Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Masih Kesal


__ADS_3

Di saat semua orang mungkin saja sudah terlelap. Pria yang baru saja disakiti oleh gadis kecil yang di incarnya justru masih terjaga menatap langit malam. Reyhan menatap langit seakan mengungkapkan apa yang ada di hatinya tanpa perlu berbicara


Jika saja mudah untuknya membuka hati untuk wanita lain, maka Reyhan pasti akan dengan mudah melupakan Maria. Namun sayangnya tidak ada satu wanita pun yang dapat membuatnya tertarik kecuali Kyra, gadis yang justru menolaknya.


Semua yang Kyra ucapan seakan-akan Reyhan adalah sosok yang begitu menjijikan dan harus dihindari. Apa kurangnya dia? Dia tampan, dia mapan, dia bahkan tidak terlihat tua meskipun usianya sudah di atas tiga puluh tahun. Status duda? Meski pun dia duda, Reyhan juga tidak akan merepotkan Kyra dengan anak. Tidak ada hal yang begitu berat untuk Kyra menerimanya, tetapi tetap saja gadis itu menolaknya.


"Kenapa di tolak olehnya terasa sangat menggangguku? Bukankah aku bisa mencari wanita lain? Wanita mana pun bahkan akan rela membuka paha mereka untukku," ucap Reyhan berusaha menepis semua bayangan Kyra dari benaknya.


***


Hari ini, Kyra memutuskan untuk pulang. Keadaan Dirga sudah sangat baik membuat Kyra ingin segera kembali ke rumah. Beraktifitas seperti biasanya.


Usai mandi dan berganti pakaian, Kyra langsung turun ke bawah untuk ikut sarapan bersama Dirga dan dua perempuan yang menyebalkan baginya. Rasanya ingin sekali Kyra langsung saja pulang ke rumah tanpa ikut sarapan satu meja dengan dua perempuan itu. Namun, perutnya saat ini terasa keroncongan sekali. Semalam dia makan sedikit karena tidak nafsu semeja dengan mereka. Ditambah, pikirannya malam tadi sangat semrawut membuatnya overthinking dan kurang tidur. Alhasil, dia membutuhkan asupan pagi ini.


Kejadian semalam di meja makan membuat Kyra makin kesal saja kepada ibu tiri dan saudari tirinya itu. Keduanya seolah tak pernah mau membuat hidup Kyra tenang, selalu saja ada masalah dan kegaduhan yang mereka buat. Padahal jika dirasa-rasa, Kyra tak pernah berbuat tak baik pada keduanya. Hanya saja mereka yang duluan berbuat sehingga dia tak mungkin diam saja menerima perlakuan itu. Melawan adalah keharusan baginya. Dia bukan perempuan lemah. Ditambah, dia adalah putri kandung Dirga Dwayne. Tak mungkin diam saja ketika direndahkan, sekali pun oleh ibu dan saudari tirinya.


"Selamat pagi, Pi," sapa Kyra kemudian duduk di meja makan. "Pagi," lanjutnya sembari sekilas menoleh ke arah dua perempuan yang menatapnya jutek.


"Cantik sekali, sayang." Dirga mengusap lembut kepala Kyra setelah bangkit sebentar untuk mengecup pucuk kepala Kyra, dan itu semua jelas membuat Sandra dan Inggris kesal melihatnya.


"Sayang, kamu baru bangun? Padahal sudah siang, perempuan harus bangun awal waktu, lho. Ayo, sini! Mama siapkan sarapanmu, kamu suka selai kacang, Sayang?" Seperti biasa, Inggrid langsung akting di depan sang suami. Dia berubah menjadi seorang ibu tiri yang sangat perhatian, meski jelas di awal penuturannya barusan dia tampak berucap sarkasme pada Kyra.


"Aku sudah bangun dari subuh tadi. Sengaja ke bawah agak siangan biar tidak berlama-lama bertemu dengan setan," balas Kyra. "Biasanya setan keluar malam, tapi sekarang pagi-pagi dia sudah berkeliaran di sini. Mana ada dua lagi setannya." Kyra mengatakan itu semua saat emosi dan rasa kesalnya akan kejadian tadi malam masih teringat jelas dibenaknya.

__ADS_1


"Kyra! Kamu ini, pagi-pagi sudah bercanda," sergah Sandra kemudian pura-pura tertawa, menutuli amarahnya.


