Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Hanya Butuh Perhatian


__ADS_3

Disaat anak-anak lainnya tengah sibuk mempersiapkan tentang kelanjutan pendidikan mereka, Kyra justru terlihat santai sebab dia sudah tau semuanya pasti sudah diurus oleh orang suruhan kedua orang tuanya. Seperti biasa, apa pun yang Kyra butuhkan akan selalu tersedia tanpa perlu Kyra memintanya. Namun, ada yang yang tidak akan pernah Kyra dapatkan tanpa meminta, meminta pun Kyra belum tentu akan mendapatkannya. Hal yang begitu mudah anak lain dapatkan, tetapi sangat sulit untuk Kyra dapatkan, yaitu kebersamaan.


Kyra masih menjalani hari-harinya seperti biasa, menyendiri di rumah atau membantu ibu angkatnya berdagang.


Saat ini, gadis cantik itu baru saja pulang ke rumahnya setelah seharian membantu Wardah di kedainya. Kyra melihat dua mobil yang sangat dia kenal ada di depan rumahnya, dengan cepat Kyra berlari masuk ke dalam rumah, tetapi sesaat kemudian Kyra menghentikan larinya kala mengingat kedua pemilik mobil itu pasti hanya akan datang sebentar guna mengatakan mengenai uang bulanan yang sudah di kirimkan serta menanyakan kebutuhan lainya tanpa mereka sadari jika yang Kyra butuhkan adalah perhatian dalam bentuk kehadiran mereka, bukan hanya fasilitas mewah.


"Assalamualaikum…," ucapnya masuk dengan langkah lemas ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam..., Sayang. Kamu akhirnya pulang!" seru Larasati bangkit dari duduknya dan menghampiri Kyra, merentangkan kedua tangannya siap menyambut putri cantiknya.


Bisa-bisanya mereka berdua duduk santai mengobrol setelah apa yang sudah mereka lakukan. Batin Kyra selalu merasa malu mengingat kehebohan yang pernah diciptakan oleh kedua orang tuanya.


Meskipun gadis cantik itu masih diselimuti oleh amarah pada orang taunya, tetapi tak dipungkiri jika dia begitu merindukan dan merasa nyaman saat kedua orang tuanya bergantian memeluknya.


"Kata bibi, kamu sering membantu Wardah di kedainya. Apa itu benar?" tanya Dirga setelah mereka semua duduk di sofa.


"Apa benar, Ky?" sahut Laras ikut bertanya.

__ADS_1


"Kalian langsung bertanya hal itu. Apa kalian tidak bisa sedikit saja berbasa-basi menanyakan kabarku? Apa aku sakit? Apa aku terluka? Atau, apa aku mati?" tanya Kyra yang langsung berlari naik menuju kamarnya, meninggalkan kedua orang tuanya yang terdiam membeku di tempat mereka.


Keduanya tidak berpikir bertanya akan hal itu karena keduanya sudah melihat langsung keadaan putri mereka baik- baik saja dan tidak perlu mereka tanyakan. Namun, mereka sama sekali tidak menyangka jika Kyra akan marah hanya karena hal sepele seperti itu. Kenapa Kyra mempermaslaahkan hal sepele seperti itu? Pikir keduanya.


Laras dan Dirga bergegas nenyusul Kyra.


Di dalam kamarnya, Kyra meluapkan semua tangisnya. Kyra merasa sedih karena kedatangan orang tuanya tidak seperti yang diharapkan. Andai saja keduanya bisa berpura-pura peduli padanya, maka Kyra siap untuk di bohongi daripada merasa sakit karena di acuhkan seperti itu. Namun sayangnya, pura-pura ataupun benar-benar peduli, tak didapatkan dari orang tuanya. 


Suara ketukan pintu terdengar dan jelas itu dari kedua orang tua Kyra.


"Pulanglah Pi, Mi! Keluarga kalian pasti menunggu kalian," ucap Kyra dari dalam sana berusaha agar isak tangisnya tidak terdengar.


Kata 'Keluarga kalian' yang terucap dari Kyra sangat menusuk untuk di dengar. Bagaimana bisa Kyra mengatakan keluarga kalian seakan Kyra adalah orang asing bagi mereka.


"Ky, maafkan Mami. Tolong buka pintunya! Mami merindukanmu," ucap Larasati dengan mata berkaca-kaca.


Kyra yang mendengar hal itu sontak turun dari atas tempat tidurnya, gadis yang sangat ingin mendengar kata-kata lembut dan perhatian dari kedua orang tuanya itu dengan cepat membuka pintun kamarnya hanya karena satu kalimat yang baru saja di dengarnya adalah kalimat yang begitu ingin dia dengar selama ini.

__ADS_1


"Kyra juga sangat merindukan Mami," ucapnya menghambur masuk ke dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.


Gadis cantik itu melepaskan semua tangisnya dalam pelukan Laras yang benar-benar merasa sesak dadanya mendengar tangis dari putri yang dia anggap baik-baik saja selama ini. Kyra tidak pernah mengeluh, Kyra selalu mengatakan semuanya baik-baik saja, Kyra tidak pernah meminta apa pun dan mereka pikir semua itu memang karena Kyra baik-baik saja. Namun, hari ini Laras sadar jika putrinya hanya berpura-lura tegar dihadapan semua orang termasuk mereka.


"Papi juga sangat merindukanmu, Nak!" sahut Dirga sembari mengusap lembut kepala Kyra yang masih berada dalam pelukan maminya.


Kyra yang mendengar itu tersenyum masih dengab air nata yang mengalir membasahi wajah cantiknya. Kyra melepaskan pelukannya pada Laras, lalu beralih memeluk Dirga, sembari berkata. "Kyra juga sangat merindukan Papi."


Entah semua ini benar atau tidak, tapi aku sudah cukup bahagia mendengarnya dari kalian. Ucap Kyra dalam hati.


"Ky, apa ada sesuatu yang terjadi hari ini?" tanya Dirga membuat pelukan Kyra terlepas saat dia mulai berpikir kedatangan sang ayah karena mengetahui pertengkarannya dengan Sandra.


"Jadi Papi kemari, karena Sandra? Putri kesayangan Papi mengadu pada Papi?" tanyanya kembali terdengar dingin.


***


~~

__ADS_1


Hai Kak, dalam setiap bab di akhir-akhir bab yang aku up dan kedepannya yang aku up, itu ada tambahan isi bab ya. Karena itu nggak bisa di up sekaligus, karena ada tambahan di dalamnya. Terima kasih untuk yang sudah hadir, mohon selalu dukungannya.


🙏🥰


__ADS_2