
Dirga menekan nomor telepon Andini dan menghubungi sahabat Kyra untuk memastikan kebenaran perkataan putrinya. Bukan lantaran Dirga tidak percaya pada putrinya, hanya saja Dirga ingin putrinya tahu jika Dirga benar-bebar memastikan Kyra aman. Meski pun bisa dikatakan semua itu percuma, sebab harusnya sejak dulu Dirga peduli pada Kyra bukan sekarang disaat Kyra sudah besar dan bisa mengurus diri sendiri.
Cukup lama sambungan telepon itu tidak terhubung, membuat Dirga menatap Kyra dengan sebelas alis terangkat, Dirga terus menelpon Andiri hingga akhirnya benar-benar tersambung.
“Halo, Om?” Suara dari seberang membuat Dirga segera bertanya.
“Halo, Andini?”
“Iya, Om. Ada apa?" tanya Andini.
“Begini, Om mau tanya. Apa kamu bertemu Kyra hari ini?" ucap Dirga bertanya seakan Dirga tidak tahu hal itu.
“Kyra? Seharian dia bersamaku dan Silva, Om. Kami ke Mall. Tapi, Kyra sudah pulang lebih dulu ke rumah, Om. Tadi Andini ajak Kyra untuk cari kado, keponakan Andini akan ulang tahun, Om. Apa Kyra belum sampai rumah?” Andini menjawab tepat seperti yang Kyra katakan pada Dirga.
"Oke baiklah. Om hanya ingin tanya itu saja, om tutup ya. Terima kasih. Jangan lupa titip salam pada orang tuamu," ucap Dirga lembut.
“Sama-sama, Om. Baik, Om. Maaf ya tadi sepertinya Kyra lupa buat pamitan sama, Om. Aku ajaknya dadakan sama Silva, daripada kelamaan nunggu Kyra yang datang, jadinya tadi itu kita yang jemput langsung."
“Tidak masalah. Tapi lain kali tolong pamit dulu ya sama Om? Agar Om tidak khawatir."
“Siap, Om. Sekali lagi maaf ya sudah culik Kyra hari ini.” Suara Andiri terdengar terkekeh mengatakannya.
Setelah berbicara dengan Andini, tatapan mata Dirga tertuju pada Kyra yang juga menatapnya. Awlanya Kyra menunggu jawaban ayahnya mengenai sambungan telepon itu. Namun, setelah mendengar apa yang Dirga katakan pada Andini membuat Kyra teringat akan hari-harinya beberapa tahun belakangan. Kalian perhatian padaku disaat aku sudah tidak begitu mengharapkan itu lagi, Pi. Papi bilang khawatir, lalu bagaumana dengan masa kecilku selama ini? Apa saat itu kalian tidak mengkhawatirkanku? Di mana kalian saat aku benar-benar membutuhkan kalian? Batinnya.
Dirga menghela napasnya dengan lega saat mengetahui kebenaran dari ucapan anaknya itu. Sementara di depan Dirga, Kyra tampak terdiam menatapnya.
“Jadi? Bagaimana? Andini bilang apa, Pi?” tanya Kyra mencoba kembali bicara.
“Andini bilang iya. Kyra, Papi akan tidur di sini untuk beberapa hari ke depan, Papi ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama putri cantik papi," ucap Dirga mengusap lembut kepala Kyra.
Mendengar ucapan Dirga, membuat Kyra melongo mendengarnya. "Papu yakin?" ucapnya memastikan. Setelah mendapat anggukan dari Dirga, Kyra memeluk Dirga. Kyra sangat jarang mendapatkan kebersamaan dengan orang tuanya, dia bahkan hampir tidak pernah bersama keduanya, dan sekarang meski pun terlambat, Kyra akan menikmati itu semua.
"Sekarang kamu masuk kamar, mandi, ganti baju, istirahat! Malam ini kita makan malam bersama.”
“Oke, Papi. Laksanakan!” ucap Kyra dengan tegas, meski pun sesungguhnya Kyra masih sangat kenyang dan tidak berpikir untuk makan.
Kyra berlari kecil menaiki anak tangga untuk sampai di kamarnya. Meski pada dasarnya perut Kyra terasa penuh dan tidak bisa lagi memakan sesuatu, tapi … sebagai anak, dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa.
Saat di kamar, Kyra tersenyum mengingat kejadian sebelum ini. Kyra berhasil mengecoh ayahnya dengan bekerja sama menggunakan dua sahabatnya sebagai bala bantuan.
__ADS_1
"Maafkan aku, Pi," gumam Kyra larut dalam lamunannya teringat pada kejadian beberapa menit yang lalu.
“Berhenti di depan sana saja! Aku naik taksi!” ujar Kyra pada Reyhan.
