
Reyhan tersenyum melihat Kyra yang hanya terdiam tak dapat menjawab ucapannya. "Setelah ini ikut aku!" titah Reyhan membuat Kyra yang masih terdiam semakin geram akan sikapnya.
"Siapa Anda seenaknya memerintahku? Jika Anda sudah selesai, maka pergilah dari sini!" ujar Kyra kembali mengusir Reyhan.
"Jangan menguji kesabaranku, Kyra Dwayne. Jika kamu menolak maka aku...."
"Anda akan mengatakan pada semua orang jika aku adalah kekasihmu? Dan kita tengah bertengkar? Begitu? kalau, benar. Maka katakan saja, aku sama sekali tidak peduli dengan aksi gila Anda," ucap Kyra yang sudah bisa menebak ancaman Reyhan. Kyra yang merasa amat kesal memilih untuk bangkit dari duduknya lalu berpamitan pada Wardah dan dengan cepat pergi dari sana dalam keadaan kesal, terlebih lagi saat mendengar ucapan Reyhan yang menyebutkan nama belakanh keluarganya.
Wardah merasa khawatir melihat Kyra yang pergi dalam keadaan kesal, tetapi Wardah yang sedikit salah paham berpikir jika Reyhan adalah teman dekat Kyra, memilih untuk tidak ikut campur urusan asmara putri angkatnya itu terlebih lagi Wardah menilai jika Reyhan tidak seperti pria yang jahat.
"Kyra, tunggu!" Panggil Reyhan mengejar Kyra setelah memberikan selembar uang pada Wardah yang berteriak memanggilnya, karena uang yang Reyhan berikan lebih, tetapi Reyhan memberi isyarat dengan tangannya jika dia tak masalah dengan itu.
"Sial! Kenapa juga aku bersikap seperti itu padanya? Dia pasti semakin kesal padaku," gumam Reyhan merutuki sikapnya sendiri yang seperti itu pada Kyra.
"Pulanglah dengan taksi!" titahnya mengusir Dika yang sedari tadi menunggunya di dalam mobil. Reyhan dengan cepat melesat pergi dari sana menyusul Kyra yang sudah lebih dulu pergi dengan motor yang di kendarainya. Reyhan berusaha menambah kecepatannya saat Kyra juga semakin melesat dengan sangat cepat, hingga di jalanan yang terbilang sepi, Reyhan berhasil menghadang Kyra dengan mobilnya.
"Dengarkan dulu!" ucapnya yang dengan cepat keluar dari mobil menghampiri Kyra lalu merebut kunci motor Kyra.
"Kembalikan!" pinta Kyra turun dari motornya, mendekati Reyhan yang sudah menahan kunci motornya.
__ADS_1
"Dengarkan aku, aku minta maaf atas sikapku. Aku seperti itu hanya karena aku ingin berteman denganmu. Aku ingin mengenalmu. Maaf jika caraku salah," ucap Reyhan berusaha bersikap tenang menghadapi kemarahan Kyra.
"Dengarkan aku juga, Tuan, Pak, Om. Kita sama sekali tidak pantas berteman. Apalagi usia Anda yang sangat jauh lebih tua dariku. Jika Anda punya keponakan, maka kenalkan saja dia denganku sebab sepertinya keponakan Anda lebih cocok berteman denganku. Sekarang, tolong kembalikan kunci motorku!" ucap Kyra dengan tangan meminta setelah mengatakan sesuatu yang cukup menyinggung Reyhan yang terdiam mendengar ucapannya.
Melihat Reyhan yang terdiam, Kyra tak menyia-nyiakan kesempatan dengan cepat merebut kembali kunci motornya dan melesat pergi dari sana meninggalkan Reyhan yang masih terdiam membeku di tempatnya.
Apa aku terlihat setua itu? Batin Reyhan.
Getar ponsel yang berada di saku Reyhan menyadarkannya dari kebungkamannya. Reyhan dengan cepat menjawab panggilan tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Kamu dimana? Aku dan Niko sudah berada di kantormu!" ucap Sean di seberang telepon mengingatkan Reyhan jika kedua sahabatnya itu sudah berjanji akan mengunjunginya sepulangnya Reyhan dari perjalanan bisnis.
Seperti yang Reyhan janjikan. Dia tiba di kantornya tepat waktu. Reyhan yang baru saja masuk ke sana langsung duduk di samping Sean sembari menghembuskan napas berat dan itu membuat kedua sahabatnya saling tatap dan bertanya-tanya.
"Ada apa?" tanya Sean penasaran.
"Apa ada masalah dengan pekerjaan?" sahut Niko ikut bertanya.
Reyhan sama sekali tak menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya saat pikirannya masih melayang pada ucapan Kyra yang mengatakan dengan lantang tidak ingin berteman dengannya.
__ADS_1
"Rey! Ada apa?" tanya Sean lagi dengan tangannya menepuk pundak Reyhan menyadarkan Reyhan dari lamunannya.
"Aku semakin membuatnya membenciku. Kenapa aku selalu saja membuatnya kesal? Padahal aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu," ucap Reyhan dengan tatapannya yang terlihat kosong.
"Siapa?" tanya keduanya secara bersamaan.
"Dia mengatakan dengan lantang tidak pantas berhubungan denganku meskipun hanya sekedar berteman, karena aku sudah tua. Apa aku setua itu?" tanyanya lagi yang membuat kedua sahabatnya dapat mengerti dan tertawa kencang dibuatnya.
"Apa ini masih seputaran kasus yang sama? Putri dari Dirga Dwayne, itu?" tanya Niko menatap Reyhan dan Sean bergantian yang ditanggapi Sean dengan anggukan kepala.
"Astaga. Jadi kamu benar-benar mengejar gadis kecil itu, Rey?" tanya Niko yang lagi-lagi dijawab anggukan kepala oleh Sean yang masih tersenyum menatap Reyhan yang bungkam.
"Apa aku terlihat begitu tua?" ucap Reyhan bersuara, tetapi dengan pertanyaan yang sama.
"Usia kalian selisih lebih dari sepuluh tahun, Rey. Enam belas tahun, nyaris setengah dari usianya. Jadi, wajar saja jika dia berkata seperti itu. Penampilanmu tidak terlihat tua, tapi begitu matang untuk gadis seusianya. Cobalah berpenampilan sepertiku," ucap Niko membanggakan penampilannya yang lebih terlihat casual dibandingkan Sean dan Reyhan yang bisa dikatakan selalu mengenakan setelan jas setiap harinya.
"Benarkah akan berpengaruh?" tanya Reyhan menanggapi dengan serius ucapan Niko.
"Percayalah. Setidaknya dia tidak terlalu merasa seperti tengah dekat dengan om-om saat bersamamu," jawab Niko membuat Sean tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencobanya," ujar Reyhan lantang, setelah itu tersenyum sendiri dan itu membuat kedua sahabatnya hanya bisa menertawakan sikap sahabat mereka yang teihat seperti anak ABG baru mengenal cinta.