
Kyra tampak fokus pada pikiran beberapa saat lalu, tetapi semua selesai saat dering ponselnya terdengar memekikkan telinga. Kyra melihat ponsel yang kini menunjukkan bahwa Reyhan tengah melakukan panggilan video. Kyra pun panik dan bingung, pasalnya dia terlihat sangat berantakan.
Selain itu, Kyra tidak pernah melakukan panggilan video sebelumnya. Hingga tingkahnya terlihat jelas seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
Lah, kenapa juga aku harus terlihat rapi di depannya? Batin Kyra.
Akhirnya, setelah dua kali berdering, Kyra menerima panggilan itu. Di depan kamera, Kyra menunjukkan wajah kesalnya karena merasa semua ini gara-gara Reyhan, sehingga Dirga datang dan ingin memastikan keadaan putrinya.
“Sayang, kenapa dengan wajah itu?”
“Apa yang kamu harapkan saat melihat wajahku dalam panggilan video seperti ini?”
“Aku hanya ingin melihatmu sebelum tidur. Kamu masih tetap cantik rupanya, meski sedikit–”
"Sedikit apa?" tanya Kyra.
"Sedikit lebih menggoda," jawab Reyhan tertawa.
“Diam! Atau aku akan mengakhiri panggilan ini. Semua karena Om, papi jadi curiga sama aku.”
“Hahaha, astaga. Curiga kenapa? Papi kamu tidak senang jika anaknya memiliki seorang kekasih? Apa kamu mau aku bertemu dengan papimu untuk berbicara langsung, meminta izinnya untuk menikahimu," ucap Reyhan selalu saja senang menggoda Kyra.
“Tidak! Awas sampai Om ketemu papi. Jangan bikin aku makin kesal sama Om.”
“Hahaha, jangankan bertemu hanya untuk berbicara, menikahimu pun aku siap, Sayang.”
“Uhuk, uhuk! Sial! Untuk apa seperti itu?” Kyra tersedak mendengar ucapan Reyhan untuk kedua kalinya mengatakan kata menikahi.
Reyhan lagi-lagi tertawa melihat kekasihnya yang tampak menggemaskan. Pria itu bahkan tidak bisa jika harus berjauhan dari Kyra, rasa-rasanya dia ingin sekali selalu ada di samping gadis itu.
“Papi akan ada di sini selama beberapa hari ke depan. Jadi, jangan datang kemari! Jangan ganggu aku selama ada papi di rumah ini. Atau semua akan berakhir.”
Reyhan hanya mengangguk, dan kali ini tidak ada protes. Kyra pun bertanya-tanya, kenapa Reyhan tampak lebih santai dan tidak memaksa?
“Jadi, apa yang kamu katakan pada papimu tentang hari ini?”
“Uhm, aku meminta bantuan Andini dan Silva untuk mengatakannya pada papi.”
“Ah, aku mengerti. Pandai sekali kekasihku ini. Tapi, untuk selanjutnya lebih baik katakan saja kamu sedang bersamaku.”
__ADS_1
“Tidak semudah itu, Om!”
“Hmm, kenapa masih memanggil Om? Berhenti memanggilku Om!”
“Suka-suka aku,” Kyra menjulurkan lidahnya dan membuat Reyhan tersenyum.
Senyuman itu membuat Kyra membeku beberapa detik, matanya tak berkedip hingga Reyhan memanggil namanya beberapa kali.
“Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu sudah merindukan aku?” Reyhan cukup percaya diri untuk bisa mengatakan soal pikirannya.
“Jangan terlalu percaya diri dulu deh! Lebih baik kalau Om sekarang istirahat dan tidur sana! Bukankah besok harus bekerja?”
"Perhatian sekali calon istriku ini. Makin makin deh," ucap Reyhan yang sama sekali tidak menyadari jika sikapnya akhir-akhir ini jauh lebih konyol dan kekanakan.
“Ya, aku tidak akan tenang sebelum memastikan keadaanmu, sayang.” Kyra yang terdiam karena kesal sekarang menatap hangat pada Reyhan setiap kali Reyhan menunjukan jika dia mengkhawatirkan Kyra.
“Apa karena usia ya? Om itu pinter banget gombal. Sampai aku lupa kalau Om itu masternya pergombalan ala-ala cowok nakal.”
Reyhan semakin terpingkal-pingkal mendengar ucapan Kyra yang begitu polos seperti layaknya anak remaja sedang berpacaran, menurut Reyhan.
“Sebentar lagi Papi pasti panggil aku buat makan malam, sudah dulu ya, Om? Om pergi tidur, gih!”
“Ya sudah, jangan lupa untuk membalas pesanku,” ujar Reyhan sebelum mengakhiri panggilan videonya.