“Jadi, apa alasanmu untuk membuat papimu percaya? Bukankah setahuku dia selalu menempatkan orang-orang kepercayaannya untuk mengawasimu.” Reyhan sungguh ingin tahu rencana kekasihnya untuk membuat orang tuanya percaya, tetapi seperti biasa, Kyra tidak akan mengatakan apa pun pada Reyhan tentang rencana itu.
Ucapan Reyhan memang benar, Dirga yang sangat melindungi anaknya, menempatkan banyak orang kepercayaannya di sekitar rumah Kyra. Hanya saja, Kyra tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti itu, selagi mereka tidak terlihat dan tidak merepotkan Kyra.
Reyhan terus mengemudikan mobilnya, membiarkan Kyra terlihat kesal, tapi saat tiba di gerbang depan kawasan rumah Kyra, Reyhan menghentikan mobilnya, tepat tak jauh dari taksi yang sudah siap di sana atas suruhannya.
Sebelum Kyra turun dari mobil Reyhan, pria itu menarik tangan kekasihnya dan menempelkan bibir mereka.
Cup …
Tangan Kyra tanpa sadar terangkat menyentuh bibirnya.
Pikirannya kembali teringat dengan ciuman yang mereka lakukan di pantai, lalu satu bonus sebelum Kyra ke luar dari mobil Reyhan.
“Dasar Pria Tua Mesum! Bisa-bisanya dia mencuri kesempatan," gumam Kyra yang sudah keluar dari mobil.
Kyra menekan nomor telepon dua temannya saat Kyra sudah berada di dalam taksi.
“Yuhu, ada apa, bagaimana?” sahut Silva dari seberang bersamaan dengan Andini.
“Oke, gini ya! Kalau papiku telepon kalian, dan bertanya tentangku, tolong jawab jika kita keluar beli kado keponakan Andini ke Mall. Terus kita main-main dulu dan makan juga di Mall. Makannya lama," pinta Kyra.
"Kamu ke mana seharian ini?" tanya Andini.
"Aku akan cerita nanti, ingat saja apa yang aku katakan," ucap Kyra.
“Siap, Kyra. Kami menunggu penejelasanmu," kata Andini dan Silva.
“Oke, thanks buat kalian berdua. Maaf aku merepotkan.”
“Tidak masalah. Tapi, ingat kamu memiliki hutang penjelasan pada kita!”
“Iya deh.”
“Nah gitu baru Kyra. Eh, eh … pasti kamu lagi sama dia ya?” terka Silva yang sepertinya tahu ke mana Kyra pergi.
__ADS_1
“Hmm, sudah ku bilang, nanti saja ya cerita lengkapnya.”
“Kita ketemu di café biasanya saja gimana?” ajak Andini.
“Jangan, kita ketemu di resto all you can eat saja, lama enggak makan enak,” timpal Silva.
“Sudah, itu gampang sekali.”
Kyra segera mematikan sambungan telepon dan menghapus riwayat panggilan sebelum sampai di rumah. Kyra benar-benar merangkai semua dengan baik.
“Wah, Nengnya jago ya?” sahut supir taksi.
“Hm? Ahahaha, bukan apa-apa, Pak. Lagian, biasalah anak muda kalau keluar rumah suka dicariin orang tuanya. Jadinya begini deh," ucap Kyra salah tingkah.
“Iya, Neng. Kadang orang tua enggak tahu apa yang dimau anaknya.
“Jadi, Neng ini habis pacaran terus takut ketahuan terus jadinya bohong gitu?”
“Biasa saja, Neng. Nggak perlu malu. Soalnya saya ada adik yang sama seperti ini. Kadang dia bilang jujurnya sama saya. Kalau sama ibu atau abi mah jarang sekali. bohong sering.”
“Hahaha, masak sih? Wah … pasti suka sekali ya begitu?” ucap Kyra yang tidak biasanya tertarik dengan pembicaraan dengan orang asing.
“Enggak juga, kadang-kadang saja, Neng.”
Setelah percakapan itu, Kyra kembali terdiam dan membaca pesan dari Reyhan juga dua temannya.
[Sayang, sudah sampai atau belum?]
[Belum, supirnya aku suruh pelan-pelan, biar enak nikmati jalanannya.]
[Dasar kamu ini, tahu gitu aku saja yang antar.]
[Papi ada di rumahku, jangan cari masalah.]
Di sisi lain.
Reyhan tersenyum membalas pesan kekasihnya. Kyra sama sekali tidak menyadari jika Reyhan berada di belakang mobil yang ditumpangi Kyra untuk memastikan.
“Kamu benar-benar menarik, Kyra," gumam Reyhan.
__ADS_1