
Reyhan kembali ke kantor setelah pertemuannya dengan Kyra. Perasaan pria itu tengah bahagia karena hubungannya dengan Kyra telah resmi sebagai pasangan. Reyhan tidak ingin memendam sendiri kebahagiaan itu, dia pun menghubungi teman-temannya untuk berkumpul seperti biasa.
Reyhan menghubungi Sean untuk memastikan posisi temannya itu, ada di mana?
Sambungan telepon terhubung, Reyhan menjelaskan pada Sean tentang keinginannya berkumpul bersama teman-temannya.
“Apa kamu ada waktu? Sudah lama kita tidak berkumpul, bukan?” tanya Reyhan di telepon.
“Cih, bahasamu. Kemarin kita baru bertemu," cibir Sean. "Aku di rumah, istriku sedang tak sehat, ada apa? Tidak biasanya kamu mengajak kami untuk berkumpul. Bukankah kamu selalu sibuk akhir-akhir ini?” sambung Sean seakan heran dengan permintaan Reyhan.
“Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian, baiklah aku akan ke sana.”
“Ke mana?” tanya Sean yang tak tahu tujuan Reyhan.
“Tentu saja ke rumahmu. Astaga!”
“Baiklah," ucap Sean terkekeh.
Reyhan segera beranjak dari kantornya dan langsung mengemudikan mobil untuk menuju rumah Sean—sahabatnya.
Selama perjalanan, pikiran tentang berkumpul bersama pun muncul. Kala itu, Maria lah yang menemaninya saat bertemu dengan mereka. Reyhan tidak pernah tidak mengajak Maria saat dirinya sedang ingin bercengkerama bersama para sahabatnya.
Pikiran itu kembali membuat Reyhan kembali teringat masalalunya. Benar saja, dalam diri Reyhan sadar bahwa bayangan Maria terlalu tertanam di pikirannya. Reyhan hanya berharap, setelah hubungan dengan Kyra berhasil, dia ingin segera melupakan masalalunya.
Setidaknya, Kyra bisa mengalihkan perhatian Reyhan untuk tidak mengingat Maria lagi.
Akhirnya, mobil Reyhan memasuki halaman rumah Sean. Pria itu melihat mobil lain yang terparkir di sana. Siapa lagi kalau bukan Niko. Pasti Sean yang menghubungi temannya itu untuk datang, pikir Reyhan.
Langkahnya mulai memasuki teras rumah, lalu tangannya menekan bel pintu. Suara dari dalam pun terdengar di telinga Reyhan, itu adalah Sean yang berlari untuk membuka pintu.
“Sudah datang ternyata, masuklah! Ada Niko dan Jeni di dalam. Mereka juga baru saja datang,” jelas Sean.
“Kamu memberitahu dia?”
“Tidak, ini sebuah kebetulan saja, Rey. Niko dan Jeni datang untuk menjenguk Naura. Mereka memang sudah berencana sejak kemarin. Ayo masuk! Mereka sudah menunggu.”
__ADS_1
Reyhan kembali melangkah mengikuti Sean yang semakin masuk ke rumahnya.
“Rey, akhirnya kita ketemu lagi setelah sekian abad. Bagaimana kabarmu?” sapa Niko meledek, sembari mengulurkan tangannya dan memeluk sekilas Reyhan.
“Baik, teman seabad." balas Reyhan tertawa. "Bagaimana dengan kalian? Di mana jagoanku?” tanya Reyhan pada Niko.
“Mereka bersama orang tua Jeni, kami datang kemari untuk menjenguk Naura saja. Jadi, kamu ingin bertemu dengan teman-teman seperti dulu? Kapan?” Niko yang sudah tahu maksud Reyhan langsung menembak pertanyaan.
“Hei, biarkan dia duduk dulu untuk menjelaskannya! Kenapa kamu sangat bersemangat hingga lupa siapa tuan rumah di sini.” Jeni yang melihat tingkah suaminya mengomel dan membuat Niko menarik tangan Reyhan untuk duduk di dekatnya.
Mereka pun berencana untuk bertemu setelah Naura kembali pulih. Jika mereka tidak lengkap, pertemuan itu juga tidak akan sama dengan dulu. Reyhan tidak mempermasalahkan kapan dan di mana mereka akan menghabiskan waktu sekadar untuk saling mencemooh atau bertukar kisah.
“Tunggu Naura kembali sehat, aku tidak ingin Sean tidak hadir.” Reyhan menegaskan tentang pertemuan selanjutnya.
