
Mendengar jika Papinya dibawa ke rumah sakit, jelas saja membuat Kyra benar-benar kaget. Tanpa berpamitan pada saudari tiri dan orang yang ada di sana, kalang kabut gadis berusia tujuh belas tahun itu segera kembali ke dalam mobil dan menginjak gasnya menuju ke rumah sakit.
"Tunggu, rumah sakit mana?" tanyanya bingung sendiri. Dengan kesal dia membuka jendela mobil dan mendongakkan kepalanya. "Bi, maaf. Rumah sakit mana?" tanya Kyra pada pelayan yang ada.
Pelayan yang mendengar itu segera mendekat lalu menjawab pertanyaan Kyra. "Terima kasih, Bi." Usai mendengar jawaban dari pelayan, Kyra langsung melanjutkan perjalanannya.
"Dasar aneh! Menyebalkan sekali! Pasti dia mau cari perhatian di depan Papi!" ketus Sandra menghentakan sebelah kakinya.
"Siapa dia?" tanya pria yang sedari tadi memperhatikan Kyra.
Sandra yang mendengar pertanyaan itu langsung menoleh pada kekssihnya, dan memberikan tatapam kesal saat mendengar kekasihnya bertanya tentang Kyra.
"Lupakan dia! Hanya gadis malang," jawab Sandra kembali bergelayut manja di lengan kekasihnya, berusaha mengalihkan kekasihnya dari Kyra.
"Dia saudara tirimu? Apa dia putri dari Dirga Dwayne yang selama ini dirahasiakan?" tanya pria itu lagi semakin membuat Sandra menjadi kesal mendengarnya.
"Ada apa denganmu? Bukankah sudah aku katakan lupakan! Jangan membahas gadis tidak penting itu," bentak Sandra.
"Baiklah, baiklah. Maaf." Pria itu berusaha untuk tidak lagi membahas Kyra. Namun di dalam hatinya berkata. Jadi, dia putri tuan Dwayne yang sesungguhnya, aku salah mendekati orang.
__ADS_1
***
Meski Kyra dan papinya tidak terlalu dekat layaknya anak gadis yang sering bermanja dengan ayahnya, Kyra tetap menyayangi Dirga. Pria empat puluh lima tahun itu adalah pria satu-satunya di dunia ini yang Kyra sayang. Meski sudah dipatahkannya usai perceraian itu, Kyra tetaplah menganggap Papi sebagai papinya. Dan rasa sayangnya tidak berkurang sedikit pun untuknya, meskipun rasa kecewa juga menyelimutinya.
Kyra beryukur karena perjalanan kali ini tidak macet. Alhasil, tak perlu memerlukan waktu lama untuk sampai di rumah sakit tujuan. Ditambah, lokasinya pun tidak jauh dari rumah Papi.
"Di mana ruangannya Pak Dirga Dwayne?" tanya Kyra setelah sampai di meja resepsionis yang menyambutnya dengan ramah.
"Sebentar, saya cek dulu. Mohon menunggu sebentar," balasnya kemudian sibuk dengan mengotak-atik keyboard komputernya.
Kyra mengetuk-ngetukkan jarinya di permukaan meja pembatas itu, kakinya tak berhenti bergerak karena benar-benar khawatir. Dia tak sabar ingin segera menemui Papi dan mengecek kondisinya, berharap Papi baik-baik saja.
Dilihatnya dari kejauhan ibu tiri beserta para pengawalnya berada di depan ruangan Papi. Kyra mendengus kesal, karena wanita itu tega tak memberi tahu dia mengenai keadaan Papinya.
Tanpa menyapa terlebih dahulu saking dongkolnya, Kyra langsung menerobos pintu yang di sampingnya berdiri para pengawal berbadan besar itu. Kyra tak takut, lagipula mereka adalah pekerja yang dibayar oleh papinya. Tidak mungkin sang anak majikan akan dimarahi karena berani menerobos.
"Hei! Tidak sopan!" pekik ibu tirinya, dia yang sedang duduk di atas kursi panjang segera menghalangi Kyra.
Kyra tak peduli, dia melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan, menemui Papi, agar dia merasa tenang setelah memastikan kondisi papinya.
__ADS_1
"Kamu tidak punya telinga, Kyra?" bentak wanita itu kesal.
Kyra memutar bola matanya kemudian membalikkan badan, dia memasang wajah yang begitu judes membuat wanita di depannya semakin tak suka dengan kehadiran Kyra.
"Kamu tidak boleh masuk!"
"Kenapa?" Kyra langsung menyerobot. Entah sejak kapan hubungannya dengan sang ibu tiri begitu buruk, yang jelas Kyra tidak suka dengan ibu tirinya ini. Terasa 11-12 dengan Sandra. Seolah membenci Kyra. Padahal sebelumnya Kyra tak pernah berbuat onar yang bisa menjadi alasan mereka membencinya.
"Tidak sopan!" desis Inggrid; sang ibu tiri, kemudian melengos. "Tahan dia! Jangan sampai bisa masuk ke dalam!" lanjutnya memerintah para pengawal yang sedari tadi berdiri bagai patung di sana.
"Kalian berani padaku?" Kyra menantang. Tangan para pengawal yang hendak menghalangi pintu sedikit demi sedikit mulai kembali ke tempat asalnya, yakni di samping saku celana. "Kenapa? Takut?" tanya Kyra memancing emosi ibu tirinya yang makin kesal karena para pengawal seperti takut dengan sosok Kyra yang tak lain adalah anak kandung majikannya.
"Tahan dia!" pekik Inggrid lagi, disertai kedua matanya yang nyaris keluar karena berlebihan membelalakkan mata.
**Kalau kalian di posisi Kyra, gimana? Bakal tetep sopan atau gimana sama keluarga tiri yang jelas jahat. Kalau author jujur aja nggak bisa pura2 baik ke orang yang jelas jahat.😅**
__ADS_1