
Reyhan masih di restoran bersama teman-temannya. Jika teman-temannya sedang asik dengan anak dan istri masing-masing, tidak dengan Reyhan yang merasa menjadi obat nyamuk di sana.
Sampai akhirnya, Reyhan berdeham beberapa kali dan memnuat Naura sadar dengan keberadaan pria itu.
Naura ingat, bahwa Sean pernah bercerita mengenai Kyra. Terbesit dalam pikirannya untuk kembali bertanya mengenai hubungan Reyhan dengan gadis itu. Naura ingat sekali saat itu Sean mengatakan, bahwa Reyhan selalu bersemangat saat membahas Kyra.
Melihat kecanggungan yang ditunjukkan Reyhan, Naura pun berinisiatif untuk membuka topik. Naura awalnya hanya berbasa-basi mengenai pekerjaan.
“Bagaimana dengan bisnismu, Rey? Apa semua lancar? Aku dengar kamu melebarkan sayap hingga ke Sumatera, apa itu benar?” tanya Naura.
Reyhan tersenyum dan mengangguk, lalu meletakkan gelas yang ada di tangannya ke meja. Dengan sedikit perasaan senang, Reyhan pun menceritakan bisnisnya yang mulai berkembang dengan pesat. Jika sebelumnya target Reyhan Mancanegara, dan kesuksesan juga diraihnya sama seperti Sean dan Niko. Sekarang Reyhan beralih ke kota-kota kecil, mengembangkan kota-kota kecil agar lebih berkembang seperti kota besar lainnya. Mungkin, karena pikirannya sedang bahagia, jadi pekerjaan berjalan sesuai dengan keinginannya.
“Bisnisku sangat lancar, aku bersyukur sekali dalam beberapa bulan ini. Pekerjaku berusaha sebaik mungkin untuk bisa membuat perusahaan semakin berkembang dan dikenal oleh banyak kalangan. Tidak hanya itu, bahkan aku berencana untuk menlanjutkan kontrak kerja dengan perusahaan asal Singapura, seorang rekan bisnis mengajakku untuk memperpanjang kerja sama kami.”
“Itu sangat bagus, Rey. Lalu … apa kisah cintamu dengan Kyra juga berjalan dengan lancar? Sama seperti bisnis yang kamu jalankan. Semua pasti memiliki porsii masing-masing, bukan?”
“Ya, aku sangat beruntung. Minggu ini aku secara resmi menjalin hubungan dengan Kyra. Kami telah menjadi sepasang kekasih,” jelas Reyhan dengan sangat bersemangat.
“Cie … cie … eh, eh, tapi … bukannya kamu sendiri yang bilang sebelum ini tentang hubungan kalian? Bukankah Kyra selalu menolakmu?” sahut Sean yang lagi-lagi menyindir Reyhan.
Naura memukul pundak suaminya yang justru kembali membuat suasana menjadi tidak nyaman. Sedangkan Naura berusaha agar Reyhan tidak terpancing emosi karena sindiran yang dikatakan Sean.
“Maafkan dia, Rey. Terkadang aku lupa untuk memberikan obat penutup mulut," ucap Naura.
__ADS_1
“Hahaha, tidak apa-apa. Kali ini hubungan kami benar-benar resmi, Kyra tidak menolakku saat aku kembali memintanya menjadi kekasihku."
“Jadi, kamu ingin bertemu dengan kami karena kabar ini, Rey?” tanya Jeni yang sejak tadi sibuk dengan Zeta—putrinya.
“Ya, aku sangat beruntung kali ini, bisa mendapatkannya saja membuatku bahagia, bahkan … dia berhasil membuatku terus memikirkannya.” Senyum di wajah Reyhan tak pernah luntur setiap kali membahas Kyra dan itu membuat para sahabatnya ikut merasa bahagia.
“Apa itu tandanya kamu akan melepaskan Maria?” sahut Niko yang kali ini ingin menggoda duda kaya itu.
Seketika Reyhan terdiam dan tertunduk. Niko pun mendapatkan hukuman dari Jeni dengan tarikan yang begitu menyakitkan pada telinganya. Wajah Reyhan kembali murung mengingat Kyra sebagai pelampiasan saja.
“Rey, jangan dengarkan dia. Kamu tahu sendiri bagaimana teman-temanmu ini,” ujar Naura menenangkan Reyhan.
“Hei, kenapa kalian memperhatikan Reyhan? Apa kalian—“ Belum selesai berbicara, mulut Sean kini penuh dengan kue macaron.
“Maria akan selalu ada di hati dan pikiranku. Mungkin, sampai mati pun … dia akan terpaku dalam ingatan ini. Sangat sulit. Entah kapan dia bisa sepenuhnya menghilang dari hatiku?"
"Rey! Jangan jadikan Kyra pelampiasan!" ucapan yang sama selalu saja Sean katakan untuk mengingatkan sahabatnya itu.
"Jangan sampai kamu merasakan kehilangan untuk kedua kalinya, Rey!" sahut Niko pada Reyha yang hanya terdiam.
Miris …
hanya itu yang terbesit dalam pikiran Naura dan Jenny. Baru kali ini dia melihat seorang pria yang begitu mencintai wanita.
__ADS_1
Suasana menjadi hening dalam beberapa menit, hingga akhirnya Razka merengek ingin memesan beberapa makanan lagi. Anak itu dalam masa pertumbuhan, apa yang menurutnya lezat, pasti akan dipesan lagi dan lagi.
“Mau itu.”
Razka menunjuk pada papan menu yang ada di bagian atas meja barista. Kenzo yang melihat Razka tak ingin kalah dan ikut memilih.
“Mau, mau! Aku mau itu!” keduanya berebut ingin memesan makanan ringan yang gambarnya terpajang di atas meja bar.
“Kalian ini kenapa kok pilihnya bisa barengan?” ucap Jenny sembari memesankan makanan untuk anaknya dan Kenzo.
Setelah selesai memesan, Kenzo dan Razka kembali menyerbu Reyhan untuk duduk di pangkuan pria itu. Reyhan tentu dengan senang hari mengajak keduanya bermain dan saling bertanya tentang keseharian mereka.
“Kalian suka makan kue rupanya, lain kali Paman belikan yang banyak.”
“Asik! Satu toko?” tanya Kenzo dengan memainkan matanya seperti menggoda.
“Hahaha, nanti Paman akan buka toko kue hanya untuk kalian.”
Naura pun menyahut, “Aku tagih nanti.”
“Hahaha.”
Semua orang tampak senang saat ini, tak ada yang merasa terbebani atau berpikiran serius. Mereka ada di sana untuk bersantai, bersenda gurau dan saling berbagi kisah.
__ADS_1