
Reyhan baru saja sampai di apartemennya, layaknya pasangan dikala hari sabtu datang. Dia bersiap untuk melakukan kencan pertamanya. Reyhan menyiapkan semua dan sudah memikirkan banyak cara untuk bisa membujuk Kyra.
Duda tampan itu mulai menekan nomor Kyra untuk mengajaknya berkencan. Namun, sudah lima kali pria itu menghubungi kekasihnya, tetap tidak ada jawaban. Akhirnya, Reyhan mengirim pesan pada gadis itu dengan sedikit ancaman.
[Sayang, jika kamu tidak mau menerima telepon dariku, jangan harap hubungan ini akan tersimpan rapi.]
Tepat setelah itu, Kyra menghubungi Reyhan dan berdecak kesal dengan ancamannya, tapi Reyhan justru tersenhum dibuatnya.
“Om—“
“Eits! Kamu panggil aku apa?” protes Reyhan tak terima dengan panggilan Kyra.
“Ada apa?” tanya Kyra tanpa mempedulikan rasa keberatan Reyhan.
“Kamu tahu sekarang hari apa?”
“Sabtu, ini akhir pekan. Kenapa?”
“Kita harus pergi berkencan.”
“Hah! No! Bukannya aku sudah katakan untuk tidak mengumbar hubungan ini ke umum?”
“Tenang saja, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Sayang.”
“Lalu, bagaimana dengan pelayan di rumah? Mereka akan curiga dan mengadukan masalah ini pada papi.”
“Kamu tenang saja, pelayan di rumahmu pasti memilih untuk membelamu, bukankah mereka mendukungmu, Sayang?”
Kyra kembali mencari alasan untuk bisa menolak ajakan duda tampan itu.
“Ya sudah, mau ketemu di mana?”
“Aku akan datang menjemputmu tepat pukul enam, sebelum makan malam.”
__ADS_1
“Baiklah.”
Setelah panggilan berakhir, Reyhan mempersiapkan dirinya. Tangannya kini membuka lemari dan memilih beberapa jas yang cocok untuk dikenakan. Setelah selesai memilih, sekarang Reyhan mulai melepaskan satu per satu pakaiannya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jam menunjukkan pukul empat sore, Reyhan tidak boleh terlambat untuk menjemput kekasihnya, apalagi ini adalah malam pertama mereka pergi berkencan.
Reyhan pun berdandan seperti layaknya anak muda yang pergi makan malam bersama kekasihnya. Makan malam romantic yang diidam-idamkan semua wanita tentunya. Reyhan tak lupa menghubungi beberapa orang untuk mempersiapkan kejutan untuk Kyra.
Di sisi lain.
Kyra terdiam sejenak, wajahnya merona dan tiba-tiba saja dia tersenyum sendiri mengingat ajakan Reyhan. Bahkan, Kyra lupa jika sebelum ini dia menolak Reyhan karena usia yang terpaut jauh.
“Kencan. Astaga! Ini kencan peryamaku. Aku harus pakai pakaian seperti apa?” gumamnya yang tanpa sadar jika separuh dari dirinya menyambut baik sosok Reyhan.
Sebelum masuk ke walk in closet untuk memilih pakaian yang cocok, Kyra terlebih dulu mandi dan menggunakan skincare.
Kyra membasahi tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Bibirnya bersenandung menandakan ada kebahagiaan yang tercetak di sana.
“Awas saja kalau dia membuatku malu!” gumam Kyra sebelum akhirnya selesai dengan kegiatan mandinya.
Kyra bahkan sudah menemukan satu dress dari banyaknya deretan dress miliknya yang sangat jarang bahkan hampir semua mungkin belum pernah Kyra sentuh. "Ini sudah pas, bukan?" tanyanya pada diri sendiri yang saat ini berdiri di depan cermin besar yang memperlihatnya seluruh tubuhnya.
Selesai bersiap, Kyra melihat ponselnya, di sana ada pesan dari Reyhan yang mengatakan akan menjemputnya tepat waktu. Bahkan, Reyhan juga mencantumkan alasan lain.
[Jika satpam di depan tidak mengizinkan aku masuk, aku akan menabrakkan mobilku agar gerbang rumahmu terbuka. Lalu, jika kamu bersembunyi, aku akan tidur di kamarmu malam ini.]
“Sialan! Apa yang diinginkan pria tua itu?!”
Kyra kembali merasa kesal dengan Reyhan yang selalu saja memiliki banyak alasan dan ancaman yang membuatnya takut.
“Sial! Aku harus membalas apa ini? Bukankah aku sudah setuju tadi? Kenapa dia masih saja meyakinkan diri.”
[Terserah!]
__ADS_1
Setelah membalas, Kyra kembali menatap cermin seakan menatap penampilannya yang mungkin ikut rusak karena mood nya kembali dirusak oleh Reyhan.
Sementara itu, Reyhan sudah selesai mempersiapkan kejutan untuk Kyra malam ini. Sebelum pergi, dia ingin kembali memastikan tidak ada yang tertinggal. Namun, tiba-tiba saja panggilan telepon masuk dan Reyhan terpaksa menerimanya.
“Halo," ucap Reyhan pada seseorang di seberang sana yang Reyhan belum tahu siapa.
“Rey, ini aku, Dinda. Apa kamu ada di rumah?”
Dinda. Batin Reyhan.
“Ya, tetapi aku akan segera pergi." Reyha berusaha untuk ramah pada Dinda sebab Reyhan sudah memaafkan Dinda dan menganggap Dinda temannya, meski pun belum sepenuhnya menerima Dinda sebagai temannya.
“Ke mana?” tanya Dinda.
“Apa ada yang bisa ku bantu?” tanya Reyhan balik, tidak ingin berbasa-basi.
“Aku ingin mengunjungimu. Apa boleh?” ucap Dinda membuat Reyhan menghela nafas dalam.
“Maaf, sayangnya aku akan keluar. Aku sudah membuat janji dan ini kencan pertamaku dan dia," jawab Reyhan secara tidak langsung memberitahu Dinda jika tidak ada harapn untuk Dinda kembali masuk dalam hidupnya.
“A-apa? Siapa dia?” tanya Dinda dengan suaranya yang terdengar bergetar.
“Aku akan memperkenalkan kalian suatu hari nanti. Aku tutup dulu, ya. Dia pasti sudah menungguku."
Panggilan telepon itu terputus begitu saja.
Reyhan tersenyum kecil setelah panggilannya berakhir. “Mungkin menyakitkan untukmu, tetapi ini lebih baik daripada kamu berharap padaku, Dinda. Karena akan semakin menyakitkan untukmu nanti, sebab aku tidak akan bisa membalas perasaanmu,” ucap Reyhan.
Reyhan kembali fokus pada ponsel di tangannya, di sana ada pesan masuk dari Kyra, dan itu kembali membuat Reyhan bersemangat.
“Hmm, jadi kamu menjawab terserah, Sayang. Baiklah, aku akan melakukan sesuka hatiku.”
Reyhan tersenyum penuh kemenangan. Hari ini entah mengapa dia merasa ada banyak sekali keuntungan yang didapatkannya.
__ADS_1
“Baiklah, aku siap untuk pergi berkencan dengan gadis kecilku,” ucapnya.