Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Arfana


__ADS_3

Di sudut kelab malam, Dinda tengah menikmati tequila yang kini memanjakan lidahnya. Bersama sosok wanita yang baru dikenalnya beberapa hari lalu dari sebuah pesan singkat. Dinda mendengarkan apa saja rencana yang akan dilakukan wanita itu. Sebuah rencana yang ingin sekali segera dilakukannya pada Reyhan—pria yang membuatnya merasa sakit hati seorang diri.


“Jadi, rencananya kamu ingin membuat Reyhan berpisah dari Kyra? Dan bekerja sama denganku untuk melakukannya?” tanya Dinda yang kini tersenyum miring menatap wanita itu.


“Rencananya sangat sederhana, kita hanya perlu membuat berita viral tentang Reyhan. Bukankah gadis itu masih sangat muda? Akan sangat muda membuat mereka berpisah, terlebih orang tua gadis itu bisa dipastikan menentang hubungan ini.”


“Hem, kamu memang benar. Tapi, kamu yakin jika rencana ini akan berhasil?”


“Ya, tentu saja. Apalagi—“ Ucapan wanita itu terhenti saat sorot matanya menemukan target.


Senyum mengembang begitu melihat Reyhan—orang yang mereka bicarakan berada di kelab malam itu.


“Ada apa, Ana?” tanya Dinda yang tidak tahu apa-apa.


“Lihat, target sudah masuk dalam kandang. Kita tidak perlu terlalu lama untuk melakukannya. Sebaiknya kita bergerak saat ini juga. Aku yakin, Reyhan datang kemari untuk menumpahkan rasa sakitnya.”


Ana atau Arfana adalah wanita yang mencintai Faizan—suami Maria. Namun, cintanya berakhir tragis dan hingga kini pun tak bisa berpindah hati. Sementara rasa sakitnya pada Reyhan karena saat itu mereka merencanakan untuk memisahkan Faizan dan Maria, tetapi rencana itu justru berakhir sia-sia untuk Ana. Seban Reyhan menolak ajak kerja sama darinya.


Entahlah. Seharusnya semua rasa sakit karena cinta tak terbalas itu sama sekali bukan salah Reyhan, tetapi Ana justru menyimpan dendam yang amat besar pada Reyhan yang dianggap sudah melenyapkan harapan terakhirnya.


Ana tidak rela saat Reyhan bisa berpindah hati pada Kyra, sementara Ana masih menyimpan rasa cemburu karena Faizan menikah bersama Maria.


Dinda melihat Reyhan duduk di kursi tepat di depan meja bar. Kini, mereka menunggu hingga Reyhan benar-benar mabuk dan bisa dikendalikan. Pikir Dinda, rencana mereka akan lebih mudah karena pasti berhasil melihat keadaan pria itu.


“Baiklah, kita hanya menunggu saja.” Ana pun ikut memperhatikan apa yang dilakukan Reyhan di sana.


Setelah beberapa menit berlalu, Reyhan benar-benar mabuk dan membuat Dinda beranjak dari tempatnya untuk menemui sang mantan suami. Di sisi lain, Ana beranjak dari sana dan mengabadikan setiap moment yang dilakukan Dinda bersama Reyhan dari sudut lain kelab.


“Bagus, kalian adalah umpan yang sangat bagus untuk memancing sebuah masalah baru. Rasakan itu, Rey. Kamu harus merasakan sakit hati yang kurasakan selama ini. Kamu juga akan kehilangan gadis itu setelah ini,” ujar Ana sembari memotret aksi Dinda di sana.


Selain itu, Ana juga menghubungi seseorang untuk membantunya menyebar luaskan berita miring tentang hubungan Reyhan dan Dinda. Ana membuat seolah-olah Dinda kembali bersama Reyhan setelah hubungan barunya dengan sang gadis.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Ana mendapatkan posisi yang menguntungkan. Meski Dinda tidak berhasil mendapatkan Reyhan malam ini, tetapi rencananya tetap berjalan dengan baik.


Ana menghampiri Dinda lagi setelah kepergian Reyhan bersama Sean. Ana menenangkan Dinda dan mengatakan aka nada berita viral mengenai mereka berdua, tentu saja hal itu membuat Dinda tersenyum senang dan akan membenarkan berita tersebut jika ada pers yang menemuinya.


Dasar bodoh, pada akhirnya kau juga tidak akan mendapatkan Reyhan. Batin Ana.


“Baiklah, rencana kita sudah berjalan dengan baik malam ini, aku akan kembali lagi menemuimu jika memiliki informasi lainnya,” pamit Ana yang ingin beranjak dari sana.


