
"Beraninya kamu mendekati putriku!" Dirga kalap, berteriak lantang sambil menerjang Reyhan dan langsung melayangkan sebuah pukulan.
Hal ini tentu saja membuat Kyra syok. Wanita itu menjerit ketakutan saat melihat Reyhan jatuh berguling di pasir. Wanita itu hanya bisa mengulurkan tangan untuk menutup mulutnya yang setengah terbuka akibat rasa terkejutnya.
"Sudah kubilang, jauhi putriku! Lelaki sepertimu tidak pantas untuk putriku! Kamu brengsek, apa kamu juga seorang pedofil? Ingatlah, umurmu bahkan terpaut dua kali dari umur putriku!" bentak Dirga masih dengan marah, mencengkram kerah Reyhan dengan erat.
"Papi ... Papi tolong lepaskan. Jangan seperti ini, Pi." Kyra berusaha menahan ayahnya. Memegang pundak dan menariknya agar sang ayah bangun dari tubuh Reyhan.
"Lelaki sialan! Aku benar-benar akan membunuhmu kali ini!" raung Dirga masih histeris, kembali melayangkan tinju para wajah Reyhan.
Reyhan yang diserang tanpa aba-aba, tentu saja membuatnya kalah. Dia masih syok, apalagi saat serangan rasa sakit tiba-tiba menjalar ke tubuhnya. Lelaki itu hanya bisa terdiam dan menerima pukulan dari ayah sang kekasih.
Ternyata, kejadian ini dilihat oleh sahabat Reyhan. Niko dan Sean semang sedang berjalan ke pantai untuk mencari Reyhan, ketika mendengar suara orang ribut. Saat mendekat, mereka terkejut mendapati pertengkaran ayah Kyra dan juga Reyhan. Tak mengukur waktu lagi, mereka segera menghampiri dengan panik.
"Hey, hey ... jangan seperti ini!" pekik Sean, mencoba menarik ayah Kyra untuk bangun.
"Lepaskan aku, sialan. Aku masih belum puas menghajarnya. Beraninya dia mendekati putri berhargaku!" raung Dirga masih dengan marah.
Melihat itu, membuat Niko berdecak. Dia segera mengeluarkan teleponnya untuk merekam. "Kalau begitu teruslah hajar. Aku akan mempunyai bukti jika akan melaporkan Anda ke kantor polisi. Dengan adanya video ini, aku yakin Anda bisa ditangkap cepat lalu mendekam di penjara!" ujarnya penuh ancaman.
__ADS_1
Hal ini benar-benar bekerja efektif, karena setelah itu Dirga mulai bangun meskipun dengan decakan kasar. Lelaki paruh baya itu meludah di sebelah wajah Reyhan, sebelum akhirnya beranjak berdiri.
Reyhan tampak terbaik-batuk. Beban yang dia rasakan di perutnya tadi membuatnya susah untuk bernapas. Dia merasa paru-parunya begitu kosong saat ini yang membuatnya menarik napas dalam berkali-kali. Lelaki itu tampak pasrah saat tubuhnya ditarik oleh temannya untuk duduk.
"Pi, apa yang Papi lakukan? Kenapa seperti ini?" keluh Kyra tampak ketakutan. Dia sudah menangis, melihat Reyhan terluka dengan wajah sedikit babak belur.
"Kenapa Kyra? Apa kamu akan membelanya?" decak Dirga marah bertanya dengan dingin. Dia tak segan untuk menatap tajam putri satu-satunya itu.
Dirga tadinya berniat untuk menemui kelimanya yang katanya ada di taman hotel. Tapi saat dia lewat, dia tak sengaja melihat Kyra dipeluk oleh Reyhan. Yang lebih mengejutkan, mereka berani berciuman di depan matanya. Dirga yang sejak awal tak setuju dengan hubungan mereka, tampak marah dan begitu menggebu untuk mencekik Reyhan. Dia mengira jika Reyhan memanfaatkan kepolosan putrinya selama ini.
