
Setelah Reyhan pergi, Maria dan Faizan kembali menatap Dinda yang masih berada di sana bersama mereka. Maria menatap iba pada Dinda yang Maria yakini masih mencintai Reyhan, karena terlihat jelas jika sorot mata Dinda yang tadi terlihat bahagia saat bersama Reyhan sekarang berubah sedih.
"Dinda, kamu baik-baik saja?" tanya Maria menyentuh tangan Dinda yang masih terdiam menatap kepergian Reyhan.
"Hah– apa? Oh, aku baik," ucap Dinda tergagap menanggapi pertanyaan Maria.
Dia sama sekali tidak mencintaimu, Dinda. Kenapa kamu masih saja menginginkan, Reyhan? Dia hanya menganggapmu teman, dia bahkan tidak menatapmu sebagai mantan istri. Batin Dinda.
"Ke mana saja kamu selama ini?" tanya Maria yang sebenarnya tak ada yang ingin dibahasnya, tetapi Maria mencoba untuk membuat Dinda merasa nyaman bersamanya. Mengingat masa lalu mereka yang tidak begitu baik, Maria harap ke depannya hubungan mereka menjadi lebih baik dan tidak merasa canggung lagi saat kembali bertemu.
Faizan yang sedari tadi hanya fokus pada Maria, semakin merasa beruntung memiliki Maria. Istrinya benar-benar wanita yang baik, sangat jarang menemukan wanita yang dapat bersikap baik pada wanita yang secara langaung pernah menyakitinya, seperti Dinda. Namun, baik Dinda atau pun Reyhan, Maria sama sekali tidak berniat membalas atau pun membenci mereka. Maria justru merangkul mereka untuk menjadi teman.
"Aku sangat mencintaimu." Dengan tidak tahu malunya, Faizan mendekat pada Maria lalu membisikkan kata cinta untuk Maria yang wajahnya seketika merona mendengar ucapan suaminya.
"Faiz!" ucap Maria penuh penekanan sembari mencubit pelan paha Faizan yang hanya menanggapi dengan tersenyum.
"Kalian benar-benar membuatku, iri. Aku berharap secepatnya mendengar kabar baik dari kalian," ucap Dinda tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Terima kasih," jawab Faizan yang dianggukka oleh Dinda.
__ADS_1
"Bagaimana dengan butikmu? Kamu punya butik, kan?" tanya Dinda berusaha tenang meskipun pikirannya terus saja berputar bertanya-tanya tentang siapa orang yang akan ditemui Reyhan.
"Alhamdulillah, semua baik. Mampirlah ke tempat ku jika ada waktu." Maria dengan tulus menawarkan Dinda untuk datang ke tempatnya.
"Tentu saja aku akan mampir ke butikmu," balas Dinda tersenyum.
"Oh ya, aku minta maaf, karena aku juga harus pergi. Aku janji akan datang ke kantor Papa setelah makan siang," ucap Dinda lagi mencoba untuk pergi dari sana, saat Dinda tak dapat tenang memikirkan Reyhan.
"Hmm... Padahal aku masih ingin berbicara denganmu. Tapi baiklah, masih ada hari esok. Aku tunggu kamu di butik, ya," ujar Maria tersenyum.
"Pasti, aku akan mampir ke butikmu. Aku pergi dulu, ya!" Dinda beranjak pergi dari sana setelah berpamitan pada Maria dan Faizan.
Rasa penasaran serta rasa cemburunya mengingat Reyhan tadi tersenyum saat membaca pesan dari seseorang membuat Dinda tak bisa tenang sekeras apa pun usahanya untuk tetap tenang. Dinda berniat mencari tahu siapa sosok yang akan Reyhan temui.
"Dimana dia? Apa dia sudah tidak berada di sini?" gumam Dinda menatap kesana-kemari mencari keberadaan Reyhan.
Dari kejauhan, seseorang yang sedari tadi diam-diam memperhatikan itu semua, perlahan mendekat. "Kamu mencari seseorang?" tanyanya mengejutkan Dinda yang seketika menoleh ke asal suara.
"Kamu mencari seseorang?" ulang orang itu kembali bertanya pada Dinda yang masih terdiam menatap sosok yang sama sekali tidak dikenalnya.
__ADS_1
Siapa wanita ini? Batinnya.
Dinda mencoba untuk tersenyum. "Ya, aku saya mencari seseorang. Apa Anda melihat orang ini?" tanya Dinda memperlihatkan foto Reyhan yang sampai sekarang masih di simpannya. Foto yang Dinda perlihatkan adalah foto pernikahannya dan Reyhan dulu.
"Oh, Anda mencari suami Anda," ucap wanita itu yang di tanggapi Dinda dengan senyuman.
Ternyata ini mantan istri Reyhan. Batin wanita yang berbicara dengan Dinda.
"Anda melihatnya?" tanya Dinda lagi pada wanita yang tengah terdiam menatap foto yang diperlihatkannya.
"Ya saya melihatnya ke arah sana! Dan maaf, sepertinya dia menemui seorang wanita." Tunjuk wanita itu, membuat Dinda yang mendengar langsung menengok ke arah yang di tunjuknya.
"Baiklah, terima kasih Nona. Saya akan menyusulnya," ucap Dinda bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari wanita yang tengah menyeringai menatap kepergiannya.
Kamu turut membuat semua rencanaku berantakan, Rey. Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia bersama siapa pun. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan untukmu. Ucap wanita itu dalam hati menyimpan kebencian yang amat besar pada Reyhan.
__ADS_1
Kalian Tau nggak ini siapa? Tebak Yok!