
Suasana meja makan itu terasa canggung. Kyra sama sekali tak menyentuh sarapan paginya. Hanya terdiam cemberut, sambil sesekali melirik ke arah ayahnya yang tak pernah lepas dari telepon untuk menghubungi seseorang.
Rasanya begitu muak, tapi Kyra menahan segalanya. Ayahnya yang katanya mengajaknya berlibur dan berjalan-jalan, nyatanya terus saja sibuk dengan pekerjaan. Bahkan tak segan untuk meninggalkannya untuk menemui para kliennya yang kebetulan juga ada di Bali.
"Sayang, apa kamu sedang tidak berselera makan? Kenapa hanya mengaduk-aduknya sejak tadi?" tanya Dirga, baru melihat Kyra setelah menyelesaikan panggilan teleponnya. Lelaki paruh baya itu mengerutkan dahi dalam, menatap anak semata wayangnya itu.
Kyra hanya mendesah panjang. "Mulutku pahit!" jawabnya sedikit ketus.
"Lalu apa yang kamu inginkan? Papi akan mencarikannya jika ada yang ingin kamu makan," tutur Dirga tersenyum.
"Benarkah, Papi akan melakukannya?" tanya Kyra, menaikkan salah satu alisnya.
"Tentu saja, Papi akan--" Ucapannya terhenti tatkala teleponnya kembali berdering. Dirga melambaikan tangan pada Kyra untuk menunggu, sedangkan dirinya langsung mengangkat panggilan tersebut.
Merasa diabaikan, Kyra akhirnya berduri dengan wajah yang kusut. "Aku pergi."
Bahkan, ayahnya hanya mengangguk meskipun dia berpamitan. Kyra merasa sedih karena ayahnya hanya mementingkan pekerjaan dari pada dirinya.
Wanita itu akhirnya memilih pergi dari restoran hotel. Terus berjalan keluar tanpa tahu arah tujuan. Dia menyesal karena tak ikut Andini dan Silva berbelanja tadi. Andai saja dia tahu jika ayahnya hanya berbohong akan menemaninya sarapan, Kyra pasti tak akan melakukannya.
Langkah kakinya ternyata membawanya ke pantai. Sepanjang jalan, Kyra tampak cemberut. Hanya memandangi pasir yang kini mulai mengitori kakinya. Hingga langkahnya terhenti, ketika dia melihat kaki orang lain berada di hadapannya. Saat dia mendongak, Kyra terkejut mendapati Reyhan ada di depannya.
"Om," cicitnya lirih begitu terkejut.
Kyra yang masih kepikiran untuk marah pada lelaki itu, mulai berbalik untuk kabur dari sana.
Namun, bukan Reyhan namanya jika membiarkan begitu saja. Lelaki itu segera meraih tangan Kyra, dan tak membiarkan wanita itu kabur. Reyhan bahkan langsung memeluk tubuh Kyra erat dari belakang.
"Aku merindukanmu, Sayang. Aku sangat merindukanmu," ucapnya lirih, berbisik di tengkuk Kyra.
__ADS_1
Hal ini membuat tubuh Kyra meremang. Apalagi saat embusan napas hangat Reyhan menerpa kulitnya. Wanita itu bergidik, yang membuatnya langsung melepaskan paksa pelukan itu.
"Kyra," panggil Reyhan yang melihat sikap Kyra masih acuh dan berusaha menghindar darinya. Entah kenapa, hati Reyhan merasa sakit.
"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu," pinta Kyra dengan wajahnya yang datar.
Reyhan tentu saja menggeleng. Dia tak ingin melepaskan Kyra lagi. Dia sangat merindukan wanita itu, dan begitu mencintainya sekarang. Diliputi kemarahan dan rasa rindu yang tak tertahankan, membuat Reyhan nekat meraih Kyra dalam gendongannya. Lelaki itu membawa Kyra untuk berjalan menjauh dari pantai.
"Lepaskan aku! Om Rey, apa yang kamu lakukan?" teriak Kyra panik, sambil mencengkram erat leher Reyhan karena takut terjatuh begitu saja.
Melihat ekspresi Kyra, membuat Reyhan tersenyum geli. Dia merasa gemas, dengan sikap Kyra yang malu-malu itu.
"Om lepaskan!" pinta Kyra sekali lagi.
"Tidak, sebelum kamu memaafkanku. Aku akan terus menggendongmu, dan membawamu ke tempat antah berantah yang hanya akan ada kita berdua saja," tutur Reyhan tegas, melirik Kyra dengan senyum tipis.
