Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Mencari Hadiah


__ADS_3

Malam minggu pertama mereka berakhir dengan menyenangkan, Reyhan pun mengantarkan Kyra kembali ke rumahnya. Tepat di depan pintu, Reyhan bertanya pada Kyra mengenai acara ulang tahun Razka—anak Niko dan Jenny.


“Sayang, aku ingin mengajakmu ke acara ulang tahun anak sahabatku, namanya Razka, dia anak yang sangat lucu. Kamu akan pergi bersamaku, kan?" ucap Reyhan.


“Tidak! ! Aku tidak ingin terekspose oleh siapa pun termasuk temanmu, Om.”


Kyra dengan tegas menolak permintaan Reyhan.


"Sejak awal kemarin kita sepakat jika teman terdekat boleh tahu," ucap Reyhan mengingatkan Kyra apa yang pernah mereka sepakati.


"Iya, tapi tetap saja aku belum siap. Maaf aku tidak bisa," jawab Kyra menolak. Namun, bukan Reyhan namanya jika tidak bisa membujuk Kyra. Reyhan pun mengeluarkan senjata utamanya untuk membuat Kyra takluk.


“Hmm, apa kamu sudah tahu jika perusahaan papimu bekerja sama dengan perusahaanku? Aku rasa kamu tidak tahu, Sayang. Bagaimana jika aku membuat kesepakatan dengan papimu saja?”


Kyra membulatkan matanya, ucapan Reyhan terdengar seperti ancaman. Ancaman Reyhan tidak pernah omong kosong. Itulah yang membuat Kyra gelisah setengah saat ini, hingga tanpa sadar menyetujui permintaan Reyhan begitu saja.


Ya Tuhan. Kenapa Papi ingin bekerja sama dengannya? Apa jangan-jangan papi mencurigai kami? Batin Kyra.


“Awas saja kalau kamu berani mengatakan hal yang tidak-tidak pada Papi, tolong bersikap baik dan profesional,” ancam Kyra balik.


Reyhan tersenyum kecil mendengar ucapan kekasihnya. Setelah itu, Reyhan berpamitan dan tiba-tiba saja mengecup kening Kyra sekilas. “Aku pulang dulu, besok aku akan menjemputmu untuk pergi membeli hadiah.”


“Apa? Tidak bisa! Tempat ramai akan mengundang perhatian orang.” Tolak Kyra lagi.


“Tenang saja, aku akan menjemputmu besok.”


Kyra menghentakkan kakinya, kesal tak bisa membalas Reyhan yang seakan menguasai semuanya.


***


Keesokan harinya,


Reyhan benar-benar menjemput Kyra, tetapi gadis itu belum siap dan Reyhan harus menunggu untuk beberapa menit di ruang tamu.

__ADS_1


Di kamar, Kyra berjalan mondar-mandir kebingungan. Wajahnya begitu cemas, bagaimana jika ada orang yang mengenali mereka dan melaporkannya pada Dirga?


Dengan hati yang kesal, wajah Kyra juga menunjukkan kecemasan. Dia pun turun dari lantai dua dan menemui Reyhan yang sudah menunggu.


“Akhirnya kamu turun juga.”


Kyra terlihat menghembuskan napasnya dengan kasar, mencoba bersabar dengan sikap Reyhan yang begitu memaksa. Namun, tiba-tiba saja pria itu merogoh saku jasnya dan memberikan masker pada Kyra.


“Hm?”


“Gunakan ini, bukankah kamu takut ada yang mengenali kita?”


Kyra tersenyum lalu mengenakan masker itu. Tetapi, di depannya sekarang, Reyhan juga mengenakan masker yang sama dengannya. Akan terlihat memalukan menurut Kyra, tapi akan terlihat menggemaskan untuk orang yang nanti melihatnya.


Dari mana dia menemukan masker couple seperti ini? Dia pasti sengaja. Seketika Kyra melepaskan masker miliknya dan menghentakkan kaki.


“Terserah padamu, bukankah semua pilihan ada di tanganmu?” setelah mengucapkan kalimatnya, Reyhan melihat Kyra kembali memasang maskernya.


Mereka pun berangkat menuju salah satu Mall yang ada di kota itu. Selama perjalanan, taka da sedikit pun percakapan di antara mereka. Hingga mobil Reyhan sampai di basement Mall.


Di balik masker itu, Reyhan bisa tersenyum puas tanpa bisa Kyra lihat. Mereka berjalan bersama menuju toko mainan dengan bergandengan tangan. Awalnya Kyra menolak, seperti biasa, jurus andalan Reyhan selalu berhasil membuat gadis itu menurut padanya.


