
Wajah Kyra memperlihatkan ketakutan yang membuat Reyhan tersentuh hatinya. Bahkan, disaat terakhir, Kyra masih menyuruh Reyhan untuk segera pergi dari sana.
“Please! Om pulang saja, biar aku yang hadapi papi. Tolong jangan semakin memancing emosi papiku," ucap Kyra menatap penuh harap pada Reyhan agar menurutinya.
“Itu adalah tindakan yang salah, Sayang. Aku yang membawamu pergi, jadi ini tanggung jawabku. Aku akan mencoba menghadapi papimu."
“Tapi—“
“Tidak apa-apa, kita ke sana, sebelum papimu semakin marah.”
Keduanya berjalan mendekati Dirga. Pria itu tidak menyangka bahwa Reyhan memiliki nyali yang tinggi untuk menemuinya dalam keadaan seperti ini. Reyhan berjalan di samping Kyra, dengan tangan yang masih bergandengan seakan menunjukan jika hubungan mereka benar ada dan itu semakin membuat Dirga marah.
“KYRA!” Teriakan Dirga membuat Kyra mempercepat langkahnya.
“Pa-papi.” Kyra tampak gugup, rasanya ingin sekali menghilang dari hadapan dua orang itu.
“Apa yang kamu lakukan? Berani sekali kamu berbohong!” Amarah Dirga tak dapat dibendung lagi.
Tepat disaat mereka berhenti melangkah, Reyhan mulai membuka suaranya.
“Tuan Dirga, dengarkan dulu penjelasan kami.” Reyhan menyela dan ingin menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka.
Kyra melangkah mendekat, dan tepat di saat itu juga satu tamparan keras mendarat di pipi gadis yang kini hanya berdiri kaku.
"Papi," lirih Kyra dengan tataoan berkaca-kaca.
“Tuan Dirga! Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Apakah Anda tidak bisa sedikit menahannya? Dia seorang gadis yang tidak seharusnya mendapatkan kekerasan!”
Pembelaan Reyhan sia-sia, Dirga melakukan atas dasar sebagai orang tua. Dia berhak mendidik anaknya seperti yang diinginkannya.
“Tahu apa kamu! Cepat pergi dari rumah putriku! Jangan pernah kembali lagi kemari! Apa kamu tidak berkaca? Kalian ini tidak pantas untuk menjalin hubungan!”
__ADS_1
Kyra terisak, tak ada suara tangisan, hanya wajah ketakutan dengan tubuh yang kini bergetar hebat.
“Tuan Dirga, setidaknya jangan menyakiti Kyra. Jika memang Anda merasa sebagai orang tua ingin mendidik anaknya, apakah dengan kekerasan anak Anda bisa terdidik dengan benar?”
Dirga semakin emosi mendengar ucapan Reyhan. Sementara itu, tatapan mata Kyra tertuju pada Reyhan. Airmatanya membuat Reyhan merasa bersalah, bahkan disaat seperti ini, Kyra masih mencoba untuk membuat Reyhan pergi dan tidak memperkeruh keadaan.
“Dia anakku! Terserah aku bagaimana?! Sementara kamu ini siapa? Kamu bahkan hanya orang luar yang mencoba merusak anakku! Jika kamu merasa lebih pintar dariku maka harusnya kamu sadar atas apa kesalahanmu," ucap Dirga.
"Apa salahku? Katakan apa salahku?" tantang Reyhan yang tak terima dengan ucapan Dirga.
"Jelas saja salah–"
“Papi, sudah. Kyra minta maaf.” Kyra mencoba menyela perdebatan antara keduanya.
“Diam kamu! Masuk kamar sekarang juga!” bentak Dirga hingga membuat langkah Kyra dengan cepat pergi dari sana.
Sebelumnya, Dirga sudah merampas ponsel milik Kyra. Sekarang tinggal dia dan Reyhan di sana.
“Tuan Dirga, aku tulus mendekati Kyra. Bahkan tidak ada maksud buruk dalam diriku untuk membuat putrimu terluka.” Reyhan masih berusaha mempertahankan hubungannya dengan Kyra.
Dirga berdecih, seakan tidak percaya dengan ucapan Reyhan yang memiliki maksud baik itu.
“Tuan Dirga, apa selama ini Anda tidak melihat kesepian dalam diri Kyra? Aku mencoba mengisinya dengan kebahagiaan. Bahkan beberapa waktu lalu aku masih melihat senyumnya, senyum yang sangat jarang kudapatkan selama dekat dengannya.”
“Kurang ajar! Berani sekali kamu berkata seperti itu padaku! Apa kamu pikir aku akan menyakiti anakku sendiri? Aku melakukan semua ini untuk kebaikannya, untuk masa depan yang lebih baik!”
