
Di sebuah rumah yang besar, yang mewah yang harusnya di isi dengan suara canda tawa kebahagian oleh penghuninya, justru terlihat berbeda. Hanya ada satu orang yang terlihat di sana, satu orang yang menjadi pemilik sah dari rumah tersebut sejak usianya beberapa hari yang lalu genap tujuh belas tahun, rumah yang diberikan kedua orang tuanya atas namanya setelah ia lulus dari bangku SMA.
Pemilik sah dari rumah mewah tersebut adalah Kyra Dwayne. Putri sematawayang dari Dirga Dwayne dan Larasati, putri yang terkesan diabaikan oleh kedua orang tuanya.
"Nona, kenapa tidak di makan sarapanya? Apa tidak enak?" tanya seorang pelayan pada Kyra yang tengah termenung menatap kursi kosong yang ada di depannya. Kursi yang jika didalam keluarga lain akan di isi oleh kedua orang tua, tapi tidak denganya saat kedua orang tuanya sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing dan tinggal di rumah baru mereka masing-masing, mengabaikan Kyra yang harusnya menjadi pusat perhatian meraka.
"Tidak Bi, Aku hanya sedang tidak lapar. Bibi boleh menyimpannya kembali, kalian juga sarapanlah! Aku harus pergi," ucap Kyra bangkit dari duduknya meninggalkan ruang makan tanpa menunggu jawaban dari pelayannya.
Pelayan itu menatap iba pada Kyra. Gadis yang sudah di lihatnya sejak usia sembilan tahun itu sekarang terlihat berbeda dari yang dulu ia lihat dimana selalu ceria dan tersenyum tulus dari dirinya. Sekarang setiap senyum yang muncul di wajah Kyra, tetap saja akan memperlihatkan senyum yang di selimuti oleh kesedihan dan kekecewaan.
"Kenapa nyonya dan tuan begitu tega mengabaikan putri sebaik Kyra? Kasihan dia," gumamnya menatap kepergian Kyra.
Kyra masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Tujuanya saat ini adalah suatu tempat yang bisa membuatnya merasa seperti punya orang tua.
Kyra menatap pantulan dirinya yang ada di cermin. Kyra sesungguhnya bukanlah gadis yang dingin, tapi sikap orang tuanya yang ia anggap telah memalukan membuat jalan hidup Kyra berubah.
Dia lebih suka berada di luar rumah ketimbang berada di rumah. Disaat anak-anak kaya sepertinya suka berada di restoran mahal ataupun Mall hanya sekedar untuk belanja atau bersenang-senang, tapi tidak dengan Kyra yang selalu menggunakan uangnya dengan baik. Meskipun tanpa perhatian dan didikan langsung dari orang tuanya, Kyra mampu menjadi gadis yang baik dalam semua hal.
Kyra tersenyum miris menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, bisa di katakan Kyra memiliki semuanya. Uang dan kesempurnaan ada pada dirinya, tapi ada satu kekurangannya yaitu kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.
Menggunakan celana jeans panjang berwarna navi, dan tanktop berwarna putih di tutup oleh sweater yang juga berwarna putih, menggunakan sneakers berwarna putih serta tas gendong, Kyra keluar dari kamarnya menuju pintu keluar rumahnya.
__ADS_1
"Non Kyra. Nona mau ke mana?" tanya pelayan berlari kecil menyusul Kyra yang sudah menghidupkan mesin motornya dan mengabaikan dua mobil mewah miliknya yang di berikan oleh kedua orang tuanya sebagai hadiah.
"Aku mau ke tempat bu Wardah, Bi!" Kyra memberitahukan tujuannya.
"Apa Nona akan menginap di sana?" tanya pelayan, sebab Kyra sering menginap di rumah Wardah, mantan pengasuhnya dulu yang sudah berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri.
Kedekatan Kyra dan keluarga Wardah diketahui oleh semua pelayan termasuk kedua orang tuanya, karena hanya Wardah yang hampir selalu menjadi tujuan Kyra selain teman-temannya.
