
Rasa kesal Inggrid semakin menjadi melihat bagaimana pancaran kerinduan serta kebahagiaan dari Kyra dan Dirga terlihat. Tatapan yang begitu lembut Dirga berikan pada Kyra, yang seolah tidak pernah Inggrid dan Sandra dapatkan. Inggrid mencoba mengela nafas panjang, mencoba untuk tetap tenang dan memasang wajah lugunya.
"Kamu sudah sadar, Sayang?" pekiknya ketika sudah sampai ke dalam, lalu dia mendekati Dirga dan mencium keningnya. Sangat perhatian. Kyra yang berada tepat di samping Dirga merasa jijik melihatnya.
Akting yang sangat bagus. Batinnya.
"Kyra, Sayang ...," lanjutnya menyapa Kyra dengan intonasi dan mimik wajah yang begitu ramah. Lagi-lagi membuat Kyra sangat jijik. Wanita di depannya ini benar-benar piawai berakting, jika ada casting film, dia pasti lolos dan cocok karena memiliki bakat, yakni bermuka dua. Benar-benar pandai bersandiwara dan memanfaatkan keadaan.
"Papi. Aku mau bertanya," ucap Kyra pada Dirga, tetapi tatapan menyeringai dia layangkan pada Inggird.
"Apa itu, sayang?" balas Dirga masih tersenyum bahagia menatap Kyra yang berada di sisinya.
Sial. Apa yang coba gadis licik ini lakukan? Batin Inggrid.
"Papi, apakah benar aku tidak boleh menjenguk Papi dan masuk ke dalam ruangan Papi? Apakah aku harus dapat izin terlebih dulu untuk menemui papiku sendiri?" tanya Kyra terdengar sedih mengatakannya, tetapi tertawa dalam hatinya, sebab Kyra tahu jika ibu tirinya pasti akan merasa kalang kabut mendengar ucapannya.
Apa yang Kyra tebak benar. Mendengar pertanyaan anak tirinya itu, ibu tiri Kyra langsung pucat pasi, di dalam hati dia merutuki Kyra karena bisa-bisanya hendak mengadu pada papinya mengenai kejadian tadi. Bisa-bisa dia akan diberikan tatapan tajam oleh Dirga jika ketahuan bertindak diskriminasi pada Kyra, putri kesayangan Dirga.
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Itu tidak mungkin. Tentu saja kamu boleh menemui papi, Kyra! Kapan pun kamu mau kemari, tak perlu dapat izin daei siapa pun, langsung masuk saja dan temuia papi. Bahkan, jika kamu mau tinggal di rumah bersama Papi pun, dengan senang hati Papi akan membukakan pintu lebar-lebar. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menghalangimu. Benar begitu, Inggrid?" ucap Dirga dengan begitu lembut pada Kyra, lalu menoleh ke arah Inggrid, istri yang tak lain ibu tiri dari Kyra itu.
Inggrid menjadi gugup, pasalnya dialah yang mencoba menghalangi Kyra, terlebih lagi dia juga sangat enggan jika Kyra benar-benar hidup bersama di rumahnya. Rumah Dirga yang dianggap sebagai rumahnya dan miliknya sepenuhnya.
"Tidak, Pi. Tadi saja aku dilarang oleh istri Papi untuk masuk ke sini, aku harus memarahi dulu para pengawal, baru diperbolehkan masuk oleh mereka. Aki tidak boleh masuk menemui papi, dan itu membuatku sedih. Kenapa aku tidak bisa menemui papiku sendiri?" Kyra yang tidak akan diam saat ditindas, mencoba untuk mengikuti akting Inggird. Kyra bahkan terlihat berjaca-kaca saat mengatakannya.
Mendengar penuturan putri semata wayangnya membuat Dirga kesal pada Inggrid, dia kembali menoleh pada istrinya dengan tatapan yang begiti tajam.
"Apa maksud semua ini? Kenapa kamu berani melakukannya pada Kyra?" tanyanya dingin.
Kyra menaikkan bibirnya sebelah karena dongkol melihat kelakuan ibu tirinya itu.
"Aku tak akan pernah merasa terganggu dengan kedatangan Kyra, sekali pun sedang sakit!" balas Dirga semakin membuat Kyra puas karena berhasil melihat wajah ibu tirinya memucat.
Di dalam hati, Inggrid terus memaki keadaan. Dia benar-benar kesal dengan gadis di depannya, selalu menjadi yang diutamakan oleh sang suami. Salah pun sikap Kyra, akan selalu menjadi benar di mata Dirga.
Namun, daripada kekesalan itu diketahui oleh Dirga, Inggrid segera menampakkan wajah yang lembut dan keibuan, supaya aktingnya di depan Dirga berhasil membuat pria itu terkesan padanya.
__ADS_1
"Maaf, Kyra. Mama tidak bermaksud begitu. Maafkan, Mama, Sayang," lanjutnya kemudian berjalan mendekati Kyra disertai senyuman palsunya. "Kamu mau memaafkan Mama, kan?" desaknya yang sudah berdiri di dekat Kyra.
Kyra merasa amat jijik melihat kelakuan wanita tak tahu malu ini. Dia membalasnya setelah membalikkan badan, "Iya, tak apa-apa," jawabnya lembut tapi wajahnya sangat ketus sembari menatap tajam Inggrid.
Inggrid langsung memeluk Kyra sembari membisikkan sesuatu di telinga gadis muda ini. "Jangan caper!"
"Haha, bilang saja iri padaku. Dasar si muka dua," balas Kyra dengan tegas dan terdengar nyaring di telinga Inggrid meski gadis itu bersuara pelan.
Entahlah, mungkin Kyra terlalu berani. Tapi author nggak mau kalau Kyra lemah. Semoga kalian setuju.ðŸ¤
Yang masukan buku ini ke Rak hampir 80 pembaca, tapi yang like sedikit. Mungkin belum semuanya baca, bagi yang udah baca. Tolong tinggalkan jejak ya kak. Kalau bingung mau komen apa, like aja di setiap bab nya. Dapat 50 like, aku nambah 1 bab. Jadi total 6 bab untuk hari ini.
__ADS_1