Dirga yang kurang mengerti dengan obrolan itu dan tidak terlalu mendengarkan karena tengah sedang sibuk membuka gawainya memilih diam saja dan tidak bertindak apa-apa. Padahal sekarang anak kandung dan istri serta anak tirinya sedang berkelahi verbal secara tersirat.


Inggrid mendelik kesal karena suaminya tidak melihat dia melayani Kyra sarapan pagi ini. Alhasil, dia memutuskan untuk kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.


"Aku ingin air putih, boleh ambilkan, Mama?" tanya Kyra, memanfaatkan kesempatan.


"Tentu," jawab Inggrid sembari menatap tajam ke arah Kyra, tapi dengan intonasi yang terdengar lebih kasih.


"Oh, ya, Sandra! Boleh oleskan selai ke roti? Tanganku pegal rasanya," lanjut Kyra tertawa dakam hatinya melihat wajah kesal Inggrid dan Sandra.


Selain kesal karena sikap kedua wanita itu padanya, Kyra juga merasa kesal setelah mendapat pesan dari maminya yang menceritakan tentang foto yang didapat oleh ayah tiri Kyra.


Sandra mengembuskan napas kesal, kemudian menuruti permintaan Kyra.


Di sela-sela pertikaian yang terdengar harmonis itu, Dirga akhirnya terlepas dari gawainya dan tersenyum kepada keluarga kecilnya.


"Papi suka melihat kalian semua rukun," pujinya disertai senyuman.


Kyra membalas senyuman itu dengan lembut, begitu juga Inggrid dan Sandra. Meski di dalam hati ketiganya benar-benar memendam emosi dan kekesalan yang membara.


"Pi, aku mau pulang pagi ini," ujar Kyra ketika teringat dengan niatnya untuk kembali ke rumah.

__ADS_1


Dirga langsung menoleh, dan dahinya berkerut seraya berkata: "Kenapa? Kamu tidak nyaman tinggal di sini?


Kyra buru-buru menggeleng. "Bukannya begitu, tapi...  sekarang Papi sudah sehat, jadi Kyra ingin kembali ke rumah," jawabnya dengan lembut supaya papinya tidak merasa tersinggung. Padahal kenyataannya, salah satu dari sekian alasan dia ingin pulang ialah tak mau berlama-lama dengan kedua perempuan yang ada di depannya sekarang ini.


"Papi sebetulnya tak ingin kamu pergi, Papi akan  bahagia sekali jika kamu tinggal di sini, Kyra."


Mendengar hal itu Inggrid dan Sandra sontak mengepalkan tangan. Keduanya tak bisa membayangkan bagaimana kesal dan cemburunya setiap hari jika rivalnya itu harus tinggal di sini lebih lama. Tak siap dan tak akan kuat!


"Sayang, kenapa kamu ingin pulang ke rumah? Mama sama Sandra senang sekali, lho, kamu kemarin-kemarin tinggal di sini. Apa kamu tak mau menimbang ulang untuk pulang? Mama harap kamu tinggal di sini bersama kami," tutur Sandra sembari menatap sendu disertai akting seorang ibu yang penuh kasih sayang pada putrinya.


Kyra memutar balikkan bola matanya, kesal dan jijik melihat ibu tirinya yang pandai bersandiwara itu. Meski dia akui betul jika memang ibu tirinya sangat pandai dan memiliki bakat terpendam dalam urusan muka dua, tapi tak membuatnya terkesan dan suka pada bakat sang ibu tiri itu.


"Pi, boleh, kan?" tanya Kyra kepada Dirga, mengabaikan ucapan Inggrid barusan, membuat wanita yang hampir paruh baya itu mendengus kesal karena aktingnya terasa diabaikan.


"Kyra! Di sini saja, supaya aku tidak bosan di rumah karena ada kamu." Sandra ikut-ikutan menjadi aktris di drama kehidupan ini.


"Nanti Kyra akan sering ke sini, kok, Pi," lanjut Kyra, lagi-lagi mengabaikan celotehan rivalnya.


Mendengar penuturan putrinya, Dirga ingin menolak karena dia belum siap kehilangan Kyra di rumah ini, tapi dia tak bisa memaksa putrinya untuk tetap di sini.


"Ya sudah, Papi izinkan kamu untuk pulang ke rumahmu."


__ADS_1



Masukan ke daftar favorit kalian setiap cerita yang kalian tunggu up nya ya kak, agar setiap kali penulis update notifnya akan sampai ke kalian. Aku up nggak jelas ini waktunya, kadang ada aja kesibukan yang menghambat nulis. Terima kasih.


__ADS_2