
Setelah pertemuannya dengan Dirga, Reyhan merasa buruk untuk Kyra. Pria itu tidak menyangka jika Dirga akan mempermasalahkan usia mereka yang terpaut jauh. Di sisi lain, niat awal Reyhan untuk mendekati Kyra pun membuatnya terus berpikir.
Reyhan akui jika sejak awal niatnya salah, bahkan hingga saat ini Reyhan masih saja menganggap Kyra sebagai pelampiasannya sebab jauh di lubuk hatinya nama Maria belum sepenuhnya hilang.
Berada di dekat Kyra, mengingat Kyra, berbicara tentang Kyra atau apa pun itu yang berhubungan dengan Kyra selalu saja dapat membuat Reyhan merasa terhibur. Reyhan terlepas dari kesedihannya yang hampir selalu mengenang Maria, semua itu juga karena berkat Kyra. Reyhan bisa saja melepaskan Kyra jika Dirga tidak menyukainya, tetapi mengingat jika Kyra adalah satu-satunya obat mujarab untuk menghilangkan kesedihannya, membuat Reyhan berpikir keras, akan apa yang harus dia lakukan.
Memikirkan itu Reyhan semakin frustasi sebab jika jalan pikirannya masih seperti itu, itu artinya Reyhan masih saja menganggap Kyra sebagai pelampiasannya.
Apa sebenarnya arti Kyra untukku? Batin Reyhan.
Mobil yang dikendarai Reyhan tidak pernah sampai di rumah setelah perdebatannya dengan Dirga selesai. Reyhan justru menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah kelab malam, tempat yang sangat jarang Reyhan datangi sejak dulu, apa lagi tanpa kedua sahabatnya.
Tubuhnya yang terasa tak bertenaga masuk ke kelab itu dan duduk di depan meja bar.
“Ron, siapkan wine terbaikmu.” Reyhan meminta itu pada salah satu bartender yang dulu pernah bekerja pada Niko–sahabatnya.
“Oke.”
Reyhan menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. Beberapa kali dia menarik napas dengan berat. Sungguh hari yang sangat kacau untuknya setelah kebahagiaan itu hadir. Beberapa hari bersenang-senang, saat pulang dalam sekejap kesenangan itu ilang.
“Satu gelas wine terbaik siap.”
“Aku minta satu botol, Ron!”
“Oh, maaf, Bos. Lagi galau, Bos?”
“Jangan banyak tanya, Ron. Pikiranku sedang kacau sekarang.”
Roni, pemuda yang cukup tampan itu bisa dikatakan sudah mengenal Reyhan karena beberapa kali mampir dan memberikan tip yang lumayan, terlebih lagi Roni pernah bekerja dengan Niko. Kali ini, Roni menuruti apa yang diinginkan Reyhan, satu botol wine terbaiknya tersedia di atas meja.
__ADS_1
Reyhan meraih leher botol itu dan menenggaknya sekaligus. Reyhan sungguh tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.
“Bos, Anda baik-baik saja, kan?” tanya Roni saat melihat Reyhan sudah tak bisa lagi menopang tubuhnya.
“Hmm, padahal aku ini kaya, tampan, tetapi kenapa mereka memikirkan usia? Aku tampan, aku sangat kuat. Yang pasti, aku masih bisa melakukannya hingga berhari-hari jika dia mau."
Reyhan mulai bergumam, ucapannya sungguh tak dapat dimengerti oleh Roni.
'Apa ini masih tentang Nona Maria? Dia belum juga move on? Batin Roni.
Sementara itu, di tempat duduk VIP. Dinda—mantan istri Reyhan—sedang duduk menatap layar ponselnya. Dinda ikut kesal karena berpikir Kyra tidak menepati janjinya. Dinda berkali-kali mengumpat dan menyumpah serapah pada benda di tangannya.
Malam ini, Dinda sedang menikmati kesendiriannya di sudut kelab itu. Sudah ada cocktail dan camilan di mejanya. Hanya saja, tak ada seorang pun yang menemaninya saat ini.
“Sialan kamu Kyra! Awas saja kalau ketemu! Kenapa kamu justru berpacaran dengan Reyhan? Kemarin aku sempat kagum padamu karena dapat mengerti perasaanku, tapi ternyata semua itu hanya sandiwara. Bikin kesal saja kamu, dasar gadis genit," gerutu Dinda sembari meminum cocktail miliknya.
