Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Siapa Reyhan?


__ADS_3

Laras sampai di rumah setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Suami dan anaknya sudah menunggu di sana. Tampaknya ada yang ingin mereka bicarakan dengan Laras.


"Kamu dari mana saja, Sayang? Kenapa pergi ke rumah Dirga tanpa izin dulu padaku? Aku khawatir." Dirga langsung bertanya saat Laras tiba.


"Aku habis bertemu Kyra."


Jawaban dari Laras membuat suaminya mengernyitkan dahi, inilah yang dia ingin tanyakan. "Kenapa kamu bisa tahu Kyra ada di sana?"


"Sebetulnya aku tidak ada niatan pergi ke rumahnya, hanya saja mulanya nomor handphone Kyra tak bisa dihubungi, aku jadi khawatir. Setelah tahu dari ART di rumahnya, dia bilang Kyra pergi ke rumah papinya. Aku khawatir dan langsung ke sana untuk menemui Kyra."


Mendengar jika Kyra mengganti nomor teleponnya, membuat Bayu sontak bertanya: "Sekarang Mama sudah punya nomor baru Kyra? Pantas saja nomornya tidak bisa di hubungi."


"Tentu, akan Mama kirimkan ke nomormu, ya!" ujar Laras kemudian membuka gawainya dan mengirimkan nomor baru Kyra kepada Bayu.


"Lalu keadaan Kyra bagaimana? Tumben sekali dia pergi ke rumah papinya," imbuh Bayu, bertanya pada ibu tirinya.


"Kyra baik-baik saja, papinya sakit, jadi dia ke sana untuk merawatnya."


Bayu mengangguk-angguk mengerti, sementara suami Laras tampak membisu, dia merasa ada yang mengganjal dan ingin segera menerima klarifikasi dari istrinya. Namun, dia tahan dulu, tak mungkin bertanya mengenai hal itu di depan Bayu.


"Ya sudah, aku mau keluar dulu!"


Seperti tahu apa yang diinginkan papanya, Bayu memutuskan untuk pergi karena ada urusan. Suami Laras akhirnya bisa segera bertanya pada sang istri mengenai kewas-wasannya yang tak berhenti sejak sebuah foto dikirim ke nomor teleponnya.


Yap. Ada seseorang yang mengirimkan foto Laras tengah berduaan dengan Dirga di sebuah kamar. Suami Laras tak langsung percaya begitu saja karena dia yakin istrinya benar-benar setia dan sudah melupakan mantan suaminya. Namun, tetap saja dia ingin menerima klarifikasi dulu dari Laras supaya hatinya semakin tenang.


"Apa betul kamu ke sana untuk menjenguk Kyra? Bukan menjenguk mantan suamimu?" tanyanya pelan agar Laras tidak tersinggung dengan ucapannya.


Laras kaget mendengar pertanyaan itu, tak biasanya sang suami terlihat cemburu karena dia pergi ke rumah mantan suami.

__ADS_1


"Kamu tidak percaya? Benar! Aku sama sekali tak tahu jika dia sakit, aku ke sana untuk menemui Kyra, memastikan jika dia baik-baik saja, soalnya dia tak dihubungi karena mengganti nomor handphone. Kebetulan sampai di sana aku sekalian menjenguk Dirga yang ternyata sedang sakit," jelas Laras sejujur-jujurnya.


Teringat sesuatu, Laras segera menatap suaminya penuh tanya. "Sebentar, kenapa tadi kamu tahu jika aku pergi ke rumah papinya Kyra? Apa kamu memata-mataiku?"


Sang suami langsung menggeleng. Dia bukan tipe orang yang seperti itu. Dia benar-benar percaya akan cinta dan kesetiaan Laras padanya, karena dia pun begitu cinta dan setia pada sang istri meskipun satu sama lain mereka bukanlah cinta pertama dalam hidup mereka, tapi mereka berjanji akan menjadi cinta terakhir di hidup mereka.


"Kenapa kamu sampai mengira seperti itu, Sayang? Tidak! Aku tidak menyuruh orang untuk memata-matai kamu. Hanya saja aku kaget ketika ada yang mengirimkan sebuah foto."


Laras mengernyit dahi karena bingung. "Foto apa?" tanyanya.


Sang suami segera mengambil gawainya kemudian membuka aplikasi berkirim pesan yang ada di gawai mahalnya itu. Dia memperlihatkan foto yang dimaksud pada sang istri. Berharap istrinya memberikan klarifikasi dan meyakini dirinya jika apa yang dipikirkan tidak benar-benar sesuai yang terjadi.


