Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Akui Saja Jika Kamu Mencintai Kyra


__ADS_3

Di sebuah kamar, sosok Reyhan masih setia dengan tempat tidurnya yang begitu nyaman. Hingga akhirnya, perlahan kedua mata itu terbuka. Reyhan mencoba mengumpulkan kesadarannya. Dia mengedarkan pandangan dan memastikan di mana dirinya berada.


Kepalanya terasa masih berputar, efek pengar masih dirasakan akibat terlalu banyak minum wine. Reyhan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Samar, Reyhan mendengar seseorang sedang menekan bel pintu rumahnya. Ini masih pagi, pikirnya. Siapa yang bertamu ke sana sepagi ini?


Reyhan berjalan dengan tangan yang masih memegang kepala. Rasanya isi kepalanya berdenyut, apa yang terjadi semalam tentu tak bisa diingatnya. Hingga langkah Reyhan sampai di pintu rumah. Saat tangannya menggerakkan gagang pintu, terlihat sosok wanita tua yang kini berdiri di sana.


Reyhan semakin malas dengan suasana pagi ini. Bahkan dia tidak menyapa atau menyuruh wanita itu masuk. Reyhan berbalik badan dan ingin kembali ke kamar, tetapi suara wanita itu menghentikannya.


“Rey, maafkan Mama, Nak.”


Kalimat itu sudah sering didengar Reyhan dan membuatnya enggan lagi menjawab. Kenangan masalalu yang membuat Reyhan seperti saat ini, membuatnya sulit untuk memaafkan sosok itu, meski bibirnya berulang kali mengatakan telah memaafkan.


“Rey, dengarkan Mama. Mama—“


“Cukup, Ma! Ini masih pagi, jangan buat aku emosi. Sudah kukatakan, aku tidak akan pernah lupa saat itu. Saat di mana hidupku hancur.”


“Rey, bukankah itu sudah berlalu? Tidak bisakah kamu memaafkan Mama? Rumah menjadi sepi semenjak kamu tidak pulang, Rey. Mama sendirian di sana.”


Reyhan masih terus berjalan hingga sampai dapur, dia meraih segelas air untuk diteguknya. Sembari mendengarkan wanita itu terus berbicara mengenai nasibnya selama ketiadaan Reyhan di rumah.


Memang benar, sejak kejadian itu, Reyhan keluar dari rumah orang tuanya dan sangat jarang pulang ke rumah orang tuanya. Apalagi di rumah itu hanya ada sang ibu.


“Sudahlah, Ma. Aku lelah untuk terus membahas hal ini.”


“Rey, bukan itu yang ingin Mama tanyakan. Mama melihat berita itu, apa benar kamu kembali bersama Dinda? Atau … itu hanya berita palsu? Mama juga melihat berita sebelumnya, gadis yang belum Mama kenal, siapa di antara mereka yang kamu pilih, Rey? Mama akan mendukungmu.”


“Cukup! Berhenti ikut campur masalah hidupku, Ma! Bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali? Jangan ikut campur dengan urusan kehidupanku terutama masalah percintaanku.”


Ucapan Reyhan seakan menjadi ultimatum lagi untuk ibunya. Wanita itu kini menangis mendengar ucapan anaknya yang tak ingin lagi kehidupannya diganggu. Tiba-tiba saja tubuhnya melemas, dia terduduk dan membuat Reyhan segera meraihnya.


“Ma, Mama kenapa?” tanya Reyhan yang jelas-jelas sudah tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


“Rey, maafkan Mama. Mama tidak bermaskud membuat kehidupanmu kacau. Bukan ini yang Mama inginkan. Mama ingin kamu bahagia, Rey. Mama juga hanya ingin segera nimang cucu. Rumah sepi, Rey. Mama sendirian, terus kamunya pergi, nggak ada lagi yang temenin Mama di rumah.”


Wanita itu terlihat menyedihkan di depan Reyhan, hingga akhirnya berhasil membuat perhatian Reyhan tertuju padanya. Reyhan meraih tubuh itu dan membawanya ke ruang tamu. Mereka duduk berdampingan, Reyhan tampak menghela napas, lalu mulai berkata.


“Baiklah, aku akan pulang untuk menjenguk Mama, tetapi aku tidak bisa kembali ke rumah itu. Aku hanya berkunjung saat aku bisa.”


“Terima kasih, Rey. Maafkan Mama yang selalu membuatmu kesal ini. Mama sungguh tidak bermaksud untuk melakukannya.”


