
Satu jam kemudian, Kyra dengan mobilnya yang berwarna putih, tiba di kediaman Silva–sahabatnya. Rumah yang terlihat sederhana, tetapi Kyra tau di selimuti dengan kebahagiaan yang tercipta dari seluruh penghuninya.
Rumah seperti ini dan kehidupan sederhana dengan limpahan kasih sayang seperti inilah yang aku inginkan, mi, pi. Namun sayangnya kalian tidak dapat memberikannya untukku. Kyra berkata dalam hatinya.
Gadis cantik yang selalu terlihat tenang menghadapi setiap masalahnya itu menarik napas panjang lalu mengembuskan, kembali bersandiwara seolah-olah dia baik-baik saja, menutupi keadaan hati yang sebenarnya diselimuti dengan kesedihan serta kerinduan pada kedua orang tuanya.
"Aku tuh selalu iri dengan tubuhmu, Ky. Apapun yang kamu kenakan selalu terlihat sempurna di tubuhmu," puji Andini saat Kyra yang baru saja turun dari mobil menghampiri dia dan Silva yang sudah menunggu di depan pintu rumah Silva.
Hari ini, Kyra menggunakan playsuit dengan denim jacket di padukan dengan sneakers berwarna putih membuat penampilan Kyra yang terbilang santai tetap terlihat elegan dan seksi di tubuhnya, apalagi playsuit yang ia gunakan membuat kaki jenjang mulusnya terlihat. Berbeda dengan kedua sahabat Kyra yang terlihat sedikit seksi karena memang keduanya menggunakan dress, tetapi tetap saja tubuh keduanya tidak akan bisa menandingi body goals milik Kyra.
"Apaan sih kalian? Setiap ketemu yang di bahas selalu saja mengenai tubuhku," dengus Kyra membuat kedua temanya tertawa.
"Ya sudah, ayo berangkat!" ajak Andini yang baru saja akan melangkahkan kakinya, tetapi gerakannya terhenti saat Kyra menarik pergelangan tangannya.
"Sabar, aku belum pamit apalagi menyapa orang tua Silva," ucap Kyra.
"Kalian sudah pamitan?" sambung Kyra bertanya yang di jawab gelengan kepala oleh keduanya.
"Ya sudah, ayo pamit dulu!" ajak Kyra menarik keduanya masuk ke dalam rumah Silva.
Dari kejauhan dapat Kyra lihat jika kedua pasangan paruh baya itu tengah menikmati hari bersama dengan mengobrol santai di ruang keluarga, sesuatu yang sudah sangat lama tak di lihat Kyra ada di rumahnya.
"Eh, ada Kyra. Kapan tiba, sayang?" sapa Bunda Silva saat Kyra mencium punggung tangannya serta suaminya.
"Baru aja, Bun. Oh iya Bun, Yah, aku izin ajak Silva jalan ya?" ucap Kyra terdengar begitu lembut dan sopan.
"Iya, boleh. Kalian pergi naik apa?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Mobil, Bun, tapi tenang, aku sudah lulus tes mengemudi kok," cengir Kyra menjawab membuat kedua orang tua Silva gemas melihatnya hingga tangan ayah Silva terulur mengusap rambut Kyra. Hal sederhana tapi menghangatkan hati Kyra.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati, ya!" ucap Bunda Silva yang di angguki oleh ketiga gadis remaja tersebut.
__ADS_1
"Aku senang putri kita berteman dengan Kyra, bukan karena dia kaya, tapi karena dia gadis yang baik. Dia bisa membimbing dirinya untuk menjadi anak yang baik, sekalipun tanpa perhatian orang tuanya. Sangat di sayangkan kedua orang tuanya acuh pada anak sebaik dia," ucap Bunda Silva pada suaminya setelah ketiga gadis remaja itu menghilang dari pandangannya.
"Kamu benar, Kyra putri kandung mereka, tapi seolah terasingkan saat kedua orang tuanya lebih fokus pada keluarga baru mereka," balas ayah Silva menjawab ucapan istrinya.
****
Ketiga gadis cantik itu masuk ke dalam setiap toko yang menarik di mata mereka, seperti halnya saat ini di mana mereka masuk ke dalam sebuah toko yang menjual tas branded.
"Mbak, yang ini ada warna apa aja?" tanya Kyra pada pegawai di sana setelah menemukan pilihanya.
"Ada empat warna, Nona. Ada Navi, black, red sama mocca. Barangnya baru masuk kemarin, dan hanya ada satu masing-masing setiap warnanya," jawab pegawai tersebut terdengar ramah dan sopan pada pelanggan.
"Saya ambil yang hitam. Ayo, buruan! Kalian warna apa?" tanya Kyra pada kedua sahabatnya yang tercengang menatapnya.
"Lagi?" ucap keduanya secara bersamaan, sebab sebulan yang lalu Kyra baru saja membelikan mereka jam tangan mahal.
"Iya, buruan sebelum aku berubah pikiran!" jawab Kyra tersenyum pada kedua sahabatnya yang selalu kebagian jatah bulanan Kyra.
"Saya ambil tiga, Mbak!" seru Kyra pada pegawai yang tersenyum menatap mereka.
