Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Kenapa Om Mendekatiku?


__ADS_3

Reyhan sudah menceritakan kisah masalalunya pada Kyra. Gadis itu memiliki banyak sekali pertimbangan yang bisa diambil untuk hubungannya dengan Reyhan. Setelah mendengarkan kisah masalalu Reyhan, kini Kyra mulai menunjukkan pergerakan untuk bertanya.


Kyra beberapa kali terlihat menggerakkan bibirnya, tetapi wajahnya masih bingung dengan pertanyaan yang akan diucapkan. Gadis itu mengerjap beberapa kali hingga membuat Reyhan bertanya. “Sayang, ada apa? Apa sesuatu terjadi di pikiranmu?” sahut Reyhan yang menydari kebingungan Kyra.


“Tidak, bukan itu, Om. Aku tidak bingung, hanya sedikit linglung.” Kyra menjawab dengan gugup, seakan takut jika Reyhan bisa membaca pikirannya.


“Hmm, mau sampai kapan kamu bicara dengan formal seperti itu?” Reyhan mulai tidak nyaman dengan gaya bicara Kyra yang terlalu formal menurutnya. Gadis itu bahkan tidak melemaskan setiap ucapannya.


“Sampai aku merasa yakin.”


Reyhan berdecih, seakan tak bisa menerima alasan Kyra.


Akhirnya, setelah perdebatan singkat itu, Kyra kembali bertanya pada Reyhan mengenai wanita yang pernah ada di masalalunya.


“Jadi, setelah pernikahan itu, apa sampai saat ini … Om masih bertemu dengan Maria? Om tahu di mana Maria berada?”


“Beberapa kali aku bertemu dengannya. Hanya saja … kami tidak akrab seperti sebelumnya. Aku sadar dengan kesalahan itu, jadi … aku pikir, tidak mungkin dia bisa memaafkan kesalahan besar yang kubuat.”


Kyra mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti dengan apa yang dikatakan Reyhan.


Keduanya kembali terdiam, seakan kehabisan kata-kata. Di antara keheningan mereka, ponsel Reyhan terus berdering. Kyra yang terganggu menyuruh pria itu untuk menerima panggilan yang mungkin saja penting.


“Om. Kenapa tidak diangkat saja dulu?”


Reyhan kembali terkekeh, dia pun meraih ponsel dan menerima panggilan itu. Reyhan hanya mengatakan dua kalimat dan membuat orang di seberang sana hanya menjawab ‘ya’.


“Tetlalu jahat jadi atasan. Itu kan pekerjaan yang seharusnya Om kerjakan.”


“Jika terjadi sesuatu, aku bisa saja menjadikanmu alasan. Bukankah kamu yang memperlambat semua ini?”


Kyra terkejut dengan ucapan Reyhan. Kenapa sekarang dirinya yang disalahkan? Pikir Kyra.


Tidak ingin menjadi sasaran, Kyra kembali mengalihkan perhatian Reyhan dengan bertanya mengenai Dinda.

__ADS_1


“Ya sudah, sekarang … bagaimana hubungan Om dan Dinda? Tidak ada rasa bersalah dalam diri Om untuk Dinda?”


“Kamu benar-benar membuatku merasa gemas. Kamu bertanya seakan aku tengah melamarmu untuk menjadi istriku," ucap Reyhan kembali membuat wajah Kyra merona.


Kyra hanya diam, tak ingin menanhgapinya. Kyra hanya menunggu jawaban Reyhan atas pertanyaannya. "Dinda memiliki obsesi padaku. Dia mencintaiku, tetapi tidak denganku. Hubungan kami tidak berlangsung lama karena pernikahan itu terjadi, selain atas permintaan orang tua, di balik itu … Dinda datang dan mengatakan pada orang tuaku tentang perasaannya. Pernikahan itu pun terjadi dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebuah hubungan yang terpaksa dan berakhir seperti ini.”


Kyra pun sadar dengan obsesi yang dikatakan Reyhan tentang Dinda. Saat bertemu dengan wanita itu, Dinda memang menunjukkan bahwa dirinya sangan mencintai Reyhan. Sayang, cintanya tak terbalas dan berakhir tragis. Pantas saja saat itu Dinda datang untuk meminta Kyra menjauh dari Reyhan. Akhirnya, sebuah kenyataan menjadi pencerah pikirannya.


“Kenapa? Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?” tanya Reyhan sembari kembali menyentuh wajah Kyra. Menyentuh wajah Kyra seakan menjadi hobi barunya.


