
Benar-benar terdesak! Kyra terus berusaha mencari alasan. Meski susah karena dia tidak terbiasa berada di situasi seperti sekarang ini. Berbohong adalah hal yang sangat jarang Kyra lakukan, terlebih lagi harus berbohong pada orang tuanya. Satu-satunya kebohongan yang selalu Kyra lakukan adalah untuk terlihat bahagia dan tenang, meski pun kenyataannya hidupnya terasa sangat menyedihkan.
Suara hewan-hewan malam terus bersahutan seolah tengah menertawakannya yang sedang dilanda kebingungan saat ini.
Udara dingin yang menyergap hingga ke tulang tak dia rasakan, karena yang ada justru panas akibat terdesak situasi yang sangat menyebalkan ini.
"Kyra?" Lagi-lagi Papi membuatnya semakin terpojok, rasanya sekarang Kyra sedang diinterogasi oleh polisi karena sudah melakukan tindak kriminal yang tak bisa diampuni. Ah, menyebalkan sekali!
"Itu, Pi ... tapi Papi jangan berpikir yang tidak-tidak, ya." Kyra sengaja mengulur-ulur waktu dengan berkata begitu supaya bisa memikirkan jawaban yang tepat untuk dia berikan kepada papinya.
"Ada apa memangnya?" Tampak Dirga seperti semakin ingin tahu dan khawatir dengan apa yang akan disampaikan Kyra. Terlebih Kyra seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang besar. Insting seorang bapak memang tidak meleset.
"Waktu itu ... aku hampir saja dicelakai oleh orang asing ketika berada di dekat danau. Untunglah ada Reyhan yang menolongku, sebelumnya kami tidak saling mengenal, setelah kejadian itu aku dan Reyhan jadi teman baik. Hanya teman," jelas Kyra was-was. Dia berharap semoga Papi percaya dengan karangan ceritanya yang tiba-tiba ini.
Kyra mengusap peluh yang turun melintasi dahinya, cukup panas rasanya berada di situasi begini. Namun, dirinya berusaha tetap tenang karena jika melihatkan kebingungan yang ada Dirga akan mencurigainya.
__ADS_1
Dirga menatap nanar sang putri, dia tak menyangka Kyra mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang asing, rupanya Dirga percaya dengan apa yang dituturkan Kyra.
"Kenapa kamu bisa hampir dicelakai orang asing, Kyra?" tanya sembari terus menatap kedua mata gadisnya yang terlihat sedang menutupi banyak masalah. Membuatnya sangat khawatir dan ingin tahu bagaimana kronologisnya. Bisa-bisanya anak dari seorang Driga Dwayne mengalami tindak kejahatan seperti demikianlah. Dirga tak akan diam saja.
Kyra mengangkat bahu sembari menggelengkan kepala perlahan. "Aku juga tidak tahu, Pi. Yang jelas waktu itu aku sedang duduk di dekat danau karena aku merasa kelelahan, tak lama aku duduk ada orang asing yang tiba-tiba mengancam dan hendak mencelakaiku. Entah apa yang akan terjadi padaku jika Reyhan tidak datang menolong. Alhasil, karena merasa berhutang budi, aku menganggap dia sebagai teman hingga sampai saat ini," jelas Kyra sembari menatap rambut papinya. Dia tak sanggup jika harus menatap kedua bola mata teduh milik Papi, karena pasti jika begitu dirinya tak akan bisa berbohong di depan papinya ini.
Dirga mengusap pucuk kepala putrinya dengan lembut. Dia merasa khawatir sekali dengan Kyra. Lagi-lagi rasa sesal menyergap dirinya karena tak bisa menjaga Kyra sepenuh hati. Dia sangat menyayangi Kyra, tak mau terjadi hal yang tidak diinginkan. Mendengar cerita Kyra barusan Dirga berinisiatif untuk menambah pengawal yang akan menjaga Kyra.
Selama ini putrinya itu memang selalu dibuntuti oleh pengawal yang dia suruh, meski Kyra tak tahu akan hal itu karena Dirga beserta pengawalnya diam-diam melakukannya. Dirga merasa jika Kyra tahu bahwa dirinya selalu dijaga oleh para pengawal, maka dia akan marah besar karena dia jelas-jelas tak suka akan hal itu. Kyra merasa dirinya sudah besar, sudah 17 tahun, sudah memasuki masa remaja akhir menuju dewasa. Dan, Kyra tak menyukai yang namanya dijaga pengawal. Dia merasa terkekang dan tidak bisa bebas melakukan apa yang dia mau. Hal itu membuat Dirga tak pernah memberitahu Kyra mengenai para pengawal yang sudah cukup lama selalu menjaga Kyra dari kejauhan.
Kyra ingin menjerit sekarang, apakah karangan ceritanya barusan adalah yang terbaik untuk ke depan? Saat ini Kyra tak bisa berpikir panjang karena merasa terpojokkan. Dia tak mungkin mengatakan jika Reyhan adalah duda kaya yang tengah mengejarnya. Kyra tak mungkin mengatakan itu!
Benar-benar frustrasi rasanya. Kyra ingin segera ke kamar, mendinginkan emosi dan pikiran yang menyesakkan ini. Namun, tak mungkin dia pergi begitu saja ketika sedang berbicara dengan papinya ini. Tidak sopan dan akan terkesan jika Kyra menyembunyikan sesuatu dari Papi.
"Kyra! Bagaimana tidak dipikirkan? Kamu putri Papi, tak mungkin akan Papi biarkan kamu mendapatkan perlakuan seperti itu lagi."
__ADS_1
Kyra menggigit bibir bawahnya, dia merasa akan ada sesuatu yang sangat ribet ke depannya. Duh, dirinya benar-benar menyesal karena berbohong seperti tadi, tapi mau bagaimana lagi? Tak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya pada Papinya.
rasa haru, kesal, cemas dan semua itu menyatu Kyra rasakan. Jika saja sejak dulu kedua orang tuanya jauh lebih peduli padanya, maka hidup Kyra akan terasa sanhat sempurna. Pikirnya.
Kyra kembali teringat pada Reyhan yang sekarang menambah masalah dalah hidupnya. Ah! Reyhan Kalingga! Kyra benar-benar kesal dan benci pada pria itu. Kenapa harus datang ke rumah dan membuat kegaduhan seperti ini? Kyra berharap semoga setelah dia mengatakan hal-hal kasar tadi siang, pria itu kapok serta sadar diri sehingga tidak lagi mengejar-ngejar, tidak lagi mengganggu dirinya. Tidak lagi berharap dibalas cinta olehnya, karena bagi Kyra dia tak akan bisa menerima Reyhan sebagai kekasihnya. Ada banyak sekali alasan unthk Kyra menolak Reyhan
Mungkin ... tidak ada yang tahu, karena bisa saja ketika Tuhan berkehendak, yang mulanya benci bermetamorfosis menjadi cinta. Kyra sadari itu, dan itu juga salah satu alasan yang membuat Kyra menjauh, sebab Kyra tidaj ingin perhatian yang sering Reyhan berikan padanya membuat pertahanannya runtuh.
Jangan menyesali semuanya, Kyra. Keputusanmu sudah tepat, jangan berikan dia peluang untuk masuk ke dalam hatimu. Pekiknya dalam hati.
Guys... cerita Elsa di lapak Pak Ijo sebelah, tolong ramaikan juga ya guys. Ditunggu kehadiran dan dukungan kalian. Terima kasih.
__ADS_1