
Keputusan untuk membeli dua hadiah adalah yang paling tepat. Meski Kyra tampak kesal karena berdebat dengan Reyhan saat memilih di toko mainan. Setelah itu, keduanya melanjutkan perjalanan mereka untuk berkeliling sebentar, semua itu hanya alasan Reyhan yang tak ingin berpisah lebih cepat dari kekasihnya.
“Mau ke mana lagi?” tanya Kyra yang terlihat lelah berkeliling tanpa arah dan tujuan di Mall itu.
“Hm, ya sudah, kamu mau ke mana?” tanya Reyhan balik pada Kyra.
“Kalau sudah tidak ada tujuan, pulang saja! Aku mau tiduran di kamar. Aku lelah," jawab Kyra.
“Berdua denganku?” tanya Reyhan menatap nakal pada Kyra yang matanya nyaris keluar menatap Reyhan. Reyhan tertawa melihat itu semua, semua hal yang ada pada Kyra selalu membuat Reyhan merasa terhibur.
Kyra mengangkat tangannya menuju dahi Reyhan, menempelkannya di sana. "Panas. Pantas saja mesumnya kambuh," ucapnya yang semakin membuat Reyhan tertawa.
"Aku kekasihmu, apa salahnya?" tanya Reyhan masih saja menggoda Kyra.
"Enggak boleh, baru juga dua hari pacaran mau temenin di kamar, yang ada bukan temenin namanya.”
“Lalu apa? Apa sebutannya?”
“Tauk ah! Om jangan bikin aku kesel ya!”
Reyhan terus saja tertawa melihat wajah lucu Kyra yang sedang kesal. Dia pun meraih tangan kekasihnya dan mengajak Kyra untuk kembali ke parkiran tempat mobil Reyhan berada.
"Aku hanya bercanda, Kyra ku."
Sebutan Reyhan yang menyebut 'Kyra-ku' entah mengapa selalu membuat Kyra merasa hangat, Kyra hanya diam membiarkan Reyhan menggandeng tangannya dengan perasaan yang Kyra sendiri belum memahaminya.
“Langsung pulang, Om! Aku nggak mau mampir sana sini lagi, aku lelah!” ucap Kyra dengan tegas kembali membuka suara.
“Hm.” Reyhan tidak menjawab dengan kepastian, tentu saja ada sesuatu di balik sahutannya itu.
Mobil pun melaju menyusuri jalanan kota. Awalnya, Kyra merasa jalan yang diambil Reyhan adalah jalan pintas dengan melewati tol. Namun, semakin dia melihat kilometer dan arah yang dituju, itu bukanlah arah ke rumahnya.
“Om! Ini ke mana? Astaga! Aku kan bilang mau pulang, kenapa kita pergi ke antah berantah gini?” omel Kyra yang kembalu dibuat kesal.
__ADS_1
“Tenang saja, Sayang. Kamu pasti suka dengan tujuanku kita kali ini.” Reyhan mengusap lembut tangan Kyra.
Tidak bisa berkutik, Kyra pun duduk dengan tenang hingga kedua matanya melihat pemandangan yang sudah lama tidak dia lihat. Mereka ada di kawasan wisata pantai, Kyra mengedarkan pandangannya dengan takjub dan terpesona.
Menyadari jika Kyra menyukai tempat itu, Reyhan pun bisa dengan tenang menikmati hari minggu bersama kekasihnya.
Setelah mobil terparkir, Reyhan mengajak Kyra untuk mendekat ke bibir pantai. Tanpa sadar Kyra meraih tangan Reyhan dan berlari kecil agar segera sampai di bibir pantai. Kyra tersenyum lebar menikmati pemandangan di sana.
“Kamu menyukainya, Sayang?”
Kyra menengok pada Reyhan dan mengangguk senang, panggilan 'Sayang' dan 'Kyra-ku' seakan sudah terbiasa terdengar di telinga Kyra.
“Terima kasih sudah membawaku ke sini. Sudah lama sekali aku tidak ke pantai. Pemandangan ini terasa begitu menenangkan. Jarang sekali aku bisa merasa seperti ini," ucap Kyra lembut memberikan senyum terbaiknya menatap Reyhan yang
berdebar-debar mendengar ucapan dan senyum Kyra.
"Cantik sekali," ucapnya.
"Apa, Om?" tanya Kyra yang mendengar samar ucapan Reyhan.
“Eh, eh! Om, jangan! Pakaianku nanti basah,” ucap Kyra sembari berusaha menghindar.
Keduanya pun asik bermain dan saling mengejar, hingga kelelahan. Dengan napas tersengal, Reyhan merasa usianya membuat tubuh itu cepat lelah. Tetapi, semua ditutupi dengan baik di depan Kyra. Apa ini karena aku sudah jarang berolahraga, atau karena aku sudah tua? Kenapa mudah sekali lelah? Batinnya yang jika Kyra mendengar pasti akan menertawakannya.
“Sayang, kamu duduk di sana dulu untuk istirahat. Aku akan ke sana membeli minuman," tunjuk Reyhan pada tempat yang dimaksud olehnya.
“Oke," jawab Kyra patuh.
Suasana pantai memang sedikit sepi dari biasanya, mungkin karena orang-orang lebih memilih puncak sebagai tujuan mereka. Kyra duduk di sebuah kursi santai dengan payung besar yang melindunginya dari terik matahari secara langsung. Tidak lama kemudian, Reyhan datang bersama seseorang dengan membawa dua buah kelapa yang menyegarkan tenggorokan mereka.