Tatapan mata Dinda mengedar ke seluruh ruangan. Dari sana, matanya menyipit saat melihat sosok yang dikenal dari belakang. Dinda tampak ragu dan ingin mengabaikannya, “Mungkin hanya mirip.”
“Rey? Kenapa dia ada di sini?” Dinda pun ingin tahu dan berjalan mendekati Reyhan.
Saat duduk di samping Reyhan, Dinda melihat beberapa botol wine yang sudah kosong ada di depan pria itu. Senyum Dinda merekah, terbesit rencana untuk bisa kembali mendapatkan Reyhan malam ini. Dinda yang mengetahui Reyhan masih sendiri, seakan kembali terobsesi pada Reyhan.
“Rey, kenapa kamu duduk di sini sendirian? Apa kamu datang bersama seseorang?” tanya Dinda sembari memiringkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Reyhan yang tersembunyi.
“Hm? Kamu, apa yang kamu lakukan di sini? Hum? Apa kamu ingin mentertawakan aku?” tanya Reyhan dengan pandangan yang sedikit buram.
“Tidak, Rey. Bukankah kamu sedang bahagia dengan pasangan barumu?” Dinda memancing Reyhan.
“Kyra? Kamu tahu tentang dia? Dia gadis yang cantik dan penuh energi. Aku menyukainya meski usia kami terpaut jauh, aku bahkan sangat menyukainya saat ini, apalagi setelah kami berlibur bersama. Dia seperti wanita yang bisa membuatku kembali bersemangat,” jelas Reyhan pada Dinda.
__ADS_1
Mendengar kebahagiaan yang didapatkan Reyhan dari Kyra, Dinda merasa kesal. Dalam hatinya terasa panas dan ingin sekali dia marah pada Kyra. Bukannya menjauh, Kyra dan Reyhan justru terlibat perasaan yang mungkin bisa dinamakan cinta.
“Hei, jika kamu bahagia dengannya, kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusnya kamu ada di sampingnya?”
“Hm, hari ini aku sangat sial. Dirga sungguh tidak mengizinkan aku untuk bersama putrinya. Tetapi aku tidak akan berdiam diri.”
“Rey, kamu mabuk. Apa kamu mau aku antar pulang?”
“Hm? Aku tidak mabuk! Jika aku mabuk, aku tidak akan mengenalimu, Dinda.”
Wajah Reyhan tampak memerah, tubuhnya tak bisa berdiri dengan tegap saat ini. Dinda yang melihat hal itu berpikir untuk membodohi Reyhan dengan membawanya ke rumah. Ya, Dinda ingin menjebak Reyhan agar bisa kembali bersama pria itu lagi.
“Aku bisa pulang sendiri, kamu tidak perlu membantu!” ucap Reyhan saat Dinda mencoba untuk membantunya.
“Rey, untuk berjalan saja kamu tidak bisa. Bagaimana bisa kamu sampai di rumah dengan selamat jika kondisimu seperti ini? Aku bantu kamu sampai rumah, setelah itu aku akan pulang, bagaimana?”
“Hmm, tidak perlu! Aku bisa membawa mobil sendiri!”
Dengan susah payah Dinda membujuk Reyhan, hingga pria itu kembali meraih botol wine dan merasa kurang.
“Ron, kenapa habis? Aku mau lagi!”
“Berikan saja, Ron,” ucap Dinda dengan tersenyum licik.
Roni tidak bisa menolak, meski dia merasa kasihan dengan Reyhan, tetapi Dinda ada di sana, sehingga keselamatan pria itu mungkin akan terjaga.
Satu botol wine kini kembali berada di meja bar, Reyhan langsung menenggaknya tanpa menggunakan gelas. Belum sampai botol itu kosong, Reyhan sudah tergeletak tak berdaya. Bibirnya hanya bergumam memanggil nama Kyra. Dengan susah payah, Dinda sekali lagi mencoba membawa Reyhan ke luar dari kelab itu.
“Ron, bantu aku bawa dia sampai mobil, bisa?” tanya Dinda pada Roni.
__ADS_1
“Bisa.”
Mereka membawa Reyhan ke luar dari kelab malam. Rencana Dinda pun berjalan lancar hingga sampai di area parkir mobil.