
Sebagai orang tua, Laras masih memiliki perhatian untuk anaknya—Kyra. Laras baru saja tiba setelah menemani suaminya untuk perjalanan bisnis di luar negeri. Pikirannya kini terpusat pada Kyra yang beberapa hari lalu menarik perhatian banyak orang.
Laras meraih ponselnya untuk segera menghubungi Kyra. Namun, seperti sebelumnya, ponsel itu masih berada di tangan Dirga.
“Apa Kyra baik-baik saja?” tanya Laras ingin tahu keadaan anaknya.
“Tenang saja, kami sedang berlibur di Bali. Kamu tidak perlu khawatir dengan Kyra saat ini, aku bisa menjaganya dengan baik.”
“Baiklah, beritahu aku jika terjadi sesuatu padanya.”
“Tentu. Selama dia dalam masa hukuman, ponsel ini akan berada di tanganku, Laras.”
“Hem, aku mengerti. Beritahu dia, aku sudah kembali dari perjalanan bisnis suamiku. Katakan padanya aku merindukannya."
“Akan kusampaikan.”
Setelah panggilan berakhir, Laras bisa bernapas lega karena Dirga memperhatikan anaknya. Laras bisa melanjutkan kegiatan lainnya setelah tahu kabar dari Dirga.
Berbeda dari Dirga yang terlihat mengembuskan nafas berat setelah menjawab telepon dari Laras.
Andai saja dulu hubungan kita bisa sebaik hubunganmu dan dia. Batin Dirga yang terlihat kesedihan di sorot matanya.
***
Ana dan Dinda sama-sama terlihat gelisah. Mereka masih kesal dengan berita yang tiba-tiba saja menghilang dari peredaran. Padahal Ana sudah membayar cukup mahal untuk menjadikan berita itu viral dan trending utama.
Di tempat Ana, wanita itu tengah mengomel pada seseorang di seberang sana. Menyumpah serapah tentang berita yang tiba-tiba saja menghilang dari peredaran.
“Aku sudah membayarmu mahal! Kenapa hanya pagi saja viralnya? Di mana semua berita itu?" tanyanya kesal.
__ADS_1
“Untuk viral dalam waktu yang lama, ada tambahan biaya.”
“Apa? Tidak ada perbincangan masalah ini sebelumnya.”
“Itu karena kamu tidak bertanya padaku.”
“Kau!”
“Maaf, aku sedang sibuk. Jika tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan, aku tutup teleponnya.”
Pria di seberang sana benar-benar memutuskan sambungan teleponnya dengan Ana. Membuat wanita itu semakin kesal dan emosi. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang. Ana berharap itu berita baik untuknya karena hari ini sudah sangat sial saat tahu Reyhan baik-baik saja.
Saat pintu terbuka, satu jari menunjuk tepat ke wajah Ana, membuatnya melangkah mundur hingga sosok itu bisa masuk ke rumah itu.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa berita itu selesai begitu saja? Bukankah kita sudah sepakat? Berita itu hanya bisa ditarik saat aku dan Reyhan bersatu!” omel wanita yang tak lain adalah Dinda.
“Ma-maafkan aku. Aku juga tidak tahu mengenai hal ini, baru saja aku menghubungi orang itu, dia mengatakan ada tambahan biaya untuk bisa memperpanjang masa berita.”
“Aku juga tidak tahu, Dinda. Sekarang kita sama-sama kena sial. Jangan hanya menyalahkan aku saja. Bagaimana dengan usahamu? Kamu bahkan tidak merayu dengan benar. Reyhan tidak memiliki ketertarikan padamu meski usahamu hampir mencapai tujuan.”
Dinda terdiam sejenak, tidak ingin disalahkan dia kembali emosi dan membuat Ana tersudut.
“Tidak bisa, ini semua rencanamu. Aku hanya setuju dan mengikuti apa yang kamu katakan. Jadi, ini semua salahmu, Ana! Kamu dan orangmu yang bekerja dengan tidak benar. Reyhan bahkan tidak khawatir dengan berita itu. Dia justru balik mengancamku dan terlihat jika sikapnya berubah padaku.”
