Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Reunian


__ADS_3

Dengan wajah yang terlihat kesal, Kyra membawa nampan berisi pesanan Reyhan menuju mobil Reyhan yang terparkir tak jauh dari kedai.


"Aku merindukanmu," ucap Reyhan saat Kyra menyodorkan nampan itu padanya.


"Ambil ini! Makan lalu pergilah!" ucap Kyra.


Bukannya menyambut nampan makanan dari Kyra, Reyhan justru meminta Kyra untuk masuk ke dalam mobil, lagi-lagi mengancam jika Kyra tidak menurutinya, maka dia yang akan keluar dan makan secara langsung di kedai Wardah.


"Aku ingin makan bersamamu, suapi aku!" pinta Reyhan dengan sangat manja pada Kyra.


"Ya ampun, Om. A–"


"Aku tidak menikah dengan tantemu. Aku hanya ingin menikahimu, jadi berhenti memanggilku 'Om' panggil aku dengan panggilan sayang!" Reyhan memotong ucapan Kyra.


Wajah Kyra seketika merona mendengar ucapan Reyhan, sekeras apa pun Kyra berusaha untuk mengabaikan pria itu, tetap saja Reyhan selalu mempu menjungkir balikan dunia Kyra. Kyra yang tidak ingin Reyhan semakin banyak bicara, dengan cepat menyodorkan sendok berisi bakso pada Reyhan yang dengan senang hati membuka mulutnya.


Kyra merasa lega saat Reyhan merebut sendok dari tangannya, Kyra berpikir Reyhan akan makan sendiri, tetapi lagi-lagi dugaan Kyra salah, sebab pria itu justru balik menyuapinya.


"Aku tidak pernah makan satu wadah dengan siapa pun!" tolak Kyra.


"Aku kekasihmu. Kita bahkan sudah bertukar saliva, lalu apa salahnya menggunakan wadah dan sendok yang sama?" ucap Reyhan semakin membuat wajah Kyra merona mendengarnya.


Keduanya pada akhirnya benar-benar menghabiskan satu mangkuk bakso bersama dengan cara saling menyuapi seperti yang Reyhan inginkan. Tanpa Kyra sadari hal kecil yang telah mereka lakukan bersama itu mampu membuat perasaan Kyra menjadi lebih hangat dan perlahan mengikis jarak antara mereka.


***


Saat di mana Reyhan akan bertemu dengan teman-teman beserta keluarga kecil mereka akhirnya tiba. Reyhan sedang bersiap dengan mengenakan pakaian yang lebih santai. Beruntung mereka membuat rencana saat akhir pekan, Reyhan tidak perlu susah payah untuk membatalkan janji dengan klien atau perusahaan cabang, meski pun Reyhan sedikit kecewa saat Kyra tak berhasil dipujuknya untuk ikut bertemu teman-temannya


Pria itu ada di kamar dengan bersenandung, seakan kembali muda dan memiliki banyak waktu untuk bisa bersama teman-temannya.


Saat semua telah siap, Reyhan pun segera meraih kunci mobil dan dompetnya. Langkahnya begitu bersemangat hingga asisten di rumahnya bertanya-tanya.

__ADS_1


“Tuan sedang senang ya?”


“Iya, sepertinya begitu.”


Tidak ingin bertanya secara langsung, mereka hanya menerka apa yang ada di depan matanya.


Reyhan mulai mengemudikan mobil menuju restoran—tempat mereka biasa berkumpul—yang berjarak cukup jauh dari rumahnya. Selama perjalanan, mobil itu menyusuri jalanan yang padat dengan kendaraan untuk menuju puncak. Kebanyakan dari orang-orang yang memiliki hari libur pada akhir pekan, pasti akan menjadikan puncak sebagai tujuan utama. Sementara Reyhan hanya perlu menemui teman-temannya di restoran langganan mereka.


Mobil yang dikendarainya kini berhenti di parkiran. Reyhan bisa melihat kendaraan milik temannya terparkir di sana.


“Mereka terlalu bersemangat,” ucap Reyhan sembari melangkah masuk.


Sampai di pintu, Reyhan melihat Naura menyadari kedatangannya. Lalu, Niko dan Sean pun ikut menengok ke arah yang sama dengan Naura. Baru saja dua teman Reyhan ingin menyambutnya, dua anak kecil berlari terlebih dulu untuk menyapa Reyhan.


