Dikejar Duda Tampan

Dikejar Duda Tampan
Perhatian Kalian Terlambat


__ADS_3

Seperti yang Kyra duga, Dirga menghampirinya di kamar. Wajah penuh amarah itu kini berada di hadapan Kyra. Menatapnya dengan penuh emosi tak tertahankan. Merasa dibohongi anak sendiri dan menjadi bodoh dibuatnya. Dirga sungguh tak menyangka putrinya akan sangat berani mengambil keputusan seperti itu.


Tujuh belas tahun usia Kyra, tidak pernah sekali pun Dirga marah pada Kyra karena Dirga selalu bangga pada Kyra meski pun dia sendiri mengabaikan Kyra. Karena, Kyra selalu menjadi gadis yang baik, berprestasi dan tumbuh dengan baik meski pun kurang perhatian darinya dan dari mantan istrinya.


Keegoisan orang tua sekarang jelas terlihat dari sikap Dirga dan itu semua anggapan Kyra pada orang tuanya. Di abaikan oleh keluarga bukan hal yang tak biasa untuk Kyra, justru diperhatikan oleh keluarga menjadi hal yang tak biasa untuk Kyra, sebab Kyra sudah sangat terbiasa di abaikan oleh orang tuanya.


Dirga masih menunggu Kyra untuk bersuara, tetapi sayang hal itu justru membuat suasana menjadi canggung. Karena Kyra tak membuka suara sedikitpun, hanya tatapan sedoh, kecewa dan takut yang terlihat dari sorot matanya.


“Kyra, apa yang sudah kamu lakukan ini tidak benar, Sayang.” Dirga mencoba menekan emosinya, saat melihat sorot mata Kyra.


Kyra masih duduk terdiam melihat ayahnya berkata-kata layaknya orang tua yang khawatir pada anaknya.


“Papi membesarkan kamu bukan untuk memiliki hubungan dengan seseorang yang memiliki usia tidak jauh dengan Papi. Apa kamu sadar hal itu, Kyra?”


“Papi tahu apa tentangku? Yang tahu bagaimana aku, adalah aku sendiri. Bukan Papi, tidak juga mami dan lainnya. Hanya aku yang lebih tau apa yang terbaik untuk diriku," ucap Kyra ingin sekali berteriak, tetapi berusaha menahannya.


“Kamu–"


Dirga tampak kesal dengan anaknya, lalu ingatan beberapa waktu lalu