Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Reyhan yang Tidak Jelas


__ADS_3

Matahari sudah menyapa di balik tirai jendela kamar Kyra. Gadis itu menggeliat, meregangkan tubuhnya. Entah kapan terakhir kali dia bisa merasakan tidur nyenyak seperti semalam. Kyra mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


Sebelum beranjak dari tempat tidurnya, Kyra menyempatkan diri untuk memeriksa ponsel yang sejak kemarin tak dihiraukan. Ternyata ada banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Beruntung sejak kepulangannya, Kyra menonaktifkan suara di ponselnya.


“Nomor baru pun sudah banyak pesan masuk. Nanti saja aku lanjut baca. Mandi dulu saja.” Kyra menurunkan kakinya dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.


Di depan cermin, Kyra melihat wajahnya yang tampak lebih segar. Dia merasa tenang karena tak lagi melihat dua wanita yang membuat wajahnya menegang karena emosi. Kyra membasuh wajahnya dengan air, lalu melanjutkan kegiatan selanjutnya.


Cukup lama Kyra berada di kamar mandi hingga akhirnya selesai dalam lima belas menit. Aroma lavender yang menguar dari tubuhnya membuat perasaan Kyra begitu tenang.


Tanktop dan hotpants menjadi pilihan Kyra untuk bersantai di rumah, sebab hari ini Kyra tidak berpikir untuk keluar.


Setelah gadis itu mengenakan pakaian, terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Kyra berjalan membuka pintu dan melihat pelayannya berdiri di sana.


“Non, pagi ini mau dibuatkan apa?”


Kyra mencoba berpikir sejenak, lalu menjawab, “Jahe hangat sepertinya bisa bikin tenang pikiran dan tenggorokanku, Bi. Seperti semalam."


“Siap, Non. Makan pagi juga sudah siap di bawah. Mau dibawakan ke kamar?”


“Uhm, boleh, Bi. Kebetulan aku malas untuk makan di bawah. Tolong ya, Bi!" pinta Kyra.


“Baik, Non.”


Setelah itu, Kyra kembali berkutat dengan wajahnya di depan meja rias. Satu per satu skincare diaplikasikan ke wajahnya hingga membuat wajah putih dan mulus itu semakin terawat.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk pelayan di rumah itu membuat minuman hangat, pintu kamar Kyra kembali diketuk.


Kali ini, Kyra melihat pelayannya membawa nampan dengan makanan dan jahe hangat seperti yang diminta Kyra. Namun, saat Kyra menerima nampan itu, wajah pelayannya tampak gelisah, seakan ada sesuatu yang ingin disampaikannya.


“Ada apa, Bi? Kok kelihatan bingung begitu?”


“Uhm, itu, Non. Di bawah … uhm, ada laki-laki kemarin yang saya bilang nyariin Non Kyra dengan menggedor pagar dan berdebat dengan keamanan.”


“Astaga! Kenapa dia datang lagi kemari? Sekarang dia ada di mana, Bi?”


“Maaf, Non. Orangnya ada di ruang tamu, sedang menunggu Non Kyra untuk turun.”

__ADS_1


“Ya sudah, Bi. Sebentar lagi aku turun, suruh dia tunggu.”


“Baik, Non.”


***


Satu jam sebelumnya ….


Reyhan sedang memimpin sebuah rapat, wajah tegasnya membuat kebanyakan orang tidak berani untuk berpaling selama rapat itu berlangsung. Pria itu menjelaskan perihal program baru yang akan segera rilis di perusahaannya.


Berbagai pertanyaan diajukan oleh para pemegang saham, mereka ingin memastikan semua yang dijalankan akan mendatangkan keuntungan yang besar untuk perusahaan dan menaikkan harga saham.


Reyhan adalah sosok pria yang sangat bersemangat jika mendapatkan sebuah tantangan. Dalam pekerjaannya, tidak ada kata tidak bisa. Apa pun yang akan dilakukan pria itu selalu berjalan dengan baik.


Rapat itu pun selesai dalam waktu dua jam, dan kini Reyhan dalam perjalanan kembali ke ruangan pribadinya. Pria itu duduk dan menatap beberapa berkas yang menjadi pekerjaan selanjutnya. Ada banyak laporan yang perlu pemeriksaan hari ini, begitu sibuk dan Reyhan bersyukur setidaknya itu dapat membuat Reyhan melupakan Kyra, gadis yang sudah menolaknya mentah-mentah.


