
Di kantor Dirga.
Seorang pria datang dengan membawa amplop cokelat berisi foto dan bukti lain mengenai kedekatan Kyra dengan Reyhan. Dirga memukul meja dengan keras hingga membuat pria di depannya terjingkat karena terkejut.
Dirga meraih amplop itu dan melihat ke dalamnya. Rupanya Ada yang mengenali Kyra saat berada di pesta ulang tahun Razka.
Tidak hanya ada satu foto saja yang menampilkan kemesraan dan kedekatan mereka. Di foto itu juga, menampilkan kebahagiaan yang tercetak jelas di wajah girang saat bermain dengan Zeta. Dirga mengira anak perempuan itu adalah anak Reyhan.
"Kurang ajar! Berani sekali Dia mendekati putriku, akan kuberi pelajaran pria itu jika berani menyentuhnya."
Kertas foto itu menjadi pelampiasannya, setelah diremas hingga tak berbentuk, kertas foto itu pun dilemparkan ke tempat sampah. Dirga kini kembali duduk dan mendengarkan informasi yang didapatkan orang kepercayaannya.
“Mereka datang ke salah satu ulang tahun anak pengusaha dari Kalimantan. Setelah saya mencari tahu, ternyata mereka berteman sejak lama, itulah alasan kenapa Reyhan bisa hadir di sana, bersama putri anda. Jika dilihat dari foto yang didapatkan, sepertinya Nona Kyra sudah mengenal mereka lebih lama dari perkiraan, Tuan.”
Hati Dirga seakan ditusuk, bagaimana bisa putrinya berbohong padanya?
“Ini pasti ulah pria itu, dia mengajarkan putriku kebohongan pada ayahnya!”
“Tuan, dari informasi yang didapat juga … sepertinya Reyhan sangat sering berkunjung ke rumah putri Anda.”
Brak!
“Aku tidak bisa diam saja jika begini.”
Dirga beranjak dari sana dan mengemudikan mobilnya menuju rumah Kyra membawa semua amarah yang siap untuk dilampiaskan.
***
Suasana di halaman depan tampak sangat sepi, seperti tidak ada penghuni di rumah itu. Benar saja, Dirga yang masuk ke rumah tidak menemukan keberadaan putrinya di sana.
Baru saja Dirga akan bertanya pada salah satu asisten di rumah itu, dia mendapatkan sebuah pesan yang mencantumkan link.
Dirga menekan link itu dan terhubung pada sebuah berita tentang kedekatan Reyhan dengan seorang gadis cantik yang tak lain adalah Kyra. Di sana, potret Kyra terpampang jelas oleh media. Berita itu bahkan sangat cepat tersebar hingga menjadi viral di dunia media sosial.
__ADS_1
“Apa-apaan ini?” gumam Dirga menahan amarahnya.
Dari dapur, terlihat asisten rumah sedang mengintip dan berharap tak dipanggil oleh Dirga. Namun, sungguh sial bagi mereka yang ada di rumah itu, Dirga sudah mencium persekongkolan antara asisten rumah dengan Kyra.
“Cepat katakan padaku! Di mana Kyra berada?” tanya Dirga dengan tegas.
“A-ampun Tuan … kami tidak tahu ke mana Non Kyra pergi. Kami benar-benar tidak diberitahu tentang kepergiannya kali ini.”
“Bohong! Kalian pasti menyembunyikan sesuatu dari saya! Cepat katakan!”
“Maaf, Tuan. Tetapi memang benar, Non Kyra bahkan tidak tahu akan pergi ke mana? Dia hanya mengatakan akan pergi bersama teman-teman barunya, hanya begitu yang saya tahu.”
Tangan Dirga mengepal seakan tidak bisa menerima apa yang didapatkan di sana.
***
Sementara itu di pulau tempat Kyra dan Reyhan berlibur. Hari ini adalah hari terakhir mereka di sana. Kyra tampak senang meski hatinya tengah gelisah. Sebuah toko oleh-oleh menjadi tujuan mereka kali ini. Semua orang berbelanja dan membeli banyak sekali buah tangan untuk keluarga mereka yang ada di Jakarta.
“Sayang, kamu mau beli apa?”
“Ra, sini! Aku bantu pilihin oleh-oleh yang bisa kamu bawa pulang,” panggil Jenny dan Naura yang kini sedang memilih beberapa camilan di sudut toko.