Mendengar ucapan Dinda membuat Ana tersenyum kecil. Meski sedikit tertahan, tetapi tidak ada yang lebih lucu dari curahan hati Dinda yang selalu gagal mendapatkan Reyhan sejak awal.
Merasa ditertawakan, Dinda kembali tersulut emosi hingga mendorong tubuh Ana sampai hampir terjatuh. Ana tak ingin kalah dari Dinda dan membalas apa yang dilakukannya. Akhirnya, mereka berdebat dan hampir saja saling pukul. Tetapi, aksi itu terhenti saat terlihat ada dua orang yang berdiri di ambang pintu menyaksikan mereka.
“Faizan? Maria?” panggil Ana yang mengenal keduanya. Tubuh Ana menegang, wajahnya tiba-tiba saja memucat melihat kedua sosok yang selama ini membuatnya harus bersembunyi.
__ADS_1
Dinda pun terdiam tak berkutik, seakan rencananya terbongkar karena kehadiran dua orang tersebut.
“Jadi benar kalian yang melakukan semua ini? Kalian yang menyebarkan berita itu dan membuat gosip murahan tentang Reyhan. Aku tidak menyangka kalian akan sepicik ini.” Maria meluapkan kekesalannya.
"Aku pikir kamu tidak akan seperti ini, Dinda. Aku pikir kamu sudah menyesali apa yang terjadi. Aku dan Reyhan sudah memaafkan mu dan menganggapmu sebagai teman, tetapi ini balasanmu," ucap Maria lagi menatap Dinda yang hanya bisa terdiam dengan wajah menunduk.
"Maria, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," cicit Dinda tanpa berani menatap Maria.
Ana tidak peduli dengan ucapan Maria, di depan Faizan pun dia kembali mulai beraksi. Ana tidak akan siap jika kembali mendapat hukuman dari Faizan, sudah cukup Ana terusir dari negara dan keluarganya setelah semua keburukannya terbongkar, dan Ana tebak semua karena Faizan.
“Bu-bukan aku, Faizan. Ini ulah dia, dia yang ingin bersama Reyhan, tetapi aku yang menjadi umpan,” adu Ana yang membuat mulut Dinda menganga menatapnya.
Faizan bersedekap mendengarkan apa yang diakui Ana kali ini. Lalu, Maria sendiri hanya tersenyum melihat drama yang dilakukan dua wanita di hadapannya.
“Jadi, kalian ingin menyerahkan diri ke polisi atau kami yang akan membawa polisi kemari?” tanya Maria memberi pilihan.
Ana menelan ludahnya kasar, begitu pun Dinda.
“Faizan, lihatlah istrimu. Berani sekali dia mengancamku untuk lapor polisi.”
“Kamu masih saja sama, Ana. Bahkan kamu dan Dinda memiliki kemiripan yang hakiki. Apa kamu tidak sadar dengan hal itu?” Maria kembali menyadarkan Ana.
Kedatangan keduanya membuat dua wanita yang berdebat itu membeku. Tidak ada yang bisa mereka lakukan meski sudah berusaha membujuk dengan memohon.
"Aku masih punya rekaman videomu bersama dua pria waktu itu, kau masih ingat?" ucap Maria.
"Tak hanya itu, suamiku juga memiliki banyak bukti lainnya tentang apa yang pernah kalian lakukan," sambung Maria menekankan kata kalian pada kedua wanita yang semakin memucat mendengarnya.
"Tidak, Maria. Tolong maafkan kami," pinta Dinda bergerak cepat ingin mendekat pada Maria, tetapi Faizan yang tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya dengan cepat menghalangi Dinda.
__ADS_1
"Katakan! Apa yang harus aku lakukan agar kalian melepaskan kami?" tanya Dinda menatap penuh harap pada Maria.
"Baiklah, kesempatan terakhir untuk kalian!" ucap Maria menyeringai memikirkan ide yang ada di benaknya.