“Ti-tidak ada yang aku pikirkan, Om. Jadi … Dinda itu memang mencintai Om, tetapi karena cintanya tak terbalas, dia melakukan berbagai cara untuk bisa memiliki Om? Hingga akhirnya berakhir seperti sekarang? Apa Dinda masih mengejar dan membujuk Om untuk kembali atau memperbaiki hubungan?” tanya Kyra terus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Karena obsesi, Dinda masih berharap untuk bisa bersamaku lagi. Tetapi semua akan sia-sia, itu karena aku tidak peduli dengan apa pun yang dilakukannya. Mungkin aku bisa saja membuka hatiku, tapi aku yakin namanya tidak akan bisa memasuki hatiku.”


“Jahat sekali, kasihan dia."


“Jahat kamu bilang? Aku akan lebih jahat jika hanya memanfaatkannya saja, Kyra. Aku tidak ingin kisah Maria kembali terulang.”


Keduanya kembali terdiam, Kyra hanya mengedarkan pandangan dengan sesekali mencuri pandang pada pria tampan di depannya. Ya, meski usianya yang tidak lagi muda, Reyhan memiliki pesona seorang pria mapan layaknya sugar daddy.


Aku berkata seperti itu seakan niatku pada Kyra tulus. Rey, sejak kapan kamu pandai berbohong? Batin Reyhan.


“Mau sampai kapan kamu bertanya? Aku tidak tahan lagi untuk mendengar jawabanmu," ucap Reyhan kembali mencoba fokus pada tujuannya meski Reyhan tahu itu salah.


“Masih banyak yang ingin aku ketahui sebelum memutuskan, jawab Kyra sembari memberi isyarat bahwa masih ada pertanyaan selanjutnya untuk Reyhan.


“Hahaha, kamu sungguh menggemaskan. Baiklah, pertanyaan apalagi yang ingin kamu tanyakan? Aku akan menjawab semua pertanyaan itu.”


Kyra meirngis mendengar ucapan Reyhan. Kali ini, pertanyaan itu akan membuat Reyhan berpikir lagi dalam hubungan mereka.


“Kenapa? Masih merangkai kalimat di kepala?” tanya Reyhan.


Kyra menghembuskan napasnya kasar, merasa bahwa Reyhan semakin menyebalkan untuknya. Bahkan terbesit dalam pikiran Kyra, apa mungkin hubungan mereka bisa seimbang?

__ADS_1


Baru saja Kyra akan mengeluarkan pertanyaan selanjutnya, tiba-tiba saja ponsel Reyhan berdering dan membuat Kyra mengurungkan niatnya.


“Sayang, aku terima telepon ini dulu ya? Sebentar.”


Tanpa menunggu jawaban, Reyhan beranjak dan menerima telepon itu.


“Terima telepon saja menjauh, sudah seperti menerima panggilan dari selingkuhan nih orang.” Kesal Kyra yang tiba-tiba melihat Reyhan beranjak dari sana.


Cukup lama Kyra menunggu, hingga hampir saja dia kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Namun, Reyhan justru kembali dengan menggodanya. “Mau ke mana, hum?”


“Ham hum ham hum, namaku Kyra, Om.”


“Ya, ya … Sayang. Kyra ku."


“Ih, sulit ya untuk hanya mengatakan Kyra?”


“Tidak. Hanya saja itu bentuk rasa sayangku,”


Kyra menepuk dahinya mendengar panggilan yang menurutnya menjijikan itu.


“Baiklah, apa pertanyaan selanjutnya? Kamu pikir aku tidak melihatnya? Kamu pasti kesal karena panggilan telepon itu, bukan? Cemburu?”


Bagaimana dia bisa tahu? Tidak, aku tidak cemburu. Batin Kyra.


Setelah mengangguk, Kyra akhirnya bertanya, “Jadi, Om masih mencintai Maria, bukan?”


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Jika Om masih mencintai Maria, lalu Om sendiri sudah mengumumkan kegagalan untuk berpindah hati, lalu … kenapa sekarang Om ada di sini? Kenapa Om mendekatiku? Apakah Om bisa menjamin tidak akan memikirkan Maria atau membandingkan aku dengan sang mantan?”


Reyhan hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Entah kenapa suaranya terhalang untuk keluar. Rasa-rasanya kerongkongan Reyhan membutuhkan air yang cukup banyak agar bisa menjawab. Bingung, Reyhan bahkan terlihat jelas tidak bisa menjelaskan pada Kyra mengenai hubungan mereka ke depannya.


“Om, kenapa diam? Jawab aku!”

__ADS_1


__ADS_2