Kyra tentu saja dengan senang hati menghampiri keduanya. Mereka sangat akrab saat memilih beberapa camilan dan barang untuk menjadi buah tangan.
“Ini nih enak loh, Ra. Aku pernah beli ini tapi nggak pernah banyak, soalnya memang stok di sini limited. Wajib banget kalau kamu mau.” Jenny seakan sudah sering berlilbur di sana dan tahu apa saja yang dijual di toko itu.
“Ini juga, Ra. Kalau yang ini agak asem rasanya. Tapi enak kalau pas di makan sambil ngerjain tugas atau kerjaan.” Naura tak mau kalah dengan menunjukkan camilan andalannya.
Dari kejauhan, Maria melihat keakraban itu, bahkan sesekali dia juga menaruh perhatian pada Kyra yang terlihat jelas seperti tidak begitu menikmati liburan ini.
Saat Maria dan Faizan berada di dekat Reyhan, Maria berpesan pada pria itu untuk menjaga Kyra. “Sepertinya aku melihat ada kegelisahan dari awal kita datang kemari. Jika memang benar, sebaiknya kamu bicarakan dengannya secara perlahan.”
“Aku tahu apa yang menjadi kegelisahannya, Ri. Terima kasih sudah menaruh perhatian pada Kyra. Dia memang sedikit berbeda dengan gadis pada umumnya.”
__ADS_1
“Semangat, Rey! Perjuangkan dia jika kamu memang benar-benar mencintainya. Jangan sampai ada penyesalan lagi dalam dirimu.” Faizan ikut menambahkan. Meski ucapan Faizan benar, tapi entah kenapa Reyhan selalu merasa ucapan Faizan seperti sindiran tajam untuknya
“Terima kasih untuk kalian. Kalian sangat perhatian padaku dan Kyra. Tentu saja melihat di antara kita semua, hanya aku yang masih sendiri.” Reyhan tertawa kecil setelah mengatakan kalimatnya.
“Guys, pesawat kita take off sore, jadi kita ke bandara satu jam lagi!” Sean mengingatkan teman-temannya.
“Oke.”
Reyhan berjalan mendekati Kyra, gadis itu sedang memilih beberapa camilan yang akan dibagikan untuk asisten rumahnya, dia juga tidak lupa membawa oleh-oleh untuk dua sahabatnya—Andini dan Silva.
“Uhm, apa wajahku terlihat jelas?” tanya Kyra tiba-tiba.
“Iya. Apa yang kamu pikirkan? Bahkan mereka semua bisa melihatnya.”
“Entahlah, seperti ada sesuatu yang buruk sedang menungguku, aku bahkan tidak tahu apa itu? Mungkinkah ….”
“Ssstt, sekarang kamu harus menenangkan diri dulu, jangan terbawa emosi. Jika memang ada sesuatu yang buruk terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu, Sayang.”
“Baiklah, aku akan berusaha untuk tidak lagi memikirkannya.”
“Kita akan berangkat ke bandara dalam beberapa menit lagi. Apa masih ada barang lain yang ingin kamu beli?”
“Tidak ada, ini saja sudah cukup.”
Mereka bergabung dengan yang lainnya di depan toko oleh-oleh. Maria mendekati Kyra dan bertanya tentang apa saja yang dibeli di toko itu?
“Kamu suka dengan liburan ini, Ra?”
“Suka, Kak. Aku senang sekali, setelah sekian lama tidak pergi berlibur.” Kyra tersenyum dan mengartikan bahwa dia baik-baik saja.
Berbeda jauh dengan apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Para asisten rumah Kyra sedang berjajar rapi di depan Dirga. Pria itu berkacak pinggang menunggu penjelasan satu per satu dari mereka tentang kunjungan Reyhan di rumah itu.
“Sampai kapan kalian akan diam seperti ini? Apa kalian pikir aku tidak bisa memberhentikan kalian karena tidak berkata jujur padaku?” sebuah ancaman dilayangkan Dirga hingga membuat beberapa dari asisten di sana gemetar ketakuran. Dirga sungguh tidak bermain-main dengan ucapannya kali ini.
__ADS_1
“Aku berikan kalian waktu untuk menjawab! Ke mana dan kapan Kyra akan kembali ke rumah ini?”