
Mendengar hal itu, Kyra langsung tersenyum bahagia, begitu juga kedua perempuan itu. Mereka ikut bahagia karena akhirnya gadis yang mereka cemburui bisa pergi dari rumah ini sehingga mereka bisa kembali menjadi ratu dan putri.
"Kyra, nanti akan Mama suruh sopir untuk mengantarmu pulang, kamu jangan pulang sendirian, Mama khawatir." Inggrid langsung memanfaatkan situasi, supaya sang suami semakin terkesan padanya.
Namun, hal itu sia-sia karena Dirga segera berkata: "Aku yang akan mengantarkannya pulang. Nanti sopir yang akan mengantar mobil Kyra."
Sontak saja senyuman di bibir Inggrid langsung memudar. Rasa cemburu dan iri semakin memucuk hingga ubun-ubun. Inggrid ingin marah, tapi tak mungkin karena dia harus jaga image di depan sang suami.
Usai sarapan, Dirga dan Kyra langsung pergi dari rumah ini. Inggrid memeluk erat Kyra sembari pura-pura bersedih karena harus kehilangan putri tirinya, meski terkesan agak berlebihan. Sandra pun demikian, dia memeluk erat Kyra sembari pura-pura menangis karena sedih harus kehilangan saudari tirinya di rumah ini.
"Syukurlah kamu pergi, jangan pernah kemari lagi!" desis Inggrid ketika tadi memeluk Kyra.
Gadis cantik tahun itu tak mau kalah, dia ikut berbisik yang membuat Inggrid ingin sekali berteriak karenanya. "Ini rumahku, Nenek Tua."
Dirga segera menginjak gasnya ketika Kyra sudah masuk di dalam mobilnya. Dirga melambaikan tangan pada istri dan putri tirinya kemudian langsung meninggalkan halaman rumah mewah ini.
Satpam yang sedari tadi sudah siap siaga membuka gerbang memberikan senyuman kepada majikannya ketika keluar dari gerbang rumah.
"Hati-hati di jalan, Tuan, Non!" ujarnya ramah sembari membungkukkan badan.
"Sampai jumpa, Pak," jawab Kyra tak kalah ramah.
__ADS_1
Sebetulnya Kyra sangat suka tinggal di rumah Papi, selain karena bisa bertemu dan sering mengobrol dengan Papi, terlebih sikap papinya sekarang sudah jauh lebih baik dari dulu yang sangat terkesan cuek, pun para pelayan dan satpam di rumah ini sangat ramah padanya. Hanya saja dua perempuan menyebalkan itu yang membuat dia enggan untuk tetap di rumah ini.
Selama di perjalanan, Kyra habiskan dengan mengobrol bersama Dirga. Jarang sekali bisa seperti ini, jadi mumpung sedang bersama, Kyra tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
Sudah lama sekali dirinya tak begini bersama Papi. Kyra sangat bersyukur karena akhirnya sekarang bisa kembali bersua dengan papinya ini. Meski memang tak bisa selamanya begini sepanjang waktu, tapi Kyra mencoba mengerti dan tak terlalu mempermasalahkan hal itu. Toh, dirinya sudah terbiasa menjalani hari-harinya. Dia sudah cukup berani dan mandiri.
Sampai di rumah, Kyra langsung disambut oleh satpam yang selalu menjaga rumahnya itu. Dengan senyuman mengembang sang satpam segera membukakan pintu gerbang, membiarkan majikannya itu masuk ke dalam.
"Selamat datang kembali, Non!" pekiknya riang.
"Apa kabar, Pak?" tanya Kyra.
"Sangat baik," jawab Pak Satpam sembari nyengir membuat Kyra terkikik geli, satpamnya itu memang kocak membuat Kyra selalu ingin tertawa ketika melihatnya.
"Hai, Bi," sapa Kyra disertai senyuman.
"Akhirnya Non Kyra pulang, apa kabar, Non?" tanyanya berbasa-basi.
"Kabar baik. Bi, buatkan teh hangat untuk Papi, ya!" pinta Kyra yang langsung dijawab dengan anggukan dan ekspresi siap siaga oleh sang pelayan.
"Papi seolah merasa sudah lama sekali tidak ke sini," gumam Dirga sembari berjalan bersama Kyra masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Pi, aku ke belakang dulu, Papi tunggu di sini sebentar," ujar Kyra kemudian segera pergi ke belakang untuk buang air setelah Papi mengangguk.
"Ini, Tuan, teh hangatnya, silakan diminum," ujar sang pelayan setelah kembali dari dapur.
Selagi Kyra tak ada, Dirga segera melaksanakan tugasnya yang dia rancang sedemikan rupa. Inilah salah satu alasan dia ingin mengantar Kyra pulang, yakni ....
"Bi, saya mau bicara sebentar boleh?" tanya Dirga.
Sang pelayan segera mengangguk, "Tentu, Tuan!"
"Saya minta tolong perketat keamanan rumah ini, sampaikan kepada Satpam untuk selalu bertanya mau ke mana pada Kyra ketika dia keluar. Setelah itu langsung kabari nomor ini."
Dirga memberikan sebuah kertas yang terdapat nomor telepon di sana. Sang pelayan dengan sigap langsung mengangguk dan menerima kertas tersebut.
"Jaga Kyra di rumah ini, jika terjadi hal yang aneh atau mencurigakan, langsung hubungi nomor ini. Saya khawatir pada Kyra, dia bilang pernah hampir dicelakai oleh orang asing. Apakah Kyra pernah menceritakan itu padamu, Bi?"
Pelayan itu langsung menggeleng, karena meski Kyra ramah padanya, dia belum pernah menjadi tempat curhat majikannya itu.
"Saya tidak tahu, Tuan. Selama saya bekerja Non Kyra memang sangat ramah dan baik, tapi dia tak pernah menceritakan apa pun masalah yang dialaminya."
Mendengar itu Dirga mengangguk mengerti. Mungkin nanti ketika dia ada waktu luang akan pergi menemui Wardah, karena selain dirinya dan mantan istri, Wardah adalah sosok yang paling dekat dengan Kyra.
__ADS_1
"Ya sudah, Bi. Tolong sampaikan ini kepada seluruh pelayan dan satpam, tapi jangan sampai Kyra tahu."
Pelayan segera mengangguk kemudian pergi dari ruangan keluarga karena urusannya sudah selesai dengan Dirga.