"Kalau Aku tidak pulang, artinya aku menginap di sana. Bibi tenang saja, aku bisa jaga diri," jawab Kyra, menggunakan helm-nya lalu melesat pergi dari rumah yang pagarnya sudah di bukakan oleh penjaga yang bekerja di sana.
Setengah jam kemudian, Kyra tiba di tujuanya.
Kyra tersenyum menatap wanita paruh baya yang tengah terlihat sibuk melayani pelanggan di kedainya. Kyra turun dari motornya lalu menghampirinya.
"Waalaikumsalam... Ky." Wardah mengusap lembut kepala Kyra yang tengah menciuum punggung tangannya. Kebiasaan kecil yang sering di lakukannya, tapi membuat semua pelanggan yang ada di sana tersenyum kagum melihat kesopanan Kyra terhadap Wardah.
"Bapak mana Bu?" tanya Kira saat tak melihat kehadiran suami Wardah di sana.
"Bapak sedang menjemput Alfin," jawab Wardah sembari menyiapkan pesanan pelanggan.
Kyra mengambil apron yang biasa ia gunakan lalu dengan sigap membantu Wardah, tanpa ada penolakan lagi dari Wardah yang sudah terbiasa dengan bantuan dari gadis cantik tersebut.
__ADS_1
"Silahkan di nikmati, Om, Tante." Dengan ramahnya Kyra menghidangkan pesanan pelanggan yang di buat terpesona akan dirinya.
Sangat jarang di temui gadis cantik seusia Kyra mau membantu orang tua berdagang, namun tidak dengan Kyra, mereka menilai Kyra semakin terlihat sempurna terlepas dari kesempurnaan fisiknya.
"Terima kasih cantik," ucap pelanggan yang sudah biasa di dengar oleh Kyra yang selalu menanggapinya dengan senyuman yang semakin membuat orang menyukainya.
Satu hal yang terkadang terlihat berbeda dari Kyra, saat bersama Wardah. Gadis itu kembali terlihat seperti dirinya yang sebenarnya saat bersama Wardah, senyum tulus, dan semua hal terlihat tulus darinya seperti saat dia melayani dan bersikap ramah pada pelanggan kedai Wardah.
"Apa hubunganmu sebenarnya dengan pemilik kedai itu? Dia terlihat begitu tulus dan apa adanya saat berada di kedai kecil itu, dia benar-benar wanita yang berbeda. Kamu semakin menarik saja, gadis kecil bermulut peadas," ucap seorang pria yang sedari tadi mengikuti Kyra dan melihat semua gerak gerik Kyra sedari Kyra keluar dari rumahnya.
Getar di saku celana sang pria mengalihkan fokusnya. Ia segera menjawab panggilan yang tertera dari sahabatnya.
"Kamu di mana, Rey? Kita ada rapat bersama siang ini," tanya Sean di seberang sana.
"Aku sedang di luar, di pinggir jalan," ucap Reyhan menjawab panggilan Sean yang berubah menjadi panggilan Video.
"Kyra? Astaga, kamu benar-benar menjadi penguntit?" tanya Sean lagi saat Reyhan mengarahkan kamera pada Kyra yang tengah membantu Wardah.
"Tidak. Hanya kebetulan melihatnya saat akan ke kantor," jawab Reyhan berbohong tidak pada tempatnya.
"Kantor dan apartemen mu sama sekali tidak melewati jalan itu, berhentilah menyangkal. Katakan saja jika kamu sedang menjadi penguntit dari gadis ABG itu. Aku mendukungmu. Jika benar kamu ingin mengejarnya, maka lakukan saja. Tidak perlu datang ke kantor! Sudah ya, semangat berjuang! Ingat jangan mesum! Dia masih kecil," ucap Sean memutuskan sepihak panggilan membuat Reyhan hanya bisa mengerutkan dahinya bingung akan sikap sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" gumam Reyhan menyimpan kembali ponselnya. Lalu kembali menatap ke arah Kyra, tersenyum sendiri menatap kagum pada gadis kecil yang sudah mengusik pikirannya beberapa hari belakangan tersebut.