Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Rencana Liburan


__ADS_3

Acara ulang tahun itu berjalan dengan lancar. Namun, setelah selesai mereka tidak langsung kembali ke rumah. Mereka berkumpul di satu meja yang sengaja disusun agar bisa digunakan untuk banyak orang.


Reyhan duduk bersebelahan dengan Kyra, sedangkan lainnya sesuai dengan pasangan masing-masing, Niko dan Jenny, Faizan dan Maria, lalu Sean dan Naura.


Mereka duduk bersama bukan tidak memiliki tujuan, tetapi kesibukan mereka membuat pertemuan itu menjadi jarang terjadi. Hingga Niko mengajak teman-temannya untuk melakukan perjalanan untuk liburan bersama.


“Kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini, bagaimana jika liburan bersama?” celetuk Niko.


“Boleh. Aku setuju, kapan?” sahut Sean yang ikut bersemangat sata mendengar kata liburan.


Kyra tidak bisa berkata-kata, bagaimana pun dia hanya menurut saja dengan keputusan Reyhan. Tetapi, kali ini Kyra berharap Reyhan akan menolak kegiatan itu karena risiko yang cukup berbahaya menurutnya.


“Oke, kapan dan ke mana kita pergi?” Tiba-tiba saja Reyhan bersuara dan membuat Kyra membulatkan matanya.


Dia setuju tanpa bertanya padaku. Batin Kyra.


“Hmm, bagaimana jika besok saja! Sesuatu yang direncanakan pasti gagal. Jadi kita ambil dadakan.” Seketika Niko mendapat pukulan di kepalanya.


“Aku tergantung Faizan.” Maria akhirnya ikut bersuara.


“Niko memang luar biasa. Mengambil keputusan dengan begitu mudah,” ujar Sean.


“Ayolah! Kapan lagi, kan? Besok adalah saat yang tepat, kita ketemu lagi sama akhir pekan,” jelas Niko.


"Bagaimana? Kalian setuju?" tanya Niko lagi menatap semua orang satu persatu yang perlahan menganggukkan kepala kecuali Kyra.


"Percaya padaku, semua akan baik-baik saja," bisik Reyhan dengan lembut menggenggam tangan Kyra.


Rasa hangat yang menjalar di hati Kyra tanpa sadar membuat Kyra menganggukkan kepalanya setuju dengan ajakan Niko, dan itu membuat Reyhan tersenyum senang, begitu juga semua yang ada di sana.


“Ya sudah, nanti aku suruh orangku untuk menyiapkan penerbangan. Kita berkumpul di bandara, semua aku yang akan menyiapkannya?” Sean pun langsung memutuskan.


“Yakin besok?” Maria kembali memastikan, dan semua mengangguk.


Akhirnya, semua pun setuju dan bersiap untuk besok. Liburan dadakan mereka.


Satu jam kemudian, semua orang sudah membubarkan diri.


Reyhan mengantarkan Kyra kembali ke rumahnya, dalam perjalanan Kyra hanya terdiam menatap jalanan di depan sana.


“Sayang, kamu keberatan dengan liburan ini?” tanya Reyhan yang berhasil menarik perhatian Kyra.


“Tidak juga. Aku selalu ingin mengambil liburan, tetapi selalu gagal. Kali ini … mungkin tidak akan menjadi masalah. Hanya saja aku sedikit takut,” jawab Kyra.


“Ada aku, aku akan berusaha agar semuanya aman," ucap Reyhan.

__ADS_1


"Baiklah." Kyra mencoba untuk percaya lada Reyhan.


"Jadi, kamu tidak menolak dan tidak akan marah?”


Kyra tersenyum dan menggeleng. "Aku senang mendengarnya." Reyhan mengecup sebelah tangan Kyra.


Sampai di rumah Kyra, Reyhan singgah untuk beberapa saat. Dia kini menunggu Kyra selesai mengganti pakaian. Beberapa menit berlalu dan akhirnya pemilik rumah datang dengan pakaian santai. Kyra pun duduk di samping Reyhan dan tidak banyak berbicara kali ini.


“Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?” Reyhan merasa Kyra sedang memikirkan sesuatu.


“Tidak ada, hanya merasa senang melihat persahabatan kalian. Meski dalam persahabatan itu memiliki sebuah luka, tetapi kalian saling menyembuhkan. Awalnya, aku merasa tidak akan cocok denganmu dan teman-temanmu itu, lalu … aku mencoba untuk membaur seperti yang kamu katakan.”


Reyhan mengacak rambut Kyra dan tersenyum melihat pengakuannya.


“Bukankah aku sudah mengatakannya? Mereka bisa menerimamu dengan baik. Usia bukanlah salah satu penghalang untuk kami bisa bertingkah. Kamu bisa melihatnya, Niko bahkan jauh lebih parah daripada aku, benar bukan?”


Kyra tersenyum, apalagi saat dia mengingat apa yang dilakukan Niko saat di pesta anaknya sendiri.


“Kamu masih melihat satu sisi mereka, Sayang. Nanti pada saatnya, kamu juga pasti akan melihat sisi lain dari kehidupan mereka. Dan itu bukanlah hal yang mengenakkan untuk dilihat.”


Mendengar ucapan Reyhan, Kyra berpikir tentang bagaimana Reyhan saat sedang bekerja. Pria itu pasti memiliki sisi lain yang tegas dan berwibawa saat berada di kantor. Namun, hingga saat ini … Kyra hanya melihat Reyhan dari sisi mesum dan seperti kekanak-kanakan saat bersamanya.


