Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Sungguh Sial Hidupku


__ADS_3

Kyra duduk di balkon kamarnya, menatap langit dari tempatnya berada saat ini. Warna biru yang begitu cerah membuatnya sedikit tenang. Masalah yang datang seperti menghantam tubuhnya dari atas ke bawah. Di saat kebahagiaan didapatkannya, Kyra harus kembali terjun karena penolakan dari orang tuanya. Tidak hanya itu, Kyra juga mendapatkan kenyataan pahit mengenai berita yang tersebar tentang Reyhan dan Dinda.


Gadis itu menghela napasnya perlahan, seakan membuat sekecil beban yang tidak ingin lagi dipikirkannya. Kyra ingin melanjutkan hidupnya seperti sebelum-sebelum ini. Sebelum Reyhan hadir dan memberikan warna lain untuk jalan hidupnya.


Kyra ingin kembali pada kenyataan, bahwa tidak ada yang indah dalam kisah cinta dengan pria yang sudah berumur. Bahkan, Kyra merasa kisah dalam drama dan novel yang pernah dia lihat dengan embel-embel kisah nyata adalah suatu kebohongan.


“Dunia ini kejam dan aku sedang merasakannya,” gumam Kyra lirih. "Tidak, bukan sedang, tapi selalu merasakannya."


Kesendirian hari ini tanpa dua teman baiknya, membuat Kyra cukup merasa kesepian. Kyra juga tidak tahu harus berbuat apa dan melakukan apa hari ini?


Semua fasilitas masih ada di tangan Dirga—ayahnya. Tentu saja Kyra tidak bisa bergerak bebas hingga hukumannya dinyatakan selesai.


“Sial! Kenapa harus dia? Kenapa?” ucap Kyra kesal sebab pikirannya masih tertaut pada Reyhan.


Kenangan saat mereka berlibur bersama sungguh membuatnya tidak bisa melupakan pria itu. Kebaikan, perhatian, dan rasa sayang yang diberikan oleh Reyhan membuat Kyra merasa ada yang baik di dalam sana. Namun, semua berubah saat berita itu kembali muncul dalam ingatannya.


Semua kebaikan yang pernah dilakukan Reyhan, lenyap seketika. Kyra mengumpat dan menyumpah serapah dalam hati. Merutuki apa yang sudah Reyhan lakukan padanya. Mungkin benar apa yang pernah muncul dalam hatinya, Reyhan hanya menjadikannya pelampiasan atas sakit hati yang Maria tinggalkan.


Kyra termenung sesaat hingga panggilan dari pelayan membuyarkan semua.


“Non, waktunya makan siang. Tuan Dirga berpesan agar Non Kyra makan seperti biasa.”


“Iya, Bik. Sebentar lagi aku turun.”


Kyra berdiri, menatap ke bawah, tepatnya keluar halaman rumah. Di sana dia bisa melihat ada beberapa orang yang mencurigakan. Sepertinya mereka sudah berada di sana sejak Kyra merenung.


“Siapa mereka?” gumam Kyra sembari berbalik badan dan masuk ke rumah.


Kyra menuruni anak tangga, berhenti di ruang makan yang hanya ada dirinya saja. Kembali duduk seorang diri, menatap makanan yang tidak membuatnya bernafsu. Sampai Kyra teringat dengan ucapan Dirga yang mengatakan akan menemaninya.


“Pembohong!”


Kyra memakan makanannya dengan malas. Lalu tidak menyelesaikannya dan memilih kembali ke kamar. Sekali lagi, langkah Kyra terhenti saat panggilan terdengar dari arah pintu masuk.

__ADS_1


“Kamu sudah makan siang?”


Kyra menatap pria yang kini berdiri di depannya. “Sudah.”


Pria itu menatap ke ruang makan, melihat ada piring yang menyisakan makanan. Kembali menatap Kyra, pria itu meraih tangan Kyra dan mengajaknya makan bersama.


“Lepas! Aku sudah selesai.”


“Temani Papi makan.”


“Papi bisa makan sendiri. Aku sudah selesai dan ingin beristirahat di kamar.”


“Sayang, Papi ingin berbicara denganmu.”


Kyra tidak melawan dan mengikuti langkahnya. Saat mereka sudah duduk di ruang makan. Dirga meraih piring dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


“Jadi, teman-temanmu tidak datang hari ini?” tanya Dirga membuka percakapan di antara mereka.