Benar saja, tak lama setelah itu, suara Dirga memanggil putrinya untuk makan malam. Meski terasa enggan, Kyra tetap berjalan ke luar dari kamar dan menemui Dirga di ruang makan.
***
Keesokan harinya.
Dirga sudah siap untuk pergi bekerja. Sebelum berangkat, dia menyempatkan diri untuk menemani putrinya menikmati makan pagi. Duduk berdua dengan posisi berseberangan, Kyra tanpak lahap sekali saat menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Sayang, Papi berangkat dulu ya?”
“Makan dulu, Pi! Bibi sudah susah payah memasak untuk kita!”
“Baiklah, tapi hanya sedikit saja ya?”
“Oke.”
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, Dirga menyelesaikan kegiatan makannya dan pergi bekerja.
Hari ini ada seseorang yang membuat rasa penasaran Dirga mencuat. Beberapa kali, pria yang akan ditemui saat ini mencuri perhatian Dirga meski tampilannya tampak meyakinkan sebagai pria. Siapa lagi jika bukan Reyhan, pria yang akan ditemui Dirga untuk urusan bisnis.
Dirga mengemudikan mobilnya hingga sampai di sebuah tempat yang cukup tertutup untuk melakukan pertemuan. Pria itu menunggu beberapa menit hingga Reyhan hadir seorang diri.
“Maaf membuat Anda menunggu,” ucap Reyhan dengan mengulurkan tangannya.
“Tidak masalah, aku terlalu bersemangat. Silakan duduk.”
Mereka duduk berseberangan, dengan sikap santai tetapi berwibawa. Reyhan membuka map berisi perjanjian kerjasama yang diinginkan Dirga. Semua yang diinginkan pria itu sudah tertulis di lembaran kertas yang kini ada di tangannya. Dirga hanya ingin tahu lebih dekat apa yang sebenarnya diinginkan Reyhan dari putrinya, sehingga membuatnya selalu terlihat dekat dengan Kyra.
“Jadi, ini sudah tertulis seperti yang aku inginkan?” tanya Dirga.
“Sesuai yang Anda inginkan, Tuan Dirga. Saya mendengar dari asisten pribadi, Anda ingin kerjasama yang memiliki keuntungan tetapi tidak terlalu terekspos, benar begitu?” Reyhan tampak memastikan keinginan Dirga agar tidak salah dalam memberikan kontrak kerjasama.
“Ya, benar sekali. Jika kerjasama ini berjalan dengan baik, mungkin aku akan melanjutkannya hingga bisa menjadi besar.”
“Tentu saja, sebuah bisnis yang dijalankan dengan benar dan baik, maka akan berjalan dengan keuntungan yang bisa membuat kita sama-sama untung, bukan? Saya merasa terhormat bisa bekerjasama dengan perusahaan milik Anda.”
“Hahaha, jangan seperti itu. Aku tidak sehebat yang kamu katakan. Baiklah, aku akan mempelajarinya lagi.”
“Kenapa tidak Anda pelajari sekarang? Bukankah … lebih cepat lebih baik, Tuan Dirga?”
Dirga tidak menyangka jika Reyhan akan mengatakan hal tersebut, seperti memancing dirinya untuk segera menandatangani kontrak. Sayang, Dirga tidak semudah itu untuk dibujuk. Dia menolak secara halus, bahkan dia mengatur pertemuan selanjutnya untuk tanda tangan kontrak.
“Jangan terburu-buru, Tuan Reyhan. Sebaiknya kita bicarakan lagi pada pertemuan selanjutnya. Apa kamu sangat sibuk hingga tidak bisa mengatur jadwal?”
“Tentu saja tidak, Tuan. Baiklah jika memang itu yang Anda inginkan. Tentu saja keputusan yang terburu-buru memang tidak baik. Semoga kerjasama ini bisa membuahkan hasil yang maksimal untuk perusahaan kita.”
Keduanya tersenyum bersamaan. Reyhan mengangkat gelasnya untuk minum dan dibalas anggukan oleh Dirga.
“Jadi, apa kesibukanmu selain mengurus perusahaan, Tuan Reyhan?” Tiba-tiba saja Dirga mengajukan pertanyaan untuk Reyhan.
“Tidak banyak, Tuan. Hanya berkumpul dengan teman-teman dan membicarakan kehidupan kami. Tidak jarang saya berkunjung ke rumah wanitabyang aku sukai.” Senyum Reyhan tercetak jelas dan membuat Dirga mengerutkan dahinya.
“Jadi, kamu sudah memiliki kekasih sekarang? Pasti wanita itu sangat beruntung memilikimu.”
“Ya, tetapi … sepertinya saya yang beruntung mendapatkannya.”
__ADS_1
Rasa ingin tahu Dirga pun semakin menggebu. Seakan Reyhan berhasil memancing rasa ingin tahu itu.
"Siapa wanita itu?" tanyanya.