“Masa depan tidak ada yang tahu kecuali Sang Pencipta, Tuan Dirga. Bahkan, meski sebagai orang tua Anda sudah mencobanya, tetap saja … hanya Dia yang berkehendak.”
Dirga tampak kesal dengan penjelasan yang dikatakan Reyhan. Tidak ingin larut dalam percakapan itu, Dirga kembali mengusir Reyhan dan menyuruhnya untuk menjauhi Kyra.
“Sebaiknya kamu pergi! Tidak ada yang mengharapkanmu di sini!”
__ADS_1
“Anda perlu ketahui, saya tulus pada putri Anda, Tuan Dirga.”
“Perasaanmu, ketulusanmu, niatmu, semua hanya dirimu yang tahu. Aku yakin, ketulusanmu tidak penuh, bahkan niatmu untuk mendekati Putriku tidak sepenuhnya karena ketulusan itu, bukan? Sebaiknya kamu pergi dan jangan dekati anakku. Jangan jadikan dia mainanmu, Tuan Reyhan! Dia bukan pelampiasan."
Reyhan tak dapat berkata, dalam hatinya membenarkan ucapan Dirga. Awal mula dia mendekati Kyra memang untuk pelampiasan semata. Kali ini seperti skakmat untuk Reyhan, pria itu bahkan tidak menjawab ucapan terakhir Dirga dan memilih berbalik badan untuk pergi.
“Seperti yang kukatakan, kamu hanya mempermainkannya saja.” Dirga sangat yakin dengan perasaannya pada Kyra, kini urusannya belum selesai. Masih ada Kyra yang perlu dia ajak berbicara.
***
Di sisi lain.
Kyra baru saja sampai di kamar dengan perasaan hancur. Baru saja kebahagiaan menhampirinya saat berlibur bersama Reyhan. Namun, semua sirna begitu saja dan menjadi bencara untuknya dan pria itu.
Tubuhnya menelungkup dengan wajah yang tenggelam di antara bantalan dan bonekanya. Seprai yang membungkus bantalan pun basah karena airmatanya. Ingatannya saat ini adalah wajah Dirga yang murka melihat putrinya jalan bersama seorang duda yang lebih pantas menjadi ayah daripada kekasihnya.
‘Sudah aku duga, semua ini akan terjadi. Andai saja aku lebih tegas padanya.’ Hati Kyra terasa sakit dengan sikap Dirga, tetapi dia juga kesal dengan Reyhan yang selalu memaksa.
Kyra tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini, semua kekuatan lenyap seketika. Tubuhnya terasa begitu lemas, tak ada yang mendukungnya. Bahkan, satu-satunya orang yang pasti mendukung sudah tak lagi bisa menemuinya. Kyra akui jika awalnya kehadiran Reyhan sangat tidak diharapkannya, tetapi seiring berjalannya waktu, Kyra merasa nyaman dan mulai terbiasa dengan kehadiran Reyhan.
Sekarang apa yang harus aku lakukan?
Kyra tidak ingin memikirkan hubungannya dengan Reyhan, meski tahu pria itu tidak akan menyerah begitu saja. Kyra hanya ingin hidupnya yang tenang kembali, tanpa ada lagi pertikaian seperti ini. Namun, rasa-rasanya semua akan sia-sia. Melihat kemarahan Dirga saja, Kyra sudah tidak bisa lagi berkata-kata.
“Aku benci hidupku!” ucap Kyra sembari mengusap kasar wajahnya.
Matanya menatap cermin yang ada di meja rias. Dia melihat sosok gadis yang ingin menjadi kuat dan acuh pada masalah yang menimpanya. Tiba-tiba saja, Kyra mengingat kebahagiaan yang bisa didapatkannya saat bersama Reyhan dan teman-temannya. Seakan menjadi keluarga kedua Kyra, teman-teman Reyhan berperan seperti seorang kakak untuknya. Menjaga dan memberikan perhatian yang lebih dari seseorang yang baru saja dikenalnya.
“Aku harus kuat.” Tetap meyakinkan diri untuk bisa kuat, Kyra memotivasi dirinya dengan kalimat-kalimat yang pernah dibaca di salah satu situs online.
Kyra tak peduli lagi dengan apa pun yang membuatnya bersedih. Dia ingin menguatkan hatinya, menambahkan energi untuk menghadapi kenyataan. Setelah ini, Dirga pasti datang ke kamar itu untuk melanjutkan apa yang belum selesai di antara mereka. Kyra mempersiapkan diri untuk hal itu, mencoba menjernihkan pikiran dengan menghentikan isakan tak bergunanya.
__ADS_1
“Tenang, aku harus tenang,” ucap Kyra pada diri sendiri.