“Mereka memiliki kehidupan sendiri, tidak melulu mengurus aku yang tidak penting ini,” jawab Kyra dengan nada malas. Seakan dia tidak dibutuhkan di sana.


“Tidur, mungkin. Tidak ada lagi barang yang bisa kuhancurkan di kamar.”


“Kyra, jangan seperti ini, Sayang. Papi tahu, selama ini Papi salah karena tidak menemanimu. Saat ini, Papi ingin menebus semuanya dan membuat hubungan kita membaik. Bagaimana?”


“Hem, itu bagus. Tetapi, Kyra tidak terlalu tertarik. Lebih tepatnya, tergantung dari usaha Papi.”


Dirga merasa Kyra tidak menerima penyesalannya. Tetapi, sebagai orang tua, tentu Dirga tidak akan menyerah begitu saja pada keadaan saat ini. Dia masih berusaha untuk bisa membuat anaknya mengerti dan mau menjalin hubungan baik dengannya.


“Papi berencana untuk membawamu berlibur ke Bali. Bagaimana?”


“Bali indah dan cocok untuk berlibur. Akan Kyra pikirkan.”


“Sayang, jangan terlalu kaku dengan Papi. Bisakah kamu bersikap seperti biasa?”

__ADS_1


“Ini adalah sikap biasa yang bisa Kyra lakukan untuk saat ini. Jika Papi keberatan, maka Kyra akan menerima apa pun yang akan Papi layangkan. Hukuman? Tamparan? Apa pun itu.”


Dirga kembali dirundung penyesalan karena menampar anaknya dua hari lalu.


“Sayang, maafkan sikap Papi yang terlalu emosi kemarin. Papi sadar itu salah, maafkan Papi, Sayang.”


“Mudah sekali meminta maaf, baiklah … Kyra juga minta maaf sudah berbohong pada Papi dan menjalin hubungan dengan Reyhan. Meski hubungan itu Kyra awali dengan istilah iseng, justru hubungan itu mengajarkan banyak hal pada Kyra, tentang arti kebersamaan.”


“Kyra, kita sedang membicarakan tentang hubungan ayah dan anak. Bisakah kamu menyingkirkan pembahasan tentang hubunganmu dengan pria itu?” Dirga seakan tersulut lagi dengan topik yang Kyra katakan.


“Jadi, bagaimana jika Kyra juga membalik ucapan Papi? Maaf, Kyra bisa seperti ini bukan karena ingin kurang ajar kepada Papi. Kyra merasa tidak adil, hanya itu. Sebaiknya Papi melanjutkan makan siang tanpa Kyra agar makanan itu tidak tersisa. Kyra pamit ke kamar.”


“Kyra!”


Kyra tidak mendengarkan panggilan itu dan berjalan begitu saja menuju kamarnya.


Kembali terisak, Kyra merasa hidupnya tidak adil. Kebahagiaan selalu pergi dengan cepat, seakan semua itu sangat sulit untuk didapatkan.


Tiba-tiba saja Dirga berada di depan kamar anaknya, mendengarkan isak tangis Kyra yang begitu samar. Dirga membuka pintu kamar dan menghampiri Kyra. Tangannya mengusap rambut lembut Kyra, seakan menyalurkan rasa sayang sebagai ayah.


“Sayang, maafkan Papi.”


Tidak ada jawaban, hanya suara samar dari tangisan Kyra.


“Sebaiknya Papi keluar, Kyra ingin tidur sekarang.”


“Baiklah. Besok pagi kita pergi ke Bali, Papi siapkan semuanya buat kamu. Kita berlibur bersama agar kamu bisa menikmati kebersamaan dengan Papi.”


Setelah mengatakannya, Dirga beranjak dari sana dan kembali ke ruang kerjanya.


Kyra melihat kepergian Dirga dari balik bantalan yang menutup wajahnya. Mungkin, dengan kegiatan liburan itu, dia bisa kembali melupakan masalah yang sedang ada. Tidak memungkiri, perasaannya masih tertinggal pada Reyhan. Pria yang berusaha untuk dia hindari, justru membuatnya merasa kehilangan saat semua sudah berakhir.


“Meski singkat, tapi kamu mengajarkan banyak hal. Terima kasih atas kebersamaan yang kamu berikan selama beberapa minggu kemarin. Sungguh sial sekali hidupku, hahaha.”

__ADS_1


Kyra memejamkan mata, berusaha untuk melepaskan pikirannya dengan terlelap di kamar.


__ADS_2