?” tanya Kyra ingin tahu.
“Kamu bisa lihat dulu, di mana kamu berada?”
“Sayang, itu taksi yang akan mengantarkanmu sampai rumah. Hati-hati, aku akan menghubungimu setelah sampai di rumah.”
“I-iya, terima kasih,” ucap Kyra, akan turun, tapi Reyhan menarik tangannya.
"Om...," cicit Kyra.
Reyhan menarik tengkuk Kyra, mengecup sekilas bibir Kyra yang ingin meneriakinya, tetapi sadar tak ada waktu untuk itu. "Tetaplah bersikap tenang," ucap Reyhan sebelum Kyra benar-benar keluar dari mobilnya.
Pintu mobil terbuka, Kyra turun dari sana dan berpindah pada mobil taksi yang sudah disiapkan Reyhan selama perjalanannya.
Melihat kepergian Kyra, Reyhan hanya bisa membayangkan bagaimana wajah panic Kyra yang begitu lucu dan menggemaskan. Rasa-rasanya Reyhan tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menerkam gadis itu.
"Bibirnya membuatku candu," gumam Reyhan menggelengkan kepalanya sendiri saat mengingat jika Kyra masih sangat muda.
Di sisi lain, jantung Kyra terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan, dia merasa akan terkena serangan jantung jika sang ayah mengajukan peranyaan-pertanyaan yang tidak diinginkan.
Taksi yang membawa Kyra berhenti di depan gerbang rumahnya. “Ini, Pak.” Kyra menyodorkan sejumlah uang.
__ADS_1
“Tidak perlu, Non. Tadi sudah dibayar sama pacarnya,” ungkap supir taksi.
Kyra mengangguk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Langkahnya kini menuju rumah yang masih tertutup gerbangnya. Saat sampai di pintu kecil yang ada di samping gerbang, seorang keamanan menyapanya dengan ramah.
“Selamat datang, Non. Kok sendirian?”
“Iya, temennya sudah balik, Pak. Papi mana?”
“Ada di dalam, sedang interogasi semua pelayan buat cari tahu, Non Kyra ke mana."
“Ih, masak sih? Jadi, Papi tanya apa saja?”
“Ke mana Non pergi, sama siapa? Seperti itu lah, Non.”
“Oke, makasih, Pak.”
Kyra melanjutkan langkahnya hingga sampai di pintu rumah. Saat itu Dirga mengucap syukur karena anaknya sudah datang. Tetapi ada yang aneh dengan sikap Dirga kali ini. Bukannya menyapa Kyra, Dirga mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman rumah, mencari tahu siapa yang mengantarkan anaknya kembali pulang.
“Di mana dia?” tanya Dirga.
Kyra mengerutkan dahinya, seakan tidak tahu siapa yang dimaksud Dirga, Kyra pun bertanya. “Siapa, Pi?”
“Siapa? Siapa lagi yang antar kamu sampai rumah ini?”
“Oh, supir taksi? Mana aku tahu nomornya, Pi!”
“Kamu pergi sama siapa? Kenapa naik taksi?”
“Kyra baru saja pulang dari cari kado untuk keponakannya Andini. Jadi, keluar bersama Silva dan Andini. Kita jalan-jalan di Mall.” Kyra bersikap sangat tenang seperti yang dikatakan Reyhan.
Rupanya memang benar apa yang dikatakan Reyhan tentang ketenangan. Siapa pun akan panik saat hubungan tersembunyinya diketahui, kali ini Kyra sangat beruntung memiliki pemikiran yang cepat tentang persiapan menghadapi ayahnya.
“Yakin? Kamu tidak berbohong, kan?”
“Kalau Papi tidak percaya sama Kyra, lebih baik Papi telepon saja Andini.”
Tanpa banyak bicara, Dirga meraih ponselnya dan menekan nomor Andini. Di depan ayahnya, Kyra tampak santai tak menunjukkan kecurigaan.
“Halo, Andini? Ini Om, Papinya Kyra.” Dirga pun membuktikan bahwa ucapannya tidak omong kosong belaka.
“Eh, iya, Om. Ada apa ya?” jawab Andini di seberang sana dengan ekspreri yang tak terlihat.
__ADS_1
“Begini, apa Kyra pergi bersama kamu hari ini?” tanyanya.