Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Emosi Dirga


__ADS_3

Di kediaman milik Dirga, pria paruh baya itu sedang duduk di ruang kerjanya. Meski kondisinya belum memungkinkan untuk kembali bekerja dengan keras, Dirga tetap mengawasi pekerjaannya dari rumah.


Di tangannya kini ada beberapa berkas laporan yang baru saja di kirim asisten pribadinya.


Tatapan matanya begitu fokus, tetapi pikirannya tidak sedang berada di sana. Ya, sejak mengantarkan gadisnya kembali ke rumah, pikiran Dirga dipenuhi oleh Kyra. Anak perempuannya kini beranjak dewasa, pasti ada banyak pria yang mendekatinya. Buat seorang ayah, anak perempuannya masih membutuhkan pengawasan dan didikan darinya.


Apalagi setelah tahu Kyra dekat dengan Reyhan, duda itu menarik perhatian Dirga dan membuatnya berpikir negatif. Dirga tidak ingin Kyra mendapatkan seorang pria yang memiliki usia terpaut jauh dari anaknya. Apalagi usia pria itu tidak jauh dari dirinya.


Untuk menjaga Kyra, Dirga mengirim orang agar mengawasi pergerakan Kyra dari jauh. Memastikan bahwa gadis itu melakukan kegiatan dengan baik dan benar. Menerima tamu atau berhubungan dengan orang yang sewajarnya.


“Hah … tetap saja aku tidak bisa fokus pada pekerjaan ini. Kyra sungguh membuatku khawatir,” gumam Dirga sembari memperhatikan berkas yang tak kunjung selesai diperiksanya.


Dirga meletakkan lembaran kertas itu, menyandarkan tubuhnya pada badan kursi lalu menatap langit-langit. Terakhir kali Dirga melihat Kyra, gadis itu telah beranjak dewasa. Dirga bisa melihat dari sikap Kyra yang begitu bijak dan tak mencari masalah. Namun, Dirga takut ada rahasia besar yang tidak diketahuinya dari kehidupan Kyra.


Baru saja Dirga ingin menenangkan pikirannya, seseorang menghubunginya melalui telepon. Dirga menerima panggilan itu dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.


“Ada apa?” tanya Dirga sembari memijat keningnya.


“Tuan, Nona Kyra mendapat kunjungan dari Tuan Reyhan.”

__ADS_1


“Apa? Pria itu memang mencurigakan sejak awal!”


Tidak mungkin mereka hanya sekadar berteman. Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Aku tidak bisa membiarkan ini, batin Dirga


“Baiklah, tetap awasi Kyra! Laporkan jika terjadi sesuatu.”


“Baik, Tuan.”


Setelah panggilan berakhir, Dirga kembali memikirkan anak gadisnya. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan, Dirga yakin bahwa Reyhan memiliki perasaan pada putrinya.


Emosinya kini mencuat, rasa-rasanya ingin sekali dia langsung menemui Reyhan. Namun, tidak seperti itu permainan yang akan dilakukan Dirga. Pria itu sangat pandai dalam mengatur sebuah rencana. Ya, dia akan mendekati Reyhan dengan bisnis, hanya itu jalan satu-satunya untuk bisa dekat dengan duda yang mendekati Kyra.


“Halo, siapkan kontrak kerjasama dengan perusahaan milik Reyhan Kalingga. Aku ingin memiliki kerjasama dengan Kalingga.”


“Baik, Tuan. Hanya saja … kerjasama ini dalam bentuk apa? Bukankah perusahaan baru saja bekerjasama dengan perusahaan yang ada di kota sebelah?”


“Cari kerjasama apa saja yang bisa mendekatkan aku dengan Reyhan. Segera laporkan saat kamu mendapatkan informasi.”


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


Setelah panggilan telepon berakhir, Dirga kembali memikirkan cara lain untuk bisa mengetahui rahasia apa yang mereka sembunyikan.


Dirga tidak ingin membuat Kyra curiga dengan aksinya yang mencari tahu tentang hubungan itu. Dirga akan melakukan apa pun demi anaknya. Meski kerjasama itu tidak akan mendatangkan keuntungan yang banyak untuk perusahaan miliknya, Dirga hanya membutuhkan informasi dan pendekatan dengan Reyhan.


Di antara pikirannya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Dirga menerima panggilan itu dan berbicara dengan orang yang sama di seberang sana.


“Tuan, Putri Anda cukup lama menerima pria itu di dalam sana. Saya menunggu sejak pagi dan pria itu baru saja keluar sore ini.”


“Kurang ajar! Apa kamu tidak bisa mencari tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana?”


“Maaf, Tuan, saya tidak memiliki akses untuk itu.”


Napas Dirga terasa berat, pria itu mengakhiri panggilan dan mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa mereka berada di dalam sana selama itu? pikir Dirga yang bingung dengan kabar itu.


Brak!


Kedua tangan Dirga memukul meja, emosinya meninggi dan kini dia mengirim pesan pada sekretarisnya untuk segera mencari cara agar bisa bekerjasama dengan perusahaan milik Reyhan.


“Aku tidak akan tinggal diam jika kau berniat buruk pada putriku, Reyhan!” maki Dirga dengan emosi yang membara.

__ADS_1


__ADS_2