
Meski Reyhan sudah sepakat untuk mengikuti saran sahabatnya untuk tidak begitu menggebu mengejar Kyra, sebab Kyra bisa saja akan semakin takut dengannya, tetapi saja Rayhan benar-benar tak bisa menahan diri untuk bersabar hingga mendapat kabar dari Kyra. Terlebih lagi hingga kini tak kunjung ada kabar yang dia tunggu-tunggu itu. Alhasil, pria tiga puluh tiga tahun ini memutuskan untuk langsung tancap gas ke kediaman Kyra, berharap bisa bertemu dengan gadis cantik itu.
Ah, nahasnya, sampai di sana justru yang dia dapatkan ialah rintangan lagi. Yakni satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang rumah Kyra tak memperbolehkan Reyhan untuk masuk. Selain karena tidak ada izin dari Kyra, pun majikannya itu sedang tidak ada di rumah.
"Maaf, Tuan. Non Kyra tidak ada di rumah, non Kyra juga tidak mengatakan apa pun jika seseorang akan mengunjunginya. Saya tidak bisa membiarkan Anda masuk tanpa izinnya," ucap satpam masih berusaha sopan pada Reyhan yang mendesak ingin masuk.
"Jangan berbohong. Aku sangat tahu jika Kyra ada di dalam." Rayhan tetap bersikeras, dia tak percaya jika Kyra tak ada di dalam, alhasil pria tampan yang sudah jadi duda ini memutuskan untuk membuat kegaduhan. Siapa tahu dengan itu Kyra keluar dari dalam rumah dan menemuinya.
"Kyra! Keluar lah jika tidak ingin aku semakin membuat kehebohan di depan rumahmu!" teriak Reyhan.
Ada apa dengan pria ini sebenarnya? Apa sudah gila? Percuma tampan dan mapan jika gila. Batin satpam yang hanya bisa mengumpat dalam hatinya.
"Tolong, Anda pergi dari sini! Tidak ada Non Kyra! Sudah saya katakan sedari tadi!" Pak Satpam sudah kewalahan menghadapi pria tinggi dan terlihat seperti selebriti ini. Napasnya sampai ngos-ngosan karena pria di depannya tak kunjung berhenti membuat kegaduhan.
"Saya tidak akan pergi sebelum bertemu Kyra! KYRA!!! KYRAAAA!!!" Lagi-lagi Rayhan berteriak sembari menggoyang-goyangkan pagar yang sedari tadi dia pegang.
__ADS_1
"Ya ampun, sayang sekali, tampan-tampan tapi sudah sakit." Akhirnya sang satpam memutuskan untuk menyerah, dia kembali ke tempat duduknya dan mengipasi diri dengan kipas portable pemberian Kyra waktu itu. Kipas berbentuk hello kitty, sangat tidak cocok untuknya yang seorang pria hampir setengah baya.
Mendengar keluhan satpam membuat Rayhan mengernyitkan dahi, bisa-bisanya pria tua itu menganggapnya sakit. Segera Rayhan berkata: "Saya sehat!" ketusnya.
"Jika Anda sehat, tidak mungkin berbuat gaduh seperti ini. Apa jangan-jangan Anda ini ODGJ yang kabur dari rumah sakit jiwa, benar? Wah ... wah ... gawat! Harus saya telepon pihak rumah sakit terdekat!" ancam Pak Satpam yanh sudah habis kesabaran segera mengambil gawainya yang berada di dalam saku, kemudian pura-pura hendak menelepon. Padahal dia juga tahu jika pria di depannya ini bukanlah ODGJ, melainkan seorang pria yang mungkin saja tergila-gila dengan majikannya.
"Anda mau menelepon siapa?" tanya Rayhan panik.
"Rumah sakit jiwa! Supaya Anda segera ditangkap dan kembali dirawat dengan baik sampai sembuh," balas satpam sembari akting, cukup berbakat hingga membuat Rayhan percaya.
Sial. Mau ditaruh di mana wajahku jika ada yang melihatku dibawa oleh petugas rumah sakit jiwa? Batin Reyhan.
Namun, lagi-lagi tak sesuai ekspektasi. Sampai di kantor, bukan nasihat dan ucapan penenang yang dia dapatkan, melainkan tawaan dan candaan yang diberikan Sean hingga Rayhan merasa semakin dongkol.
"Bisa-bisanya seorang Rayhan yang terkenal berkarisma ini melakukan hal itu! Kamu benar-benar gila!" pekik Sean sembari menyemburkan tawanya.
__ADS_1
"Kamu menyebalkan! Ini, kan, idemu supaya aku membuka hati untuk Kyra behitu juga wanita lain!" balas Rayhan tak mau dipojokkan atas kasus konyolnya ini.
Sean masih tertawa, rasanya gerah sekali hingga dia mengibas-ngibaskan kerah bajunya supaya ada angin. Padahal AC sudah menyala. Namun, tetap saja mendengar cerita Rayhan membuatnya seperti sudah kayang, berkeringat saking ngakaknya.
"Tapi, aku tidak menyuruhmu untuk melakukan hal itu! Dekati dia, tapi bukan berarti harus jadi orang gila!" pungkasnya kemudian pergi meninggalkan Rayhan karena sudah tak kuat menahan diri untuk tidak menyemburkan air kecilnya. Tertawa begini memang selalu membuatnya ingin pipis.
"Mengatakan aku gila. Apa dia lupa betapa gilanya dia dulu saat mengejar Naura?" cibir Reyhan.
Reyhan semakin kesal, niatnya untuk mendapatkan petuah atau sepatah dua patah kata penyemangat dari sahabat justru malah sebaliknya. Yang didapat ialah ejekan dan cemoohan.
Perlahan Rayhan menahan bibirnya untuk tidak tertawa, dia mulai sadar ketika mengingat kejadian tadi, memang benar seperti ODGJ. Tidak mungkin pria tampan, kaya, berkarisma, dan digemari banyak wanita melakukan hal itu. Tidak mungkin seorang Rayhan Kalingga melakukannya! Ah, Ray! Kenapa tadi kamu melakukan itu? Hah! Pikirnya.
__ADS_1
Author pun mikir Reyhan dah mulai gila.
Hahahaha....