Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Penjelasan dari Dinda dan Arfana


__ADS_3

"Bagaimana jika kita snorkling saja?" usul Andini pada Kyra yang tengah merencanakan kegiatan esok hari.


Kyra yang mendengar hal tersebut segera menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin bermain air besok," jawabnya lesu.


Mereka sedang berada di dalam kamar hotel, setelah acara makan malam selesai. Kyra dan dua sahabatnya, tengah berbaring dan membicarakan rencana mereka berlibur.


"Dugem aja, yuk! Di Bali kan banyak Bar," sahut Silva dengan senyum puas.


Andini langsung melempar bantal pada temannya itu dan tertawa kencang. "Kamu mau dijadikan makanan singa sama papi Kyra?"


Suasana kamar itu begitu riuh akibat candaan Silva. Mereka masih saling berdebat, ketika pintu kamar tiba-tiba diketuk.


Tawa yang tadinya terdengar saling menyahut, langsung terhenti seketika. Mereka saling pandang, lalu mengangkat bahu bersamaan.


"Papimu?" tanya Andini mengangkat sebelah alis heran.


"Mungkinkah kekasihmu?" sahut Silva menggoda.


Kyra hanya menggeleng dengan kekehan. Lalu beranjak turun dari ranjang untuk membuka pintu. Dia mengira, ayahnya atau kekasihnya yang datang. Tapi ternyata tidak.


Tubuh Kyra mendadak kaku, saat melihat Dinda di depannya bersama seorang wanita yang tidak dikenal. Wanita itu merasa kesal, jika mengingat apa yang terjadi.


"Ayo, Dinda! Cepat katakan tujuanmu datang ke sini."


Suara mendesak dari belakang membuat Kyra menoleh. Dia baru menyadari jika bukan hanya dua orang di depan kamarnya saat ini. Melainkan dua orang lainnya lagi, yang dia kenal sebagai mantan kekasih Reyhan--Maria--dan juga suaminya.


"Apa yang kalian lakukan di sini, Kak?" tanya Kyra dengan wajah tanpa ekspresi. Dia tak ingin menunjukkan, betapa kesal, marah, dan sedihnya dia saat ini.

__ADS_1


"Dinda!" desak Maria lagi, yang kini mencengkram bahu Dinda dengan erat.


Kyra yang melihat itu hanya diam, mengerutkan dahi heran. Meskipun penasaran, dia sama sekali tak berniat membuka mulut.


Dinda tampak meringis kesakitan, dia menoleh dan menatap Maria dengan wajah kesal. Setelahnya, barulah dia menghadap pada Kyra. "Maafkan aku, Kyra," ucapnya kemudian dengan suara yang enggan.


"Katakan yang baik!" ancam Maria lagi dengan tegas.


"Masuklah, tidak baik berbicara di depan pintu!" pinta Kyra kemudian, meskipun dia tampak ragu dan begitu enggan, tapi dia tidak suka ketika beberapa orang lewat melihat ke arah kamarnya.


Dia membiarkan para tamu tak diundangnya masuk ke dalam kamarnya, mempersilahkan mereka duduk di sofa. Dinda menutup pintu dan segera menyusul setelah semuanya masuk.


"Jadi, ada apa?" tanyanya lagi, memulai pembicaraan yang sempat terputus. Kyra duduk di satu-satunya kursi sofa tunggal yang ada di sana.


Dinda memejamkan mata sekilas, sebelum menatap Kyra dengan terpaksa. Melihat tatapan tajam Maria, membuatnya mau tak mau menurunkan harga dirinya yang begitu tinggi.


Dahi Kyra berkerut dalam mendengar hal tersebut. Meskipun begitu, dia tetap diam mendebarkan tanpa berniat untuk menyela.


"Semua yang terjadi hanyalah tipuan belaka, karena itu adalah rekayasaku. Aku mencintai Reyhan, tapi dia sama sekali tidak pernah melirikku. Hal ini yang membuatku akhirnya nekat melakukan hal buruk, agar kamu bisa berpisah dengannya. Ini semua juga karena kamu tidak menepati janji padaku." Dinda melanjutkan penjelasannya.


"Dinda! Janji apa? Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Maria bingung.


"Dia meminta Kyra menjauhi Om Duda, Kak. Katanya dia cinta Om Duren dan ingin kembali bersama om duren," sahur Andini membuat tatapan Maria semakin tajam pada Dinda.


"Kamu memang tidak berubah, Dinda." cibirnya.