Melihat putrinya itu terus terdiam seolah membela Reyhan, membuat Dirga semakin murka. "Kamu tak seharusnya mempunyai hubungan dengannya, Kyra. Sadarlah, dia itu seorang duda. Umurnya bahkan lebih tua darimu dan tak jauh dengan Papi. Dia bahkan mempunyai banyak--"
"Memangnya kenapa dengan status duda, Tuan Dirga?" sahut Sean menyela. Dia menatap ayah Kyra dengan tajam. Lalu berdiri, melangkah mendekat seolah berusaha mengintimidasi Dirga. Meskipun dia jauh lebih muda, Sean sama sekali tak merasa takut. "Duda hanyalah sebuah status. Tidak ada hubungannya dengan ketulusan dan kebaikan seseorang. Mana bisa Anda menilai seseorang hanya dengan status saja? Apa jika suatu saat nanti Kyra menikah dan bercerai, aku bisa memandangnya dan menilainya dengan status jandanya?" Lelaki itu bahkan berbicara panjang lebar, dengan rahang yang mengeras.
"Tch, umur hanyalah sebuah angka, Tuan Dirga. Lagian, dewasanya seseorang bukan hanya dihitung dengan umur!" geram Sean kembali menyahut.
Merasa dipermalukan, membuat Dirga tampak marah. Matanya melotot tajam, dengan tangan yang sudah mengepal kuat. Dia tak menyangka, jika Reyhan akan mengerahkan teman-teman untuk menyerangnya.
Di tengah suasana tegang itu, Kyra diam-diam mendekati Reyhan. Wanita itu menyentuh wajah Reyhan dengan cemas. Tangisnya semakin pecah, melihat Reyhan kesakitan.
__ADS_1
"Kita harus membawanya ke rumah sakit. Lukamu harus diobati," bisik Kyra dengan suara lirihnya yang gemetar.
"Tidak apa, Sayang," jawab Reyhan dengan senyuman lebar. Dia berusaha meyakinkan kekasihnya itu, jika dia baik-baik saja.
Ternyata, Dirga menyadari hal itu. Melihat anaknya mendekat pada Reyhan membuatnya segera menarik anaknya itu untuk menjauh. Sungguh, dia benar-benar tidak rela anaknya didekati seseorang yang umurnya lebih tua.
"Aku tetap pada pendirianku. Aku tidak akan merestui hubungan kalian. Sadarlah, Reyhan. Siapa kamu, hah, sampai-sampai berani mendekati putriku? Kamu hanyalah seseorang yang penuh akan skandal!" geram Dirga menatap tajam Reyhan.
Reyhan menarik napasnya dalam-dalam. Rasanya dia tidak tahan lagi dengan semua hinaan yang diucapkan ayah kekasihnya itu. Dia mulai bangun, dibantu oleh Niko. Setelahnya, berhadapan dengan Dirga dengan langsung.
Mata Niko membalas tajam tatapan ayah Kyra. "Sebenarnya, siapa yang Anda benci? Statusku, atau diriku? Kenapa Anda mengungkit segala hal tentangku?"
"Semuanya! Aku membenci semuanya tentangmu. Kamu bukanlah lelaki baik-baik. Kamu hanyalah--"
"Tidak sadarkah apa yang Anda katakan, Tuan Dirga!" sahut Niko menyela ucapan ayah Kyra itu. "Kenapa Anda tidak berkaca dengan diri Anda sendiri? Apa selama ini Anda adalah orang baik yang selalu lurus dan tak mempunyai masalah dalam kehidupan? Apa Anda telah lupa dengan yang terjadi pada Anda beberapa tahun yang silam? Aku masih ingat berita itu. Konglomerat tersohor, yang melakukan perselingkuhan. Lalu mencampakkan keluarganya demi selingkuhannya."
Dirga syok, sampai-sampai dirinya hanya bisa mematung. Dadanya naik turun penuh emosi, tak menyangka jika dirinya akan kalah dengan anak muda. Lelaki paruh baya itu menatap tajam tiga lelaki di depannya. Sorot matanya penuh dendam yang begitu membara.
Di tengah suasana tegang itu, telepon Dirga tiba-tiba berdering. Mau tak mau lelaki itu meraihnya dan hanya bisa mendengkus saat melihat nama kliennya yang akan dia temui kembali menghubungi.
__ADS_1
Dia tak menjawab, malah memasukkan kembali teleponnya. Tetapi, setelahnya dia kembali menatap tiga lawannya itu dengan tajam. "Urusan kita belum selesai. Kalian semua akan menerima akibatnya karena menyinggung urusan pribadiku. Terlebih kamu, Reyhan!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Dirga menarik tangan Kyra. Dia memaksa anaknya itu untuk pergi dari sana. Dirga sama sekali mengabaikan, meskipun Kyra berteriak, memohon untuk dilepaskan, dan berusaha berontak. Hatinya sudah dingin untuk memberikan kesempatan pada anaknya itu. Terlebih, dia kini menjadi dendam pada Reyhan dan gengnya.