"Sial. Kenapa wajahnya yang terlihat!" Reyhan menggebrak meja saat wajah Kyra tiba-tiba saja muncul di benaknya.


Reyhan kembali mencoba menhingat semua ucapan Kyra yang menyinggung perasaanya dan itu sedikit berhasil membuat Reyhan enggan mengingatnya. Reyhan kembali mencoba fokus pada pekerjaannya.


“Tuan, Nona Kyra telah kembali ke rumahnya."


Reyhan menghela nafas, lagi-lagi nama Kyra terdengar. "Aku lupa mengatakan padamu, tidak perlu lagi mengawasinya."


Ucapan Reyhan jelas membuat orang suruhannya bingung, sebelumnya Reyhan sangat menggebu-gebu meminta dia mengawasi Kyra. Sekarang ucapan Reyhan sudah berbeda.


"Anda yakin?" tanya pria itu ragu.


"Jangan meragukan keputusanku!" bentak Reyhan.


"Baiklah. Saya minta maaf. Saya hanya inhin mengatakan jika tadi malam ada pria yang datang ke sana. Hanya itu, setelah ini saya akan pergi dari sini dan kembali ke kantor!" ucap pria itu menganggap itu semua sebagai laporan terakhirnya.


“Apa? Berapa lama pria itu berada di rumah Kyra? Siapa dia?” tanya Reyhan seketika berdiri dan merasa kesal.


Apa tuan Reyhan mabuk? Dia berkata berhenti, tapi dia masih saja peduli. Tidak jelas. Batin pria di seberang telepon.


"Jawab aku! Siapa pria itu?" bentak Reyhan.

__ADS_1


"Entahlah, tuan. Saya tidak melihat jelas wajahnya," jawabnya.


“Kenapa kamu baru memberitahukan hal ini padaku?”


“Maaf, Tuan. Saya mencoba untuk menghubungi Anda sejak kemarin, hanya saja—“


“Diam! Aku akan menemuinya sekarang.”


Apa yang pria itu pikirkan tentang Reyhan benar, Reyhan benar-benar tidak jelas seperti pria mabuk.


Reyhan berlari keluar dari ruanganya, rasa-rasanya dia sudah tidak tahan lagi untuk segera menemui gadis itu. Terlebih aetelah mendengar ada seorang pria dikabarkan masuk ke rumah Kyra. Reyhan tampak kesal dengan kabar tersebut dan berniat meminta penjelasan dari gadisnya.


Ya, lagi-lagi dia mengklaim Kyra sebagai gadisnya.


Reyhan sudah berada di loby kantor dan meninggalkan pekerjaan untuk bertemu dengan Kyra. Dia tidak peduli dengan apa pun selama hal itu bisa membuatnya bertemu dengan Kyra. Kerinduan sang duda tak tertahankan dan sedikit lagi dia akan bertemu sang pujaan hati. Melupakan emosi dan rasa kesalnya pada Kyra sebelumnya.


“Tuan, Anda akan pergi?” tanya seorang mengejar Reyhan yang tak lain sekretarisnya.


“Ya, batalkan semua janji untuk pertemuan dengan perusahaan lain. Aku sedang sibuk.”


“Baik, Tuan.”


Reyhan kembali melangkah, lalu segera masuk ke mobil.


Sampai di depan rumah Kyra, Reyhan melihat seorang keamanan kembali menghalangi jalannya. Satpam di rumah Kyra mengatakan ini masih terlalu pagi untuk mengganggu sang tuan rumah. Bahkan, Reyhan kembali diusir, tetapi justru mengancam.


“Cepat buka gerbang rumah ini! Aku ingin bertemu dengan kekasihku!”


“Maaf, Tuan. Jika memang Anda memiliki janji dengan pemilik rumah ini, sebaiknya Anda menghubunginya.”


Reyhan tidak bisa melakukannya, ya itu karena Kyra tidak membalas bahkan menerima panggilan dari Reyhan.


Dari dalam, tampak pelayan rumah berjalan menuju post satpam. “Buka saja, Pak. Tidak apa-apa.”


Setelah masuk ke dalam rumah, kerinduan Reyhan pada Kyra semakin bertambah setelah melihat beberapa foto Kyra yang ada di dinding rumah. Reyhan benar-benar melupakan kejadian kemarin, semua makian Kyra padanya benar-benar seolah tidak pernah terjadi padanya.


"Panggilkan Kyra! Katakan padanya kekasihnya datang!" perintah Reyhan pada pelayan.

__ADS_1


__ADS_2