
Setelah pertengkaran yang terjadi di antara Dirga dan Kyra, kini hubungan ayah dan anak itu sedikit renggang kembali. Bagaimanapun, Kyra masih tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan hubungannya dengan Reyhan. Lagi pula, tidak sebenarnya Dirga menilai buruk Reyhan hanya karena status Reyhan sekarang ini. Sebab ayahnya tidak mampu untuk menjadi sosok ayah yang diimpikan oleh Kyra selama ini.
Meskipun Dirga tahu jika putrinya sedang marah padanya sekarang, tetapi Dirga juga merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Sebagai seorang ayah, Dirga harus mencarikan seorang pria terbaik bagi putrinya. Dirga merasa tidak rela jika putrinya harus menikahi seorang duda dengan umur yang jauh di atasnya. Karena kehidupan wanita yang menikah dengan pria yang lebih tua darinya, tentu akan menjadi bahan gunjingan orang-orang.
Sikap keras kepala keduanya, membuat mereka tidak bisa menemukan titik tengah untuk mencapai perdamaian di antara keduanya. Namun, karena Dirga merasa jika dirinya jauh lebih dewasa dari Kyra, sudah seharusnya Dirga yang mengakhiri perang dingin di antara mereka, agar kehidupan di dalam rumah kembali menjadi damai. Lagi pula Dirga sudah memiliki rencana untuk masa depan Kyra. Untuk itulah, Dirga memilih mengalah pada Kyra.
“Kyra, sudah seminggu ini kau tidak ingin mengatakan apa-apa kepada Papi. Apa kau masih marah pada Papi, Ky?” tanya Dirga yang memulai percakapan di antara mereka berdua.
“Tidak, memangnya apa alasan Kyra untuk marah pada, Papi?” jawab Kyra yang tetap tidak ingin memandang wajah ayahnya.
“Kau marah pada Papi hanya karena pria itu. Jadi kau tidak perlu bersandiwara di hadapan Papi, Ky. Seharusnya kau bisa memahami kenapa Papi bersikap seperti ini padamu. Sebagai seorang ayah, Papi hanya menginginkan yang terbaik bagimu. Tetapi kenapa sangat sulit untukmu mengerti tujuan Papi itu, Ky?” ujar Dirga yang berusaha membuka pola pikir putrinya agar bisa merenungkan semuanya dengan baik.
“Jika Papi masih terus berpikir hal buruk tentangnya, sebaiknya lupakan saja, Pi. Kyra sedang tidak ingin berdebat dengan Papi. Karena Kyra yakin, kalau ini hanya akan berakhir dengan pertengkaran di antara kita. Kyra berangkat dulu, Pi.” Kyra segera meninggalkan kediamannya untuk pergi menuju tempat terbaiknya yaitu Wardah.
__ADS_1
Sikap Kyra yang keras kepala ini membuat dirinya semakin yakin untuk melancarkan rencana yang sudah dia pikirkan sebelumnya. Lagi pula melakukan rencana itu lebih awal, mungkin akan menghasilkan akhir yang baik bagi Kyra.
***
Sedangkan Reyhan masih terus mengumpulkan berbagai informasi yang dibutuhkannya selama ini. Reyhan juga mengetahui dengan jelas rencana yang akan dilakukan oleh Dirga. Sehingga Reyhan sudah menyiapkan antisipasi untuk menggagalkan rencana Dirga yang ingin menjodohkan Kyra dengan anak salah satu rekan bisnisnya.
Siang ini, Reyhan memutuskan untuk bertemu dan berbicara dengan Dirga secara empat mata. Meskipun caranya ini mungkin akan mendatangkan risiko yang besar bagi dirinya. Namun, ini adalah bentuk perjuangan Reyhan untuk mendapatkan Kyra.
“Aku tidak tahu jika kau memiliki nilai yang sangat besar untuk mengajakku bertemu, dan hentikan panggilanmu itu, karena sangat tidak pantas untuk aku menerimanya.” Dirga tidak bisa menahan emosinya ketika mendengar panggilan Reyhan padanya.
