
Kyra berjalan mondar-mandir di kamar, pikirannya seperti ingin sekali terjun dari atap rumah. Kehadiran Reyhan membuat Kyra tak bisa berpikir jernih, berkali-kali dia menolak tetap saja pria itu datang dan mengganggu hidupnya.
Kyra menguatkan hati, menata kata-kata di kepala yang akan diucapkan pada pria itu. Sampai semua telah siap dan dia pun akhirnya berjalan ke luar dari kamar.
Tetap tenang dan hadapi dia. Buat dia menjauh darimu, Kyra. Jangan menambah masalah dengan berhubungan dengannya, ingat juga kasihan mantan istrinya. Batin Kyra.
Saat menuruni anak tangga, Kyra berjalan perlahan seolah ingin memastikan bahwa benar itu adalah si duda yang sedang mengalami masa puberitas ke sekian. Ya, hanya itu yang bisa dipikirkan oleh Kyra mengenai Reyhan yang terlalu gencar mengejarnya.
"Ada apa lagi pria tua mesum seperti Anda ada di rumahku? Ada keperluan apa? Anda terlihat seperti menunggi istri yang mau lahiran saja," sindir Kyra melihat Reyhan yang mondar-mandir tak jelas.
Tiba-tiba saja Reyhan menatap ke arah Kyra dan membuatnya melambaikan tangan. Sontak hal itu dibalas dengan senyum terpaksa oleh Kyra. Reyhan pun berjalan mendekati anak tangga, membuat Kyra melanjutkan langkahnya hingga mereka saling berhadapan. "Sayang, aku merindukanmu," ucap Reyhan.
Kyra tertegun, pria itu masih saja memanggilnya sayang dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa pada mereka setelah ucapan kasarnya tempo hari. Dia benar-benar tidak waras. Batin Kyra.
Wajah Reyhan tampak begitu bahagia bisa kembali melihat Kyra. Tetapi tidak dengan gadis yang kini bersedekap terdiam menatapnya.
“Sayang, kamu membuatku khawatir. Kenapa kamu tidak memberikan kabar padaku jika akan pulang?” tanya Reyhan dengan langkah lebih dekat dan membuat Kyra melangkah mundur.
Reyhan menatap Kyra dengan menyipitkan matanya. Merasa gadis itu tengah menghindarinya, Reyhan kembali bertanya, “Apa saja yang kamu lakukan di sana setelah aku pergi?”
“Om, kenapa masih saja menggangguku? Reyhan Kalingga jelas memiliki semuanya, bisa mendapatkan banyak wanita di luar sana. Kenapa harus aku?” Kyra pun terpancing emosi dan berkata kembali sedikit kasar pada Reyhan.
Bukannya marah, Reyhan tersenyum melihat tingkah gadis di depannya. Reyhan menarik tangan Kyra lalu melingkarkan tanganya di pinggang Kyra, memeluknya dengan erat. Meski gadis itu memberontak, Reyhan tak peduli dan semakin mempererat pelukannya.
"Karena aku hanya merindukanmu," ucap Reyhan.
“Lepaskan, Om! Dasar pria tua mesum! Om tidak tahu malu, ya?!” protes Kyra merasa cemas jika ada pelayan yang melihat dan melapor pada ayahnya.
“Aku sangat merindukanmu, Sayang. Kamu boleh marah padaku, tetapi biarkan aku memelukmu seperti ini hingga beberapa menit lagi. Aku sangat merindukanmu, biarkan aku tenang sejenak," ucap Reyhan lagi membuat Kyra terdiam beberapa saat.
Kata aku merindukanmu sebelumnya selalu Kyra harapkan dari orang tuanya, Kyra senang mendengar kata-kata itu, begitu juga sekarang saat mendengar Reyhan mengatakan itu. Sial, ada apa denganku? Batinnya.
“Om, lepaskan aku! Aku bahkan sudah menolak Om dengan tegas. Kenapa Om seperti tidak mendengar ucapanku?”
“Hum? Apa kamu barusan mengatakan sesuatu, Sayang? Aku tidak bisa mendengar kalimat seperti itu. Baiklah, anggap saja kamu sedang marah padaku, sekarang aku minta maaf."
__ADS_1
Kyra mengerutkan dahinya, seakan sia-sia mengucapkan kalimatnya pada pria yang hanya peduli pada dirinya sendiri dan keinginannya.
“Setidaknya tolong jaga jarak dariku! Aku tidak nyaman jika seperti ini dan terlihat oleh pelayan di rumah. Tolong bersikap sopan padaku jika tidak ingin aku berteriak memanggil keamanan!” ancam Kyra.
Akhirnya, Reyhan melepaskan pelukannya dan membawa Kyra ke ruang tamu untuk duduk bersama. Bukan karena takut pada keamanan, tapi lebih karena tidak ingin berurusan dengan keamanan di rumah Kyra yang seakan sangat menyebalkan menurut Reyhan.
“Apa yang sebenarnya Om inginkan dariku?”
Pertanyaan yang sama selalu saja keluar dari bibir Kyra.