“Terima kasih.” Kyra tersenyum senang, seakan merasa masih ada yang peduli dengannya.
Beberapa saat mereka terdiam, menikmati suasana di sana. Angin yang berhembus menerpa wajah Kyra, hingga membuat rambutnya mengikuti arah angin. Entah dari mana, Reyhan memiliki kuncir rambut yang sudah siap di pergelangan tangannya. Pria itu membantu Kyra merapikan rambutnya dan dikuncir tinggi ke atas.
__ADS_1
“Aku pikir, tadi Om akan kembali membawaku berkeliling tak jelas, tapi ternyata ke pantai. Aku suka pantai," ucap Kyra.
“Apa yang kamu katakan, apa yang kamu ancamkan padaku, dan apa yang kamu inginkan, aku selalu tahu itu. Aku berusaha untuk tidak membuatmu kecewa, aku berusaha untuk membahagiakanmu saat ini hingga nanti dan seterusnya. Karena kamu kekasihku, satu-satunya orang yang paling dekat denganku saat ini," ucap Reyhan tersenyum lembut, sambil menyelipkan anak rambut Kyra yang bertebrangan ke belakang telinga Kyra.
Kyra merasa tersanjung dengan ucapan Reyhan. Entah kenapa dia merasa seperti menyerah pada perasaannya yang menutup diri. Perlahan dan tanpa bisa Kyra cegah, Kyra mulai membuka diri, Kyra perlahan merasakan nyaman saat bersama Reyhan meskipun terkadang sikap Reyhan tetap saja membuatnya kesal.
“Oh ya, teman-teman Om seperti apa? Aku ingin tahu agar tidak salah saat bergaul dengan mereka saat bertemu," ucap Kyra bertanya.
“Niko dan Sean sahabatku. Kamu pasti mengenalnya," ucap Reyhan tapi ditanggapi Kyra dengan gelengan kepala.
Reyhan tertawa, mengusap gemas rambut Kyra. "Aku lupa jika kamu gadis paling cuek yang pernah aku temui. Bagaimana bisa kamu tidak mengenal Niko Sanjaya, Sean Alexander dan Reyhan Kalingga. Namun faktanya inilah kekasihku dan aku menyukaimu," ucap Reyhan membuat wajah Kyra merona mendengarnya.
"Kami sudah sangat lama saling mengenal, susah senang selalu bersama. Sampai akhirnya Niko menikah dengan Jenny, dan Sean memiliki Naura. Mereka juga memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Mereka adalah orang-orang yang mudah sekali membaur, aku yakin … kamu pasti bisa beradaptasi dengan mereka. Hanya saja, jangan menganggap ucapan mereka terlalu serius, sebab mereka orang yang sangat suka bercanda, apalagi Niko, mantan casanova itu,” ucap Reyhan melanjutkan penjelasannya.
“Ah, pasti asik bisa memiliki teman seperti itu. Aku juga memiliki dua teman, Silva dan Andini. Meski dari keluarga sederhana, tetapi kehidupan keluarga mereka selalu berhasil membuatku iri. Keharmonisan di sana, membuatku memimpikan kedua orang tuaku bersama kembali. Tetapi aku sadar, semua tidak mungkin terjadi, ditambah mereka sudah memiliki keluarga masing-masing.”
Wajah Kyra sontak berubah menjadi sedih.
Reyhan bisa merasakan apa yang selama ini Kyra alami. Pria itu menakup wajah kekasihnya menatapnya dalam-dalam.
“Ada aku, bersamamu. Kamu bisa tenang sekarang karena aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku akan selalu ada untukmu, Sayang," ungkap Reyhan mendaratkan satu kecupan di dahi Kyra.
Kyra tersenyum, tatapan keduanya bertemu dan perlahan Reyhan mendekat hingga kedua bibir mereka bertemu. Ciuman itu tak dapat dihindarkan, Reyhan yang berpengalaman dalam kontak fisik membuat Kyra hanyut dalam permaiannya. Awalnya bibir itu hanya menyentuh satu sama lain, hingga akhirnya Reyhan mulai memainkan bibir bawah Kyra.
Reyhan tersenyum di balik ciumannya saat menyadari jika Kyra begitu kaku, pertanda jelas jika Kyra tidak pernah melakukan hal itu. Tepat di tengah kegiatan mesra itu, ponsel Kyra berdering membuat bibir keduanya berpisah.
Reyhan menatap pada ponsel yang kini di tangan Kyra. Wajah Kyra mendadak memucat saat melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Papi," ucapnya.
"Jawablah," ujar Reyhan tersenyum, mengusap lembut bibir Kyra yang basah karena ulahnya.
“Kamu di mana? Papi ada di rumahmu, tapi kata pelayan rumah kamu tidak ada dan sudah keluar sejak pagi. Kamu di tempat Wardah?” tanya Dirga di seberang telepon.
__ADS_1
Kyra terlihat panik, perasaannya bercampur aduk. Bahkan, dia melupakan perasaan bahagianya yang baru saja muncul di antara mereka. "Aku di jalan pulang, Pi. Papi istirahat saja dulu," ucap Kyra berusaha untuk terdengar tenang.
“Om, kita pulang sekarang! Papi ada di rumah!" pinta Kyra pada Reyhan, setelah panggilan berakhir.