“Padahal menurut saya itu adalah panggilan yang bagus untuk Anda. Lagi pula cepat atau lambat, saya pasti akan menikahi putri Anda. Oleh karena itu saya ingin meminta restu dari Anda untuk mempersunting Kyra menjadi pendamping saya.” Reyhan tidak berniat untuk berbasa-basi dengan Dirga terlalu lama. Karena Reyhan bukan orang yang senang membuang waktu secara sia-sia.
“Atas dasar apa kamu memiliki kepercayaan diri untuk meminang putriku? Kyra tidak pantas bersanding dengan pria sepertimu. Dengan segala yang kau miliki, aku yakin jika kau bisa memikat wanita mana pun yang kau inginkan. Tetapi kenapa kau harus menargetkan putriku? Kyra masih terlalu kecil, dia belum bisa menikah sekarang. Lagi pula, aku sudah memiliki rencana masa depan untuk putriku. Jadi sebaiknya kau lupakan saja keinginanmu itu.” Dirga segera menyatakan penolakannya kepada Reyhan, tanpa mempertimbangkan perasaan Kyra terlebih dahulu.
__ADS_1
“Tuan Dirga, bagaimana bisa Anda bersikap begitu kejam pada putri Anda sendiri? Sedangkan Anda sendiri tahu bagaimana perasaan antara aku dan putrimu. Kami saling mencintai, apakah salah jika aku jatuh cinta pada Kyra? Dia adalah gadis yang luar biasa. Itu sebabnya aku menyukainya. Anda tidak berniat untuk mengenalku lebih jauh, tetapi Anda sudah memutuskan bahwa aku bukanlah pria yang baik untuk Putri Anda. Bukankah penilaian Anda itu terlalu kejam bagiku?” Protes Reyhan pada Dirga, sebab dia tidak bisa menerima keputusan diberikan oleh Dirga tentang hubungannya dengan Kyra.
“Kyra itu masih remaja, dia baru saja beranjak dewasa. Mana mungkin dia bisa mengerti tentang perasaan cinta secara mendalam. Perasaannya terhadapmu hanyalah ketertarikan sesaat. Bagaimana bisa kau menjadikan ini sebagai sesuatu yang sangat serius. Hati Kyra bisa berubah kapan saja, dan aku tidak perlu mengenalmu untuk mengetahui karaktermu lebih jauh, karena statusmu sudah tidak layak untuk mendampingi putriku.” Dirga tidak berniat untuk mendengarkan omong kosong Reyhan lebih lama lagi. Itu sebabnya Dirga akan mengakhiri pembicaraan mereka secepatnya.
“Status yang saya miliki, tidak bisa Anda jadikan sebagai tolak ukur untuk menilai bagaimana karakter saya, Tuan. Lagi pula saya tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan putri Anda. Karena saya yakin jika Kyra adalah wanita yang ditakdirkan untuk saya. Sebaiknya, Anda mempersiapkan diri untuk menerima lamaran dari saya, Tuan Dirga.” Reyhan tahu bahwa pembicaraan mereka tidak berakhir dengan baik, tetapi Reyhan bisa mencari kesempatan untuk mendekatkan diri dengan kedua orang tua Kyra lain kali.
“Sebaiknya kau tidak banyak bermimpi, karena putriku akan menikah dengan orang yang aku pilih sebagai pasangan. Selamat tinggal.”
Dirga segera pergi meninggalkan tempat itu, tanpa mau mendengar jawaban dari Reyhan, sebab Dirga sudah memilih kandidat yang tepat untuk putrinya. Dia hanya perlu mengatur waktu untuk pertemuan mereka.
“Seharusnya kau tidak terburu-buru untuk mengucapkan selamat tinggal padaku, Tuan Dirga, karena kita pasti akan bertemu lagi setelah ini, dan aku akan memastikan pada pertemuan kedua kita, kau akan merestui hubungan aku dan Kyra.” Reyhan mengatakan semuanya setelah Dirga pergi, sehingga ucapannya ini hanya bisa didengar olehnya.
Setelah itu, Reyhan segera pergi meninggalkan tempat pertemuan mereka. Karena banyak hal yang harus dilakukan oleh Rehan untuk melancarkan rencananya. Sepertinya Reyhan harus menunggu cukup lama untuk meyakinkan kedua orang tua Kyra. Seandainya saja mereka tidak tinggal di Indonesia, tentu semua ini akan berjalan lebih mudah baginya.
__ADS_1