“Kenapa kamu masih diam? Apa ada yang mengganjal? Apa ada yang ingin kamu tanyakan, mungkin?”


“Tidak ada. Aku tidak ingin terlalu ikut masuk dalam kehidupan kalian. Aku masih ingin memiliki duniaku.”


“Apa maksudmu Maria? Mantan kekasihmu, yang kamu ceritakan padaku. Jadi, si cantik itu benar-benar mantanmu?”


Reyhan tersenyum mendengar pertanyaan itu.


“Kamu sudah bertemu dengannya dan setelah malam ini, aku merasa ada beban yang terlepas.”


“Beban hati? Jadi, kamu sudah merelakan Maria bahagia dengan suaminya?”


“Ya, dia mendapatkan suami yang tepat seperti Faizan. Mungkin, jika Maria bersamaku, dia tidak akan memiliki kehidupannya saat ini.”


“Kenapa? Apa sekarang kamu merasa tidak pantas untuknya?”


“Tidak, bukan begitu. Sudahlah. Aku akan pulang, bersiaplah untuk besok, aku akan menjemputmu pukul tujuh pagi.”


“Ya, aku akan berusaha untuk bangun lebih pagi.”


“Apa kamu mau aku tidur di sini?”


“Tidak, silakan pulang pria tua Mesum!” usir Kyra.

__ADS_1


Reyhan berdiri, tapi jari tanganya terangkat menyentuh bibirnya, memberi isyarat pada Kyra agar memberikannya sesuatu yang saat ini jelas dimengerti oleh Kyra dan membuat Kyra melotot menatapnya.


Reyhan bergerak cepat mengecup sekilas dahi Kyra, setelah itu tersenyum berjalan ke luar dari rumah Kyra sembari melambaikan tangannya.


"Entah dia, atau aku yang mulai gila," gumam Kyra menggelengkan kepalanya, tapi senyum di wajahnya terlihat begitu cerah.


Setelah kepergiannya, Kyra mulai menyiapkan beberapa barang-barang yang akan dibawa untuk liburan. Lalu, beristirahat setelah semua selesai.


***


Keesokan harinya,


Reyhan kembali menjemput Kyra dan mereka pergi ke bandara bersama. Reyhan mendapat kabar bahwa teman-temannya sudah berkumpul di sana.


“Jadi … kita akan ke mana?” tanya Kyra.


“Entahlah, mereka yang menentukan, kita mengikuti saja. Yang jelas, kamu pasti akan suka,” jelas Reyhan pada Kyra yang tampak ingin tahu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mereka akhirnya tiba di bandara. Tepat bersama mereka, ada Maria dan Faizan yang juga baru saja datang.


Mereka berjalan bersama menuju gate, tempat Niko dan yang lain menunggu. Perjalanan kali ini akan menggunakan pesawat pribadi milik Sean. Mereka akan pergi menuju ke sebuah pulau yang masih berada di wilayah Indonesia, hanya saja … pulau ini adalah milik pribadi.


“Kalian akhirnya datang juga, kok bisa samaan? Janjian nih?” tanya Naura yang melihat kedatangan Kyra bersama Maria.


“Tidak, Kak. Kami bertemu di depan tadi,” jawab Kyra dengan tersenyum.


“Wajah Kyra ada mirip Maria nggak sih? Sekilas aku lihat mereka kayak adik kakak, loh,” ujar Naura yang menyadari kesamaan keduanya.


“Ah mana ada mirip, kalian ini ada-ada saja,” sahut Maria yang kemudian menyapa Niko dan Sean.


“Gate sudah dibuka, kita masuk yuk!” ajak Sean.


Mereka berjalan bersama masuk ke pesawat. Tempat duduk pun sudah diatur berpasangan.


Kyra tampak menatap ke luar jendela, melihat pemandangan dari atas. Hatinya terasa tenang sekali, seperti sudah lama tak merasakan hal itu.


“Sayang, kenapa kamu diam saja sejak tadi? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?” tanya Reyhan yang melihat diamnya Kyra.


“Bukan begitu, aku nyaman kok. Mereka baik, aku cuman merasa tenang dan senang. Sudah lama sekali aku tidak bepergian bersama-sama teman ke tempat yang jauh.”


“Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku akan membuatmu bahagia, Sayang.”


“Terima kasih sudah mengajakku.” Kyra tak dapat menyangkal jika kehadiran Reyhan yang awalnya dianggap Kyra sebagai pembawa masalah dan pengganggu perlahan mulai memberikan kenyamana untuknya. Meski rasa takut masih saja menyelimutinya memikirkan keluarganya jika tahu hubungan mereka.


Reyhan tersenyum melihat wajah bahagia kekasihnya. Sementara itu di kursi lain, Niko seperti biasa selalu membuat suasana mencair dengan tingkah dan ucapannya yang terkadang tidak terarah. Sementara itu, Maria menikmati waktunya dengan berbincang bersama Jenny. Di samping Sean, Naura memilih untuk memejamkan mata karena Kenzo sempat rewel semalam, hingga membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Aku tidak pernah membayangkan jika akhirnya aku akan merasa memiliki kehidupan seperti ini. Mereka membuatku bahagia meski juga membuatku takut. Semoga tidak akan ada masalah nantinya, aku hanya ingin menikmati semua yang ada sekarang.


__ADS_2