"Kenapa kamu egois, hah?" bentak Kyra marah.
Ucapan itu terdengar begitu tegas, penuh ambisi yang sangat serius. Tetapi, entah kenapa Kyra malah merasa lucu. Apalagi saat melihat kepresi Reyhan yang menatapnya dengan mata melebar. Wanita itu menggigit bibir, untuk menahan tawa. Rasa marahnya lenyap seketika karena hal ini.
Reyhan sendiri malah mengembuskan napas kasar. Menatap Kyra dengan sorot mata penuh frustasi. Di tempat yang sedikit sepi itu, dia akhirnya menurunkan Kyra. Bukan untuk dilepaskan, melainkan untuk disergap dalam pelukan yang erat.
Kyra tak berkutik saat hangat tubuh Reyhan menjalar di seluruh tubuhnya. Rasanya nyaman, dan harus dia akui jika dia juga merindukan sentuhan lelaki itu. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk mengulurkan tangan dan membalas pelukan itu.
"Kamu memaafkanku, kan?" tanya Reyhan, ketika dia merasakan balasan Kyra.
Kyra sendiri tak menjawab. Masih enggan untuk berkata-kata. Setelah beberapa saat mendapatkan kenyamanan, dia melepaskan pelukan itu dan menatap Reyhan dengan lekat.
Senyum Reyhan merekah, dia mengusap pipi Kyra lembut dan bersiap untuk memberikan ciuman. Sayangnya, tiba-tiba wanita itu berpaling begitu saja yang membuatnya kecewa. Reyhan segera maju, untuk menghadang langkah Kyra.
__ADS_1
"Sayang!" pekiknya tidak terima.
"Aku masih perlu waktu," kata Kyra singkat.
"Jangan membodohiku, Kyra. Jika memang masih butuh waktu, kenapa kamu membalas pelukanku?" tanya Reyhan tak senang.
Sungguh, Kyra merasa dirinya tak tahan lagi untuk tidak tertawa. Raut wajah Reyhan yang tampak syok dan begitu jengkel, membuatnya merasa gemas. Ingin sekali dia mengulurkan tangan untuk mencubit pipi lelaki itu. Tetapi dia sadar, jika dirinya saat ini masih berpura-pura dengan sikap dinginnya.
Akhirnya, wanita itu mengalihkan pandang karena tak ingin luluh dari Reyhan. Dengan suaranya yang polos, dia menjawab, "Hanya sebuah pelukan, kenapa mempermasalahkannya?"
"Kyra!" panggil Reyhan menggeram.
Kyra semakin kencang menggigit kecil bibir bawahnya, agar tawanya yang sejak tadi dia tahan tak lolos begitu saja. Rasanya senang, dia bisa menggoda dan menjahili Reyhan.
Reyhan sendiri ikut geregetan dengan sikap Kyra. Dia masih mengira wanita itu marah padanya. Hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, Reyhan tak ingin Kyra masih mempercayai kesalahpahaman itu.
Lelaki itu memberanikan diri mendekat. Tanpa aba-aba, dia menarik tengkuk Kyra dan memberikannya ciuman.
Mata Kyra membulat, dia syok dengan sikap Reyhan yang menciumnya begitu saja. Dia terlihat panik apalagi dengan ruangan terbuka.
Namun, ******* lembut yang diberikan Reyhan membuat Kyra lama-lama luluh. Dia tak kuasa lagi untuk tidak membalas ciuman tersebut. Mata Kyra mulai terpejam, dan menikmati sentuhan bibir Reyhan yang sudah menjadi candu untuknya.
Rindu yang menggebu di antara keduanya, membuat ciuman itu terasa panas. Mereka saling menyesap satu sama lain, sambil memberikan gigitan-gigitan kecil yang sangat menggoda.
Begitu ciuman mereka terlepas, napas mereka sama-sama terengah. Kyra dan Reyhan sama-sama terkekeh, sambil menyatukan kening mereka. Selama beberapa saat, mereka sama-sama diam seolah menikmati waktu kebersamaan mereka.
"Kurang ajar. Kyra!"
Tetapi, kebahagian itu tak berlangsung lama ketika sebuah teriakan terdengar lantang di dekat mereka. Dan saat Kyra menoleh, matanya membulat sempurna penuh keterkejutan melihat seseorang yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
__ADS_1
"Papi."