
"Kamu tidak kenal dia, Sayang? Tadi dia ke sini menemui Kyra. Katanya dia kenal dengan Kyra karena sering berkunjung ke kantormu. Dia itu Reyhan Kalingga, seorang pria yang usianya dua kali lipat dari usia Kyra, dia juga seorang duda!" jelas Inggrid, sengaja menjabarkan hal itu supaya terjadi pemanasan global antara Kyra dan papinya.
Kyra tampak cemas sekali, dia malas menanggapi karena energinya sudah habis gara-gara memikirkan cara untuk mengeles jika papinya bertanya siapa Reyhan sebenarnya.
Melihat anak kandung satu-satunya tampak cemas, Dirga merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari putrinya.
"Ah, ya! Aku kenal dengannya, dia rekan kerjaku, dan memang selalu bertemu Kyra di kantor. Alhasil mereka saling mengenal. Betul, kan, Kyra?" tanya Dirga di luar dugaan Kyra, Inggrid dan Sandra.
Kyra tersenyum puas, akhirnya dia kembali bernapas dengan lega. Kyra beruntung karena Papi selalu berpihak padanya selagi dia melakukan kebenaran.
Perlahan Kyra menganggukkan kepala dengan senyum cerah di wajahnya.
Mendengar jawaban sang suami yang tak sesuai ekspektasi membuat Inggrid kesal bukan main. Dia kira Dirga akan menyelidiki Kyra karena sudah berani dekat dengan pria duda. Namun, yang ada ... justru apa yang diucapkan Reyhan tadi bukanlah karangan semata, pikir Inggrid.
Akhirnya Inggrid terdiam, dia benar-benar dongkol karena selalu saja niatnya untuk menyingkirkan Kyra dari hati suaminya gagal. Alhasil, sekarang dia diam, tak mau kembali memanaskan hubungan Kyra dan Dirga. Sekarang dia kehabisan ide saking kesalnya.
Kyra segera melanjutkan makan malamnya dengan cepat sebelum ibu tirinya itu kembali berulah. Dia tak mau satu meja berlama-lama dengan dua perempuan tukang cari masalah ini.
Usai makan malam, Kyra pergi ke taman belakang untuk mendinginkan kepalanya. Dia tak habis pikir kenapa Papi menyebutkan jika dia kenal dengan Reyhan dan apa yang diucapkan ibu tirinya dibenarkan oleh Papi. Padahal sudah jelas tadi Reyhan bilang padanya jika dia mengarang cerita, dia tak mengenali Dirga, pun sebaliknya.
__ADS_1
Kepala Kyra rasanya mau meledak. Dia benar-benar stres. Setelah Reyhan datang ke dalam kehidupannya, masalah hidupnya terasa semakin runyam. Ditambah dua orang perempuan menyebalkan ini selalu saja mencari gara-gara.
"Kenapa dia selalu memenuhi pikiranku? Semua hal yang dia lakukan menjadi masalah untukku," gumam Kyra.
Parfum khas yang sudah Kyra kenali menguar di teman belakang, dia segara menoleh ke samping, dugaannya benar, Dirga menemuinya dan duduk di samping Kyra yang sedang meratapi nasalah.
"Kamu sedang apa, Kyra?"
"Aku ...." Kyra benar-benar gugup, dia takut jika Papi akan bertanya mengenai sesuatu yang dia sembunyikan. Yakni Reyhan.
"Hanya mencari udara segar, Pi," jawab Kyra.
"Ya, Papi tahu udara di dalam tidak segar," imbuh Dirga tertawa mengusap gemas kepala Kyra yang juga tertawa mendengarnya.
"Papi sebetulnya tak kenal dengan Reyhan, meski papi mengenal namanya. Dia siapa?" tanya Kyra.
Ah, benar saja! Dugaan Kyra tidak meleset, papinya ke sini untuk bertanya padanya siapa pria bernama Reyhan itu. Kyra benar-benar tak tahu harus menjawab apa? Tak mungkin dia jelaskan jika Reyhan ialah pria duda yang mengejarnya, dan selalu membuat hidupnya dipenuhi masalah.
Kyra takut Papi akan bertindak di luar kendali dan dia memberikan pelajaran pada pria bernama Reyhan itu. Kyra tak mau masalah ini semakin meluber ke mana-mana. Cukup dia dan kedua sahabatnya saja yang tahu mengenai ini.
__ADS_1
"Kamu tidak mau cerita?" tanya Dirga, mendesak sang putri supaya mau menceritakan siapa Reyhan sebenarnya.
Kyra memang jarang curhat kepada Dirga, selain karena Dirga sibuk, dia juga terlihat sedikit cuek pada putrinya, terlebih setelah perpisahan dengan Laras. Meski begitu, Dirga sangat menyayangi Kyra melebihi apa pun di dunia ini. Kyra adalah anak kandung satu-satunya yang akan selalu dia lindungi.
Dirga menyesal karena pernah menyia-nyiakan rumah tangga sehingga Kyra yang jadi korbannya. Namun, tak mau larut terus dalam penyesalan, Dirga sekarang berinisiatif untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya kepada sang putri supaya dia merasakan kasih sayang seorang papi yang sangat besar ini.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau cerita," tukas Papi membuat Kyra mengangkat kepalanya, menatap sendu wajah Dirga yang sedang menatap pemandangan malam di depan.
"Kamu tidak percaya dengan Papi, ya? Padahal tadi Papi sengaja mengiyakan pertanyaan mama tirimu supaya kamu tidak terkesan rendah di depannya."
Kyra kembali menunduk, dia merasa terharu karena Papi benar-benar menjaga dirinya, sekali pun dari istri dan anak tirinya. Kyra merasa bersalah jika dia tak terus terang dan tak mau bercerita mengenai keadaannya pada Dirga yang kini berusaha menjadi papi terbaik untuk Kyra.
"Tidak apa-apa kalau kamu tak mau cerita."
Kura menggeleng, dia merasa enak hati. "Bukannya begitu, Pi. Hanya saja itu bukan sesuatu yang penting. Reyhan itu hanya temanku saja. Kita juga tak terlalu dekat."
"Teman? Kamu berteman dengan seorang duda? Kalau hanya dekat kenapa dia sampai datang kemari? Darimana dia tahu kamu anaknya Papi? Bukankah selama ini kita selalu merahasiakan dari khalayak umum jika kamu adalah anaknya Dirga Dwayne?"
Kyra benar-benar membisu. Bingung mau menjawab apa. Sekali lagi, dia tak mungkin menceritakan semuanya pada Papi, tapi jika tak cerita Papi pasti akan mencari tahu sampai dia benar-benar mengetahui informasi sebenarnya.
__ADS_1
"Jika tak mau cerita, Papi bisa cari sendiri," ancamnya. Lagi-lagi sesuai dugaan Kyra. Papinya ini akan mencari tahu mengenai apa pun yang ingin dia ketahui. Dan ketika dia berkehendak, maka akan mudah dia mendapatkan informasinya.
Kyra benar-benar bingung! Tolong, Tuhan! Apa yang harus dilakukannya sekarang?