
"Papiiii," panggil Kyra setelah dirinya masuk ke dalam ruangan inap Dirga. Dilihatnya pria berusia empat puluh lima tahun itu tengah terbaring lemah di atas ranjang. Kedua matanya tertutup.
"Papi kenapa bisa seperti ini? Jangan membuatku khawatir, Pi," gumam Kyra sembari berjalan mendekati Dirga dan mengecup kening pria itu. Setelahnya Kyra duduk di samping ranjang papinya, di sana ada kursi yang bisa dia duduki.
Melihat Dirga terbaring seperti ini membuat Kyra ingat dengan masa lalu, ketika dirinya masih memiliki orang tua yang lengkap dan kepribadiannya yang ceria. Dirga pernah mengajak Kyra jalan-jalan ketika dia sedang tidak ada pekerjaan. Meski sangat jarang, tapi hal itu membuat Kyra senang bukan kepalang. Ditambah, kesenangannya berkali-kali lipat ketika Laras pun ikut jalan-jalan bersama. Kyra merasa itu adalah mimpi yang nyata, dan sangat indah.
Kyra bersyukur karena hidupnya sangat sempurna ketika orang tuanya menyempatkan diri untuk jalan-jalan dengannya. Namun, hal itu tak lagi dia dapatkan sekarang. Waktu terus berlanjut, hubungan Mami dan Papi semakin renggang karena mereka ternyata memiliki kekasih masing-masing usai pernikahan keduanya terjadi.
Keceriaan dan kesempurnaan yang Kyra rasakan berubah menjadi kesengsaraan. Kyra benci perceraian itu, kenapa harus terjadi? Meski demikian dia tak pernah membenci orang tuanya. Mau bagaimana pun, mereka tetaplah orang tua Kyra, dan dia sangat menyayangi keduanya, meskipun tak Kyra pungkiri rasa kecewa ada di hatinya.
__ADS_1
Kyra tersenyum membayangkan masa lalu itu, meski sebetulnya terasa sesak. Dia bersyukur dalam hati karena meski orang tuanya sudah memiliki kehidupan masing-masing, masih ada Wardah yang selalu ada untuknya sejak kecil. Wanita yang pernah menjadi pengasuhnya itu memang selalu memberikan kasih sayang layaknya orang tua kandung, Kyra bersyukur mendapat kasih sayangnya.
Sesekali Kyra berpikir, banyak yang lebih menderita di luaran sana, tak memiliki orang tua, kehidupan yang sengsara, bahkan menjadi anak jalanan. Membuat Kyra benar-benar berterima kasih pada Tuhan karena hidupnya tak sebegitu mengenaskan. Hanya satu yang menjadi kekurangan baginya, yakni orang tua yang telah bercerai.
"Papi ... kenapa bisa seperti ini? Aku tidak suka melihat Papi sakit seperti ini," rengek Kyra kemudian menyandarkan kepalanya di ranjang Dirga, perlahan dia geserkan posisi wajahnya biar bisa melihat wajah papinya yang teduh itu.
Kyra meraih telapak tangan Dirga, kemudian menggenggamnya erat. Lalu dia tempelkan di pipinya, berharap papinya ini bisa segera sadar dan sembuh seperti sedia kala.
"Kyra?" tanya Dirga sembari tersenyum menatap gadis tujuh belas tahun yang menjadi buah hatinya selama ini.
__ADS_1
"Papi, syukurlah Papi sudah bangun. Papi kenapa bisa begini? Maafkan aku baru datang sekarang, tadi aku pergi ke rumah dan Papi tidak ada di sana. Bibi bilang Papi dirawat, aku langsung ke sini untuk memastikan keadaan Papi. Maafkan aku."
Dirga tersenyum mendengar celotehan putrinya. Dia senang karena Kyra benar-benar mengkhawatirkannya. Dan itu merupakan ciri jika anaknya ini sangat menyayanginya meskipun tak jarang Kyra bersikap dingin padanya.
"Papi tidak kenapa-kenapa, hanya kelelahan saja," jawab Dirga sembari mengelus pucuk kepala Kyra supaya anak gadisnya itu bisa lebih tenang dan tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.
Kyra tersenyum, meski hatinya belum tenang sepenuhnya karena dia yakin papinya ini tidak begitu baik, karena biasanya jika hanya kelelahan tidak akan sampai dirawat. Jika sampai dibawa ke rumah sakit dan dirawat seperti ini, itu tandanya Dirga benar-benar parah dan tidak baik-baik saja.
Di luar ruangan, wanita yang tak lain adalah ibu tirinya Kyra terus-menerus berjalan ke sana-kemari. Inggrid merasa was-was, takut jika anak tirinya semakin merebut perhatian suaminya. Selama ini meski dia sudah menjadi istrinya, sang suami selalu mengutamakan Kyra, padahal itu sah-sah saja karena Kyra adalah anak kandungnya. Toh, dia juga tetap diberikan perhatian dan kasih sayang yang sama. Dirga tak membeda-bedakan kasih sayang yang dia berikan. Hanya saja ketamakan wanita inilah yang membuatnya selalu iri kepada Kyra. Mungkin karena Kyra seolah gadis yang begitu sempurna? Membuat dia tak menyukai anak tirinya itu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa diam seperti ini. Aku harus ke dalam!" pungkasnya setelah menahan diri untuk tidak berpikir berlebihan mengenai keadaan yang terjadi di dalam ruangan suaminya.