Ketiga gadis cantik itu melanjutkan perburuan mereka sembari mencari hadiah untuk Alfin, putra bungsu dari Wardah yang akan melanjutkan sekolah ke tingkat SMP.
"Aw....," rintih Kyra saat seseorang dengan sengaja menabraknya dari belakang.
"Ups, maaf!" ucap seseorang yang menabraknya dengan senyum menyeringai.
"Kamu?" tunjuk Kyra menatap tajam pada seseorang yang telah dengan sengaja menabraknya tersebut.
"Wah, tidak di sangka aku akan bertemu OKB di sini. Sekarang sudah bisa ke Mall, ya? Sudah tau barang mahal, ya?" ledek Kyra balas menatap dengan tatapan menghina pada seseorang yang menyeringai setelah dengan sengaja menabraknya.
Bukan tanpa sebab Kyra bersikap seperti itu pada seseorang yang ada di hadapannya saat ini. Orang tersebutlah yang lebih dulu memulai permusuhan dengannya. Kyra tidak akan menggigit jika tidak di gigit, dan orang tersebut salah karena sudah berani menantang seorang Kyra Dwayne.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" geram lawan bicara Kyra berkacak pinggang menatap kesal pada Kyra.
"Guys... Kalian tau nggak kepanjangan dari OKB itu apa?" ucap Kyra pada kedua sahabatnya yang serentak menjawab. "Orang kaya baru," ucap mereka di akhiri dengan gelak tawa dari Kyra dan kedua sahabatnya.
"Bilang saja kamu iri karena papi lebih menyayangi aku dan Mamaku dari pada kamu si princess yang malang," ucap wanita yang Kyra sebut OKB yang tidak lain adalah putri tiri papinya. Ucapan saudara tiri Kyra tentu saja membuat hatinya merasa sakit karena apa yang di katanya benar jika ia adalah princess yang malang, tapi bukan berarti Kyra akan terlihat lemah hanya karena sesuatu hal sepele seperti itu.
"Kamu yakin? Apa yang membuatmu yakin jika papiku lebih menyayangi anak orang lain ketimbang putrinya sendiri?" tantang Kyra yang sama sekali tidak bisa di tindas.
"Ini buktinya, aku bisa membeli semua ini karena papi memberikan aku uang bulanan yang lebih besar darimu," ucapnya dengan sangat bangga memamerkan perhiasan yang ada di tubuhnya serta barang belanjaan yang ada di tangannya.
"Berapa papiku memberimu sebulan, Nona Sandra?" ucap Kyra balik bertanya dengan selalu menekankan kata 'Papiku', mengingatkan Sandra akan statusnya.
"Papi memberiku tiga puluh juta setiap bulannya," jawab Sandra sombong, membuat beberapa teman yang bersamanya ternganga mendengarnya.
"Wah, kamu benar-benar di sayang, ya, San?" sahut salah satu teman Sandra menjilat.
"Tiga puluh juta? Aku baru saja membayar tiga tas dengan total tiga puluh enam juta, apa kalian yang menjadi kacungnya dapat mencicipi uangnya?" ucap Kyra membuat bungkam Sandra dan teman-temannya.
"Lihat cara kami berteman. Bahagia sama-sama bahagia, belanja sama-sama belanja, tidak seperti kalian yang hanya menjadi pengawal dari gadis OKB ini," sambung Kyra lagi membuat Sandra menjadi gelagapan.
"Sudahlah. Bilang saja kamu iri karena papi lebih memanjakanku," ucap Sandra masih saja memprovokasi Kyra.
"Tiga puluh juta sebulan. Lihat ini!" tunjuk Kyra menyodorkan ponselnya, memamerkan saldo rekeningnya pada Sandra dan ketiga temanya.
"San, empat ratus dua puluh juta," cicit salah satu teman Sandra menyebutkan nominal saldo rekening Kyra, membuat wajah Sandra memerah karena merasa marah dan kesal melihatnya.
"Tiga puluh juta untuk anak tiri sepertimu, itu harusnya sudah cukup banyak. Papi memberiku seratus juta setiap bulannya, karena dia tau siapa yang darah dagingnya," ucap Kyra terdengar begitu menusuk untuk Sandra yang mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Kyra.
"Kamu hanya putri tiri yang beruntung dapat mencicipi uang Papiku, jadi berhentilah berlagak sok hebat di depanku. Dasar parasit," maki Kyra lagi, lalu memutar tubuhnya berniat pergi dari sana, tapi Sandra dengan cepat mencekal tangannya dan ingin melayangkan sebuah tamparan padanya.
"Jangan pernah berani menyentuhku! Sedikit saja kamu menyentuhku, bukan aku yang akan membalasnya, tapi Papiku yang akan membalasnya. Kamu tau bagaimana Papi sangat menyayangiku. Sedikit saja aku merengek padanya, kamu bisa merasakan akibatnya," ancam Kyra menepis kasar tangan Sandra yang ingin menamparnya, lalu berbalik pergi dari sana meninggalkan Sandra yang diselimuti dengan kekesalan serta kebencian yang makin menjadi pada Kyra.
__ADS_1
Kamu hebat, Ky. Kamu selalu bisa bersandiwara dengan baik. Batin Kyra menertawakan dirinya sendiri yang selalu berpura-pura kuat.