
"Pi, lepasin Kyra. Sakit, Pi?" keluh Kyra yang sudah menangis terisak, ketika ayahnya terus menariknya masuk ke dalam hotel dan membawanya naik ke kamarnya.
Meskipun Kyra terus memohon dan berusaha memberontak, tapi ayahnya sama sekali mengacuhkannya. Bahkan desah kesakitan yang keluar dari bibirnya sama sekali tak dipedulikan oleh lelaki yang telah membuatnya ada di dunia ini.
"Pi!" jerit Kyra kembali.
Dirga yang emosi, tak memikirkan perasaan anaknya. Hatinya begitu marah saat ini. Terlebih, mengetahui jika Reyhan ternyata ada di Bali juga. Begitu sampai di kamar, lelaki paruh baya itu langsung membanting tubuh Kyra begitu saja di ranjang.
"Sejak kapan kamu tahu dia ada di sini, hah? Apa kamu memberitahunya jika kita ada Bali?!" bentak Dirga menggebu dengan mata yang sudah berapi-api.
"Tidak, Pi," jawab Kyra lirih dengan kepala menggeleng cepat. Penglihatannya sudah kabur akibat air mata yang terus keluar sejak tadi. "Aku tidak tahu kalau dia ada di sini," imbuhnya.
Dirga terkekeh sinis. "Jangan bohong kamu, Kyra! Aku tidak buta. Aku dengan jelas melihat kalian berdua dengan mata kepalaku sendiri. Apa-apaan? Kalian berpelukan bahkan berciuman? Tch!"
"I-itu ... kalau itu!" Kyra tergagap. Untuk hal yang satu itu, dia tidak bisa menjelaskan. Dirinya gugup, pun merasa takut akibat sorot mata tajam ayahnya. Hal tadi terjadi begitu saja, dia pun sampai-sampai tak menyadari akibat terlena dengan sosok Reyhan. Kyra sama sekali tak mempedulikan sekitar, yang membuatnya mendapat masalah akibat ayahnya yang melihat.
"Setelah urusanku selesai, kita akan segera pulang!" kata Dirga tegas.
"Tapi, Pi, kita baru saja berada di sini. Kita bahkan belum sempat berlibur bersama karena Papi terus sibuk dengan pekerjaan. Kita belum keluar bersama, menikmati sunset ataupun sunrise. Kita bahkan belum jalan-jalan di pantai. Bagaimana bisa Papi mengajak Kyra pulang begitu saja? Bukankah Papi yang menginginkan kita untuk berlibur?" desak Kyra panjang lebar, yang terdengar seperti menuntut ayahnya. Wanita itu tampak sedih, terlihat juga kemarahan yang terpancar dari matanya yang kini sembab. Dia terlihat kecewa dengan keputusan ayahnya.
"Benarkah? Itukah alasanmu, Kyra? Apa tidak ada sangkut pautnya dengan Reyhan? Kamu tidak mengatakan hal ini gara-gara kamu masih ingin dekat dengannya, bukan?" tuduh Dirga menatap tajam anaknya dengan mata memicing. Lelaki paruh baya itu bertolak pinggang di hadapan Kyra.
"Papi menuduhku berbohong?" tutur Kyra dengan nada suara yang lirih, begitu patah hati.
Meskipun begitu, dia tak seratus persen menyalahkan ayahnya. Dia masih ingin berada di sini. Selain untuk menghabiskan waktu bersama ayahnya, dia juga sangat ingin bertemu dengan Reyhan. Ingin sekali dia bersama lelaki itu untuk menghabiskan waktu yang telah hilang dalam kesalahpahaman yang sempat membuat hubungan mereka renggang.
__ADS_1
Embusan napas kasar keluar dari bibir Dirga, lelaki paruh baya itu kelonggaran dasi yang entah sejak kapan terasa mencekik bagi lehernya. Setelah sedikit tenang, dia menatap anaknya dengan lekat. Untuk sekarang, tatapannya berubah. Lebih terasa lembut, dan tak menuntut maupun menyalahkan. Meskipun begitu, tetap saja sorot ketegasan tak pernah hilang.
"Aku akan mencarikan tempat agar kita bisa pindah. Kita tak bisa lagi berlibur di sini. Aku tidak ingin melihatmu didekati lelaki brengsek itu!" tutur Dirga.
Rasanya Kyra ingin menolak keputusan itu. Dia tak ingin membantah. Tetapi, dia pun tak sanggup melihat kemarahan ayahnya. Bukan dirinya yang dia khawatirkan, melainkan Reyhan. Kyra takut, jika dia ketahuan lagi, ayahnya itu akan kembali menghajar Reyhan seperti tadi. Mengingat kejadian tadi saja sudah membuat hati Kyra menjadi kalut.