“Apa itu perlu sekali aku jawab, Sayang? Apa kamu ingin kepastian?”
Bingung dengan kalimat yang diucapkan Reyhan, Kyra menggeleng sembari memijat keningnya.
“Om—“
“Sayang, kita ini sepasang kekasih yang sangat cocok. Berhenti panggil Om! Aku ini kekasihmu, setidaknya kamu bisa memanggil namaku.”
Oh Tuhan, cocok dia bilang? Bahkan usia kami saja terpaut sangat jauh, dia ini sangat cocok menjadi orang tuaku daripada kekasih, apa sebenarnya salahku hingga takdir mempertemukan aku dengan duda gila ini? batin Kyra.
Gadis itu merasakan pusing di kepalanya. Kata kekasih yang diklaim oleh Reyhan membuat Kyra seakan tidak bisa menjalin hubungan dengan pria manapun selain dirinya. Ya, dan hal itu membuat Kyra semakin kesal dengan sikap Reyhan.
“Sssttt! Usia tidak ada masalah, asal di antara kita memiliki kecocokan. Dan aku merasakan hal itu denganmu, Kyraku."
Apa? Kyra ku? Batinnya.
Kyra mengerjapkan matanya beberapa kali, pikirannya kembali menerawang dan membayangkan hal yang buruk jika papinya tahu tentang hal ini.
Apa kata papi jika tahu ada om-om duda yang suka sama anaknya? Pikir Kyra dengan melongo.
“Sayang, ada apa? Apa kamu sakit?”
Kyra tersadar dari lamunannya, dan menggeleng. Sementara dari belakang terlihat pelayan datang dengan membawa minuman hangat dan camilan untuk tamu itu, sembari menahan senyum menghadapi mereka.
“Silakan, Tuan.”
__ADS_1
“Terima kasih. Kenapa Anda harus repot mengantarkan minuman untukku? Kurasa tidak perlu seperti ini jika aku datang lagi. Bukankah aku bisa mengambilnya sendiri?”
Sontak ucapan Reyhan membuat mata Kyra membulat. Gadis itu kembali mengerjap beberapa kali hingga akhirnya berkata, “Ini rumah ku, Om. Jangan menganggap rumah sendiri. Bahkan, Om masuk tadi juga karena memaksa, bukan?”
“Hei, ayolah. Jangan terlalu tegang denganku. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Aku yakin, hubungan kita akan berjalan lancar jika kamu mau menerima semua ini.”
Semakin bingung dengan perkataan Reyhan, Kyra hanya bisa menghela napas beberapa kali hingga tubuhnya terasa lemas.
“Jadi, mau sampai kapan Om ada di sini? Aku lelah dan ingin beristirahat lagi.”
Sampai kamu menerimaku. Ya Tuhan Rey, jika Sean dan Niko serta dunie mengetahui tingkahmu, betapa memalukannya dirimu saat ini. jawan Reyhan dalam hati.
Ya, Reyhan jelas sadar akan sikapnya yang benar-benar konyol. Jujur saja itu membuatnya malu sendiri, tapi tetap saja melakukannya. Menevalkan telinga dan wajahnya menghadapi Kyra. Satu yang Reyhan tahu, dia harus mendapatkan Kyra untuk kelangsungan hidupnya tanpa Maria.
“Hum, bagaimana jika aku menemanimu beristirahat, Sayang?” tanya Reyhan.
“Apa? Om jangan gila ya! Kenapa Om sangat mesum? Ingat. Aku bahkan baru lulus dari sekolah dan masih ingin menikmati keindahan masa remaja.”
“Oh, baiklah. Aku akan memberikan kebebasan untukmu. Jadi, apa yang kamu inginkan? Berkeliling dunia? Berlibur ke manapun yang kamu mau, berbelanja? Aku akan selalu ada untuk menemanimu."
Tawaran yang mengggiurkan, apa ini yang didapatkan mereka yang memiliki seorang sugar daddy? Lagi-lagi batin Kyra seakan tidak percaya dengan ucapan pria di hadapannya.
Kyra menelan ludahnya dengan kasar, memikirkan masa depan bersama saja sudah membuatnya ingin terjun dari jurang. Apalagi jika Reyhan benar-benar melakukannya?
“Kamu melamun lagi? Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Apa kamu memikirkan masa depan kita?”
“Tidak, Aku hanya merutuki nasib buruk yang menimpa. Itu saja.”
“Nasib? Bukankah nasibmu sangat beruntung? Lahir dari sosok orang tua yang begitu cantik dan tampan, hingga menjadi dirimu saat ini. Memiliki kekayaan yang tak didapatkan banyak orang dan terlahir memiliki kekasih sepertiku.”
“Oh Tuhan, Aku rasa sebaiknya Om segera pergi dari ke rumah sakit jiwa," keluh Kyra tak tahu lagi harus berkata apa.
__ADS_1
Hahaha... Bukan lagi Duda Tampan, tapi Reyhan udah jadi Duda gila.
Sorak Gila yok.🤣