“Baiklah, jadi … kapan kamu sehat?” Niko melirik Naura yang terbaring di tempat tidur.
Satu bantalan dilempar Naura dan mengenai sasaran. Jeni ikut serta dengan menarik telinga suaminya.
“Auh, sakit, Sayang.” Niko mengaduh sakit.
Niko meringis menahan nyeri di telinganya saat Jeni menarik kencang, dan itu membuat mereka semua tertawa.
Percakapan berlangsung dengan pembahasan seperti biasa. Bertanya kabar dan perkembangan bisnis atau kehidupan masing-masing. Tiba-tiba saja Sean bertanya pada Reyhan mengenai statusnya saat ini.
Terakhir kali mereka tahu bahwa Reyhan sedang mendekati Kyra. Bertemu, bertengkar, jadian, di tolak. Itu yang terakhir Sean dengar.
Reyhan pun mulai menceritakan perjalanannya bersama Kyra, lalu mengabarkan juga mengenai Kyra yang menerima dirinya sebagai kekasih. Sean dan Niko bersorak memberi selamat. "Kali ini benar-benar jadian?" tanya Niko kembali menggoda Reyhan.
"Tentu saja. Kami berpacaran," jawab Reyhan bangga.
“Jika begitu, kita perlu mengatur waktu. Bagaimana jika besok lusa? Akhir pekan ini aku tidak memiliki rencana untuk berlibur.” Niko memberitahukan jadwal akhir minggunya pada kedua temannya itu.
“Baiklah, sepertinya aku bisa,” jawab Reyhan.
Sementara Sean melirik pada istrinya yang masih terbaring di atas tempat tidur. Sean pun memberitahu, jika dirinya akan datang saat Naura sudah membaik.
__ADS_1
“Benar juga, Naura masih sakit. Bagaimana jika kita tunggu Naura sampai sembuh dulu?” Reyhan mengusulkan pada Niko untuk menunggu Naura dan Sean.
“Baiklah, jika Naura sudah baikan, jangan lupa memberikan kabar padaku. Lalu … di mana kita akan bertemu?” tanya Niko yang tidak sabar untuk bisa kembali berkumpul.
“Di restoran seperti biasa saja. bukankah tempat itu selalu menjadi tempat ternyaman kita saat sedang berkumpul?” sahut Sean yang menyarankan untuk datang ke restoran biasanya.
***
Apa yang Kyra tebak benar terjadi dimana Reyhan tidak akan dapat membuat hidupnya tenang. Seperti saat ini dimana Kyra yang tengah berada di kedai Wardah merasa menjadi tontonan saat Reyhan dengan sangat setia duduk di dalam mobil tepat tak jauh dari kedai Wardah.
Aku sudah memintanya untuk merahasiakan hubungan kami, tapi kenapa dia justru ada di sini? dan itu sudah hampir satu jam. Ya Tuhan sesuka itu kah dia padaku? Apa dia tidak punya pekerjaan? Batin Kyra mencoba untuk mengabaikan kehadiran Reyhan agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Wardah.
"Kyra. Siapa dia?" tanya Wardah yang diam-diam memperhatikan gelagat Kyra.
Kyra yang mendengar itu menjadi salah tingkah. "Dia pria itu?" sambung Wardah kembali bertanya.
Belum sempat Kyra menjawab pertanyaannya, ponsel di saku celana Kyra lebih dulu berdering. "Halo," jawab Kyra terlihat enggan.
"Sayang, aku lapar. Bawakan aku satu mangkuk bakso dan es teh beserta air mineral!" pinta Reyhan manja sembari tertawa melihat raut wajah kesal Kyra.
"Aku tunggu. Bawa kemari jika tidak ingij aku yang ke sana!" ucap Reyhan lagi memutuskan sepihak panggilan telepon.
"Siapa?" tanya Wardah penasaran.
"Dia," jawab Kyra pelan.
"Bu, tolong buatkan aku satu porsi bakso urat," pinta Kyra pada Wardah yang langsung menuruti permintaan Kyra sembari menahan senyumnya.
Siapa pun pria itu, dia atau pun orang lain. Ibu ikut senang melihat rona merah di wajahmu, Kyra. Kamu terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Auramu semakin terpancar berkat dia. Batin Wardah.
Aku mau duda kayak Reyhan😰 Kalian mau nggak kak?😅
__ADS_1