“Paman! Yeay!” seru keduanya bersamaan.


Kedua anak itu memeluk Reyhan menyalurkan perasaan senang karena bertemu. Reyhan pun merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan kedua anak kecil itu, lalu perlahan keduanya berada di gendongannya saat ini.


“Hati-hati, Rey! Itu jagoanku satu-satunya,” kata Niko yang melihat anaknya berada dalam gendongan Reyhan.


“Razka dan Kenzo masih kecil, Rey. Mereka hanya tahu apa yang menurut mereka menarik. Kamu itu termasuk satu orang yang menarik karena pasti akan memberikan apa yang mereka mau,” jelas Sean yang melihat Kenzo memeluk Reyhan saat digendong.


“Jadi, artinya … aku lebih baik menjadi ayah mereka daripada kalian?” sindir Reyhan yang mendapatkan tatapan tajam kedua temanya.


“Hei, cepat duduk di sini! Turunkan anakku!” seru Niko yang masih tidak terima dengan kedekatan Razka bersama Reyhan.


Perlahan Reyhan menurunkan kedua anak itu, mereka pun merengek untuk dibelikan ice cream saat ini. Tepat seperti apa yang dikatakan Sean baru saja.


Tidak kuasa menolak, Reyhan pun mengajak keduanya ke meja pemesanan untuk memesan dua ice cream.


“Mau yang cokelat!”

__ADS_1


“Aku mau yang vanilla!”


Mereka berebut untuk mendapatkan apa yang sedang dipesan Reyhan. Setelah selesai, mereka kembali ke meja di mana orang tuanya berada.


“Terima kasih, Rey. Kamu ini memang Paman yang baik buat mereka,” ujar Naura yang kini memangku Kenzo.


“Tidak masalah. Seandainya aku tidak melakukan kesalahan bodoh itu, mungkin saat ini Maria juga tengah sibuk mengurus anak-anak kami,” ucap Reyhan menyesal.


Seketika suasana menjadi canggung, Naura dan Jeni yang mendengar ingin sekali memberikan semangat tetapi mereka lebih memilih sang suami yang melakukannya.


Niko melihat kesedihan itu, tangannya merangkul Reyhan dari samping lalu memberi sedikit motivasi.


“Sudahlah, Rey! Yang lalu biarkan sana berlalu. Hidupmu harus melihat ke depan, kalau seperti ini terus, kapan kamu bisa punya yang bisa menemani sampai tua?”


Reyhan mengerti dengan ucapan temannya itu, dia pun tersenyum dan mengangguk untuk menjawab ucapan Niko.


Di sisi lain, Sean juga ikut memberi nasihat pada rekannya. “Bukankah sudah ada Kyra? Kamu sendiri yang mengatakannya kemarin. Jangan sia-siakan kesempatan ini, dan perbaiki isi otakmu agar tidak terus menerus memikirkan Maria. Dia sudah bahagia sekarang.”


“Aku hanya merasa bersalah karena dia sudah berpindah keyakinan, sedangkan aku justru meninggalkannya. Aku tidak memperjungakan cinta kami," lirih Reyhan.


“Kenyataannya, Maria kini menerima semua. Apa pernah dia datang dan menunjukkan emosinya?”


“Tidak, Maria bahkan tidak protes padaku mengenai hal ini. Itulah kenapa aku merasa bersalah. Maria hanya menangis di belakangku, dia tidak pernah menunjukkan kesedihannya di depanku, Sean.”


“Sekarang, tujuan kita bertemu bukankah untuk merayakan hubunganmu dengan Kyra? Kenapa kamu masih membawa Maria di dalamnya? Apa jangan-jangan, Kyra masih saja hanya sebagai pelampiasan?” celetuk Niko yang tahu isi pikiran temannya.


Dari samping, sang istri menepuk bahu Niko dengan keras hingga mengaduh. Jeni memang selalu menyadarkan suaminya saat berkata hal-hal yang begitu vulgar.


“Sudah-sudah! Kita pesan makan saja, anak-anak sudah lapar,” ujar Naura yang kini mengangkat tangan untuk memanggil pelayan restoran.


__ADS_1



Kangen mereka nggak guys?? Kalian lebih kangen sama siapa kalau mereka kumpul gini? Komen yuk sekalian alasan kalian kangen mereka.


__ADS_2