"Ah, benar, itu memang aku! Tadi aku ke sana sekalian menjenguk Dirga karena ternyata dia sakit. Aku tidak sendirian berada di kamarnya, ada Kyra juga di sana. Aku tak mungkin berani masuk kamar pria yang bukan suamiku! Kamu percaya padaku, kan?"


Suaminya mengelus bahu Laras sembari berkata, "Aku percaya. Aku rasa orang yang mengirimkan foto ini benar-benar tidak punya kerjaan dan selalu mengusik kehidupan orang. Aku blokir saja nomornya!" tukas pria itu membuat Laras semakin sayang pada sang suami, karena begitu baik dan pengertian.


Laras mengangguk, dia setuju dengan tindakan sang suami. Namun, Laras tak habis pikir, kenapa masih ada orang seperti itu zaman sekarang? Saking nganggurnya mereka sampai mengurusi urusan orang. Laras berasumsi pasti itu ulah Inggrid, karena perempuan itulah yang tidak menyukainya di kediaman Dirga. Tak mungkin pelayan yang melakukannya. Lagian para pelayan juga tak mempunyai nomor telepon sang suami. Berbeda dengan Inggrid yang bisa saja mencari tahu nomor suaminya.


"Kamu sudah makan, Sayang?"


Laras menggeleng.


"Kita makan di luar, mau?"


Laras mengangguk riang. Dia bersyukur bisa mempunyai suami perhatian dan mencintai dirinya dengan sangat tulus seperti suaminya ini. Cinta yang tak pernah dia dapatkan dari pernikahan sebelumnya.


Sebelum pria itu bangkit dari duduknya, Laras tiba-tiba memeluknya dengan erat. Sontak sang suami membeku dan merasa kaget.


"Terima kasih sudah menjadi suamiku yang baik dan percaya padaku," lirih Laras, sembari mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Dia berharap semoga hubungannya dengan suami terus berjalan harmonis sampai kapan pun, dia tak mau masa lalu yang kelam dengan Dirga kembali terulang. Saat ini dirinya sudah sangat menyayangi sang suami dan menyayangi Bayu, anak tirinya.


Pria yang menjadi suami Laras itu mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut, lalu membalas pelukannya dengan lebih erat, membuat keduanya tenggelam dalam kehangatan pelukan kasih sayang satu sama lain.


"Sama-sama, Sayang," jawabnya.


Lama sekali keduanya berpelukan, hingga suara cacing di dalam perut sang suami mengangetkan Laras.


"Ah, cacing ini mengganggu kita saja!" pekiknya kemudian melepaskan pelukannya.


"Sepertinya mereka cemburu karena belum memiliki kekasih," balas sang suami kemudian tertawa kecil.


"Kita makan di mana, Sayang?" tanya Laras membuat suaminya berpikir.


"Restoran dekat mal depan, itu tempat yang paling nyaman untuk makan bersama pasangan," jawabnya yang segera dibalas anggukan riang oleh Laras.


Keduanya pun segera pergi ke tempat yang dituju. Hubungan Laras dan suaminya memang sangat harmonis. Keduanya saling mengerti dan percaya satu sama lain.


Berbeda dengan Inggrid dan Dirga. Inggrid yang selalu kepo dan iri terhadap pencapaian orang lain terkhusus Kyra dan Laras, membuatnya seperti orang sibuk karena tak berhenti menggunjing serta berprasangka buruk. Alhasil, hubungannya dengan Dirga pun tidak seharmonis Laras dan suaminya.


Seperti pada malam ini, Inggrid mulai melancarkan aksinya. Dia masih kesal dan emosi kepada Kyra yang mana tadi dia memojokkan dirinya dan Sandra.


"Oh, ya, Sayang. Kamu kenal Reyhan?" tanyanya memecahkan keheningan malam ketika semua orang tengah berkumpul menikmati makan mereka.


Dirga yang sedang makan kemudian menoleh ke arah istrinya, Kyra betul-betul kaget hingga dia tersedak. Segera Sandra berakting, dia dengan lembutnya memberikan segelas air putih untuk Kyra, dia memang pandai cari muka di depan papinya.


"Minumlah, jangan makan terburu-buru, makanannya masih banyak, kok," ujarnya disertai senyuman manis dan intonasi yang lembut, meski terdengar sarkas di telinga Kyra.


"Kamu kenal dia, Sayang?" Inggrid mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


Kyra saat ini benar-benar ingin menenggelamkan kepalanya. Dia berdoa pada Tuhan semoga tak ada kejadian yang tidak diinginkannya.


"Reyhan?" tanya Dirga bingung. Siapa Reyhan?


__ADS_2