‘Ternyata lebih mudah dari yang kukira,’ batin Reyhan.


Tatapan mata setiap orang tertuju pada mereka, Kyra merasa malu karena menjadi pusat perhatian. Tetapi, Reyhan berhasil membuat Kyra kembali tenang dengan berbisik, “Ini tandanya kita berhasil menjadi sepasang kekasih. Membuat iri pasangan lain adalah hal yang sulit dilakukan, bukankah begitu?”


Tidak menjawab, tetapi di balik masker itu bibir Kyra tersenyum.


“Di mana toko mainan itu? Kenapa sejak masuk kita hanya berputar-putar?” tanya Kyra yang menyadari tingkah Reyhan yang membuat mereka semakin lama di sana.


“Sebentar lagi, ternyata toko itu belum buka pada jam ini. Bagaimana jika kita menunggu di area makanan? Apa kamu mau beli sesuatu atau apa pun itu? Katakan saja.” Tawaran Reyhan hanya mendapat tatapan tajam dari Kyra.


“Aku bisa membeli apa pun sendiri, tanpa harus membuatmu mengeluarkan uang.”

__ADS_1


“Sangat mandiri, aku semakin menyukaimu, Sayang. Tetapi, jika bukan dirimu, siapa yang akan menghabiskan uangku?"


Seakan menjadi sebuah lampu hijau, Kyra berpikir ingin membuat Reyhan kesal dengan menggunakan seluruh uangnya, tetapi Kyra bukanlah gadis bodoh yang bisa terpancing dengan iming-iming belanja. Dalam pikiran Kyra, pasti ada sesuatu di balik perkataan manis Reyhan. Kyra tidak ingin semua menjadi boomerang pada akhirnya nanti.


“Lihat itu, masker mereka sama, duh … manisnya, jadi pengen,” ucap seorang wanita yang berpapasan dengan mereka saat berjalan.


Lagi-lagi Kyra menunjukkan rasa tidak nyaman. Beberapa kali Kyra seperti sengaja memalingkan wajahnya.


“Sayang, mereka tidak akan mengenalimu hanya dari sorot mata. Bisakah kamu tenang?”


“Tidak, apa yang kita lakukan ini membuatku khawatir. Ada banyak kemungkinan orang mengenaliku. Tidak hanya dari sorot mata, bahkan tubuh ini sangat kentara kalau aku itu—“


“Kekasihku,” sahut Reyhan yang membuat Kyra terdiam.


Reyhan tersenyum dan kembali menarik tangan Kyra menuju sebuah stand penjual makanan.


“Kamu sengaja? Kalau aku membuka masker untuk makan, pasti mereka bisa melihat wajahku.”


“Sayang, kamu bisa memakannya di mobil. Aku tidak menyuruhmu makan di sini.”


Kyra kembali terdiam dan menerima satu bungkus makanan yang dibeli oleh Reyhan. Kembali berjalan, akhirnya Reyhan mengajak Kyra menaiki eskalator tuntuk menuju lantai selanjutnya.


“Akhirnya, toko mainannya sudah buka, Sayang. Ayo bantu aku, memilih hadiah untuk Razka!" Reyhan menggandeng mesta tangan Kyra masuk ke toko itu.


Yang ulang tahun anak temannya, tapi kenapa dia yang bersemangat? Batin Kyra sembari melihat tingkah Reyhan yang memilih mainan di lorong bagian depan.


Kyra mengekor sembari melihat-lihat hadiah yang cocok untuk anak laki-laki, sejak awal di sana akhirnya Reyhan melepaskan tangannya. Pilihannya jatuh pada robot, atau mobil. Sementara Reyhan memilih beberapa mainan yang terlihat mahal tetapi tak akan berguna, menurut Kyra.


“Ini, jika usianya masih belum di atas enam tahun, aku rasa ini yang cocok. Anak seusia itu pasti hanya ingin memainkannya beberapa kali lalu saat bosan akan ditinggalkan.”


Mendengar penjelasan Kyra, Reyhan tersenyum dan berkata. “Tidak dengan ini, anak kecil jika menyukai sesuatu, akan dijaga, dan selalu menjadi kesayangannya. Baiklah, aku ambil dua ini.”


"Hmmm terserah padamu," ucap Kyra.

__ADS_1


"Bagaimana dengan anak kita nanti?" tanya Reyhan sengaja menggoda Kyra yang sontak terbelalak mendengar ucapannya yang dengan sengaja berbicara kencang, membuat perhatian orang-orang semakin tertuju pada mereka.


__ADS_2