“Ya, sudahlah.”


“Aku harap setelah ini Mama tidak akan ikut campur dengan urusan kehidupanku. Apalagi dalam masalah perasaan. Aku memiliki hak untuk memilih dan menentukan siapa yang pantas bersanding denganku. Masalah Dinda maupun gadis itu, aku harap tidak ada campur tangan dari Mama lagi.”


“Baiklah jika itu bisa membuatmu kembali menemui Mama di rumah. Mama akan diam dan mendukung apa pun pilihanmu, Rey.”


“Ya, terima kasih.”


Kepala Reyhan kembali berdenyut, seakan efek dari minuman semalam tidak ingin pergi darinya. Wanita di samping Reyhan tahu jika anaknya mengalami pengar. Dia bisa mencium aroma alkohol yang masih menguar dari tubuh Reyhan.


“Hm, sepertinya hanya sedikit.” Reyhan beranjak dan mengikuti langkah ibunya ke dapur.


“Ah, ini saja cukup. Mama akan memasak untukmu.”


“Tidak perlu, kita makan saja di luar.”


“Hei, biarkan mama memasak untukmu. Jangan terlalu sering memakan makanan di luar sana! Tunggu sebentar saja. Sebaiknya kamu pergi mandi, ini sudah siang, Rey!”


“Hm? Siang?”


Reyhan menatap jam dinding yang ada di dapur, tangannya bergerak memukul keningnya begitu saja saat melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidak terbangun?” gumamnya sembari melangkah ke kamar.


Reyhan melepaskan pakaiannya untuk segera mandi. Tubuhnya yang menggoda terlihat jelas, apalagi saat dia bercermin.

__ADS_1


Reyhan segera masuk dan membasahi seluruh tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Pikirannya masih teringat dengan Kyra. Apa yang terjadi pada gadis itu setelah Reyhan pulang? Itulah yang ingin Reyhan ketahui.


“Apa kamu baik-baik saja, Sayang?” gumam Reyhan.


Ponsel Reyhan ada di nakas, deringnya yang begitu keras tak terdengar oleh sang pemilik. Sudah puluhan kali Sean dan Niko menghubungi Reyhan, tetapi tidak satu pun panggilan itu yang terhubung.


Setelah Reyhan selesai dengan kegiatan di kamar mandi, pria itu langsung memasuki lemari berjalannya untuk mengambil pakaian.


Wajah pria itu tampak frustasi dengan keadaan hatinya. Percintaannya tidak berjalan mulus seperti teman-teman lain, sehingga ada rasa yang ingin sekali memberontak dalam dirinya.


“Apa yang terjadi semalam? Siapa yang mengantarkan aku pulang? Apa mungkin Dinda? Tidak, jika memang dia yang mengantarkan aku pulang, pasti tubuhku tidak akan sebersih ini. Pasti dia akan memanfaatkan keadaanku dengan berhubungan badan,” gumam Reyhan tentang Dinda yang ditemuinya di kelab semalam.


Terdengar suara seseorang dari pintu kamar memanggil Reyhan. Wanita itu mengatakan bahwa makanan telah siap.


“Aku akan segera ke sana, Ma.”


Mendengar jawaban dari anaknya, wanita itu pun kembali ke ruang makan untuk menunggu kedatangannya.


Tak lama kemudian, Reyhan datang dan mencium aroma sup daging yang begitu lezat dan menggoda. Reyhan duduk dan melihat ada makanan apa saja di sana.


“Mama pikir ini akan pas dengan keadaanmu, kamu pasti masih merasa pengar, bukan?”


“Ya. Maaf jika sambutanku tidak terlalu baik hari ini.”


“Tidak masalah. Kita makan sekarang.”


Wanita itu dengan perhatiannya meraih piring kosong Reyhan untuk diisi makanan. Kegiatan makan itu pun berlangsung dengan lancar dan keduanya menikmati kebersamaan itu.


Saat kegiatan akan berakhir, Reyhan mendengar ada seseorang yang menekan bel pintu. Reyhan pun berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang. Dan saat pintu terbuka, “ Sean, Niko? Ada apa kalian datang kemari?”


“Kamu tidak membalas pesan dan menerima panggilan dari kami. Kami pikir kamu sudah tewas bunuh diri,” celetuk Niko begitu saja membuat Reyhan kesal mendengarnya, tetapi Sean justru tertawa mendengarnya.


"Kamu galau? Akui saja jika kamu mencintai Kyra!"

__ADS_1


__ADS_2