"Maafkan aku, Kyra. Foto-foto yang kamu dapat sebelumnya adalah rencanaku yang dibantu oleh temanku, Arfana. Saat itu, seperti biasa aku pergi ke klub untuk bersenang-senang. Tanpa diduga, aku bertemu dengan Reyhan. Lelaki itu sudah mabuk saat aku bertemu dengannya. Dia terus saja mengeluh tentang dirimu, dan tampak frustasi memikirkan masalah denganmu. Aku yang merasa cemburu, akhirnya melakukan rekayasa jika kami sedang mabuk bersama." Dinda mengabaikan Maria, dia ingin menyelesaikan secepatnya urusannya di sana. Dinda bahkan menunduk, tak berani berbicara sambil menatap ke arah lawannya.

__ADS_1


Tenggorokan Kyra terasa tercekat mendengar semua penjelasan itu. Ada perasaan aneh yang membuat hatinya berdebar, setelah mengetahui kenyataan jika Reyhan benar-benar tidak bersama Dinda. Meski sudah mendengar penjelasan itu dari Reyhan, tapi sungguh, Kyra benar-benar sangat lega sekarang. Meskipun begitu, dia masih tak menampilkan rasa senangnya untuk saat ini. Dia masih berusaha bersikap acuh, agar tidak terlihat jelas jika dia bahagia dengan kabar ini.


Melihat Kyra masih terdiam dan tak mau menyahut, membuat Dinda segera maerih tangan wanita itu. "Kamu mau, kan memaafkanku?"


Bukan tanpa sebab Dinda mengemis maaf dari Kyra. Itu semua karena Maria dan suaminya benar-benar mengancamnya. Dia tidak mau hal buruk terjadi padanya.


Embusan napas panjang keluar dari bibir Kyra. Wanita itu melepaskan pelan dengan paksa genggaman tangan Dinda. Rasanya, dia sungguh tidak nyaman disentuh wanita yang telah merusak hubungannya dengan Reyhan.


"Apa jika aku memaafkanmu kamu tidak akan mengulangi hal ini lagi? Bagaimana jika kamu semakin dendam padaku dan terus berambisi untuk menghancurkanku kembali?" tanya Kyra dengan suara dingin menatap Dinda tajam.


Hal ini tentu saja langsung membuat Dinda gugup. Dia merasa salah tingkah, karena merasa jika Kyra bisa membaca pikirannya.


"Dia tidak akan mengulanginya lagi, Kyra. Iya, kan, Dinda?" sahut Maria, melotot penuh amarah pada Dinda. Sosok yang biasanya terlihat kalem itu sekarang terilhat seperti singa yang siap siaga untuk menerkam mangsanya.


Melihat itu, membuat Dinda tersenyum meringis. "Ya ... aku tidak akan mengulanginya lagi, aku janji!" tuturnya dengan cepat.


Maria tersenyum senang mendengarnya. Dia lalu mengalihkan pandangan, pada Arfana yang sejak tadi masih terdiam. "Kenapa kamu tidak berbicara, Arfana? Apa kamu datang ke sini hanya untuk menjadi patung?" sindirnya mengingatkan.


Teman Dinda itu tampak tertekan, dia segera mendekati Kyra dengan salah tingkah. "Maafkan aku juga, Kyra. Jika saja aku tidak membantu Dinda kala itu, aku yakin semuanya tidak akan pernah terjadi." Dia berbicara, sambil sesekali melirik ke arah Maria. Ucapannya terdengar begitu datar, seolah dia tak bersungguh-sungguh menyesal untuk meminta maaf.


Tatapan Arfana menyimpan dendam. Ada perasaan malu dalam dirinya, yang dipaksa menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf. Wanita itu benar-benar terlihat tidak ikhlas atas apa yang dia lakukan saat ini.


Kyra tahu hal itu, bukan hanya Arfana, bahkan untuk Dinda sekalipun dia tahu jika semuanya palsu. Meskipun begitu, dia tidak ingin mempermasalahkannya. Untuk saat ini, dia tak akan membesarkan masalah. Cukup dengan mendengar kenyataan yang sebenarnya, telah membuat hatinya sedikit tenang.


"Baiklah, aku memaafkan kalian." Kyra akhirnya bersuara, setelah lama terdiam. Wanita itu menatap meja di hadapannya dengan sorot mata yang tajam, setelah mengembuskan napas dengan panjang. Sama seperti yang dilakukan Dinda dan Arfana, jika dia pun tidak rela mengatakan menerima permintaan maaf. Tetapi mau bagaimana lagi?


Dinda tersenyum senang mendengarnya, dia tiba-tiba saja berdiri dan menata Maria dengan kesal. "Kamu sudah melihatnya, karena Kyra sudah memaafkan, urusanku sudah selesai di sini." Tanpa mengatakan pamit, dia langsung berbalik pergi begitu saja yang langsung diikuti oleh Arfana.

__ADS_1


Silva dan Andini yang melihat itu berdecak kesal. "Dasar mak lampir!" umpatnya lirih bersamaan dengan marah.


__ADS_2