"Baiklah," jawabnya lirih kemudian yang tampak pasrah dengan keputusan ayahnya.
'Maafkan aku, Om Reyhan,' getir Kyra dalam hati merasa bersalah.
Perlahan, senyum Dirga mulai terbit. Meskipun tak selebar seperti biasanya, setidaknya sudah tak terlihat menekuk ke bawah lagi.
Lelaki paruh baya itu mengembuskan napas panjang. Mendekati anaknya lalu ikut duduk di tepi ranjang untuk memeluk anaknya.
"Maafkan aku, Kyra. Ini semua aku lakukan demi dirimu," ungkapnya dengan suara yang datar.
Kyra yang mendengar itu hanya bisa mengangguk pasrah. Dia hanya tersenyum tipis, saat melihat ayahnya mulai pergi dari sana.
Wanita itu kembali menggigit kecil bibir bawahnya ketika mengingat hal tadi. Air matanya kembali membendung dan sebentar lagi akan tumpah jika saja pintunya tidak diketuk.
Hal ini membuatnya segera beranjak, lalu menyeka sudut matanya yang tampak basah. Kyra memaksakan senyum saat membuka pintu kamarnya.
Namun, alangkah terkejutnya dia saat mendapati Naura--istri Sean--ada di sini.
"Kak Naura, ada apa?" tanyanya yang entah kenapa mendadak cemas. Dia menoleh ke sana kemari, seolah memastikan jika sosok ayahnya benar-benar sudah tidak ada.
__ADS_1
"Kyra, maaf mengganggumu. Hanya saja, aku mendapat permintaan dari Sean untuk memanggilmu. Katanya, Reyhan sedang kritis seiarang," ungkap Naura.
"Kritis?" beo Kyra terkejut dengan mata melotot sempurna. Dalam bayang-bayangnya, apakah kekasihnya itu sangat babak belur dan harus dilarikan ke rumah sakit? Memikirkan hal ini, entah kenapa membuat hati Kyra menjadi panik.
"Di mana dia sekarang, Kak?" tanya Kyra dengan cepat.
Naura menggigit kecil bibir bawahnya. Dia melongok ke dalam kamar Kyra sebentar. "Apakah tidak apa-apa? Maaf, hanya saja aku mendengar jika ayahmu yang melakukan ini pada Reyhan. Jika ketahuan kamu bersamanya lagi, dia pasti akan memarahimu," tuturnya sungkan.
"Tidak apa-apa, Kak. Papi tidak ada di sini. Setidaknya, hanya lima belas menit. Biarkan aku melihat Om Reyhan, Kak. Sebelum papiku kembali nanti," kata Kyra mendesak.
"Kamu akan menanggung resikonya jika dimarahi, Kyra?" tanya Naura sekali lagi.
"Kak, tolong jangan berbasa-basi!" geram Kyra sedikit meninggikan suaranya. Dia benar-benar merasa cemas, khawatir, dan panik. Semuanya bercampur menjadi satu yang membuatnya kalut dan tak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi pada Reyhan setelah tadi dihajar oleh ayahnya sendiri.
"Baiklah, baiklah!" kata Naura kemudian dengan helaan napas panjang. "Dia ada di kamarku, Sean dan Niko mengobatinya sekarang. Reyhan sebenarnya tidak ingin membahasmu sekarang karena dia tahu jika kamu juga dalam situasi yang sulit. Tapi entah kenapa, Sean tak tega dan akhirnya menyuruhku menjemputmu."
Kyra mengangguk-angguk cepat, lalu tanpa menjawab ataupun bertanya kembali. Dia segera menarik tangan Naura kencang.
"Di mana kamar kalian?" tanyanya serius, yang langsung mengajak Naura masuk ke dalam lift. Kyra bahkan lupa akan sopan santun, dan tak sadar jika Naura umurnya lebih tua darinya yang seharusnya dia hormati. Kecemasan membuatnya lupa akan segalanya, dan hanya sosok Reyhan yang ada di dalam pikirannya sekarang.
**Hai semuanya. Terima kasih masih setia menunggu, maaf jika baru sempat nyicil up.
__ADS_1
Kak, bantu ramaikan bukuku yang judulnya "Terjebak cinta saudara" ya kak. Akan ada GA tersendiri di sana pas lomba berakhir. Buku itu aku ikutin Event di NT. Tolong bantu Like, komen, vote, hadiah dan berikan dukungan lainnya. Sekali lagi pembaca teraktif dan bentuk dukungan teratas yang akan di nilai. Terima kasih.🙏**