“Tunggu! Rencana kita? Bukankah ini rencanamu? Bahkan malam ini tidak ada rencana yang menguntungkan aku. Sean datang disaat aku hampir saja mendapatkan Reyhan. Sungguh sial!” Dinda mengumpat dan merutuki apa yang terjadi padanya malam ini.


“Tenang dulu, masih ada hari-hari esok. Aku yakin Reyhan akan semakin terpuruk dan ditinggalkan gadis itu saat melihat berita viral malam ini. Kamu harus tenang, Dinda.”


“Aku tidak akan segan-segan untuk mencari keberadaanmu jika kamu berani berbohong padaku.”


Dinda berbalik badan dan pergi dari sana. Sementara itu, Ana masih berkutat dengan ponselnya dan mengunggah berita tersebut agar menjadi topic utama besok pagi.


***


Pagi ini, Ana terlihat tertawa puas melihat berita yang memiliki hastag trending nomor satu pada berita hubungan pria kaya. Ana sungguh puas melihat kehancuran yang akan didapatkan Reyhan setelah ini.


“Apa yang kamu lakukan? Kenapa beritanya seperti itu?” tanya Dinda dari seberang telepon.


Ana menyeringai mendengar pertanyaan itu, lalu mereka sama-sama tertawa bersama.


“Hahaha, bagaimana? Apa kamu menyukai berita ini?” tanya Ana yang tentu saja sangat senang karena mendapatkan dukungan.


“Aku menunggu ekspresi Reyhan untuk berita ini. Aku yakin, dia pasti sangat marah dan malu dengan berita seperti ini dan membuat semua menjadi nyata. Dia akan datang padaku dan memintaku untuk melakukan sebuah pengakuan yang berbeda dari kelihatannya.”


“Ya, kamu benar sekali. Tapi, apa kamu yakin dia akan kembali padamu dengan hal itu?” Ana seakan memberitahu kemungkinan terburuk dari rencana mereka.


“Aku sangat yakin, setelah Reyhan berpisah dari gadis itu … dia pasti sangat terpuruk, dan aku akan datang untuk menghiburnya setiap saat.”

__ADS_1


“Hem, baiklah. Itu terserah padamu. Aku cukup senang rencana ini berjalan dengan baik.”


“Ya. Kita perlu merencanakan hal lainnya jika rencana ini gagal.”


“Tidak akan gagal dan aku yakin itu, Dinda.”


Setelah panggilan telepon itu berakhir, Ana kembali pada kegiatannya. Memasukkan potongan foto yang dia ambil semalam ke dalam amplop cokelat. Ana menghubungi seseorang di seberang sana untuk menyempurnakan rencananya.


“Halo? Aku memiliki foto yang kamu inginkan. Aku yakin, semua akan berjalan dengan baik.”


“Tunggu aku. Dalam beberapa menit lagi akan sampai.”


“Baiklah.”


Ana memutuskan sambungan telepon itu dan semakin bahagia dengan kehancuran yang didapatkan Reyhan. Dia merayakannya dengan suka cita, bersenandung seakan ada yang menemaninya dalam kehancuran hati.


Setelah beberapa menit berlalu, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ana melihat sosok pria berjas menerima amplop cokelat yang sudah disiapkannya.


“Ini, berita pagi ini sangat menarik, bukan?” Ana menunjukkan senyum kemenangan.


“Baiklah, terima kasih sudah membantu mempermudah pekerjaanku. Aku yakin, dengan bukti ini, Tuan Dirga akan semakin tahu bagaimana Reyhan.”


“Ya, kamu bisa membawa bukti ini padanya. Seakan kamulah yang mendapatkan gambar itu, tetapi bukan kamu yang menyebarkannya.”


“Aku mengerti.”


“Ini bayaran untukmu karena membantuku.”


“Terima kasih, aku harus pergi untuk memberikan ini pada Tuan Dirga.”


Kepergian pria itu membuat Ana semakin bahagia. Ada satu orang lagi yang akan merasa benci pada Reyhan, tidak lebih tepatnya dua orang—Kyra dan Dirga.

__ADS_1


Ana melanjutkan kegiatan paginya dengan menghidupkan musik dari ipod miliknya. Irama suara itu membuatnya bergoyang dan merayakan sebuah kemenangan. Ana sungguh berhasil melakukan rencananya kali ini, bahkan dia juga mendapatkan teman baru yang bisa melancarkan aksinya.


"Setidaknya dengan bersembunyi seperti ini, aku bisa mempunyai boneka untuk membalas semuanya," batin Ana yang memang hanya bisa bersembunyi di balik layar karrna sudah berjanji pada Faizan untuk menjauh, ancaman Faizan jelas membuat Arfana takut, tetapi tetap saja Arfana tidak akan tenang melihat orang-orang yang telah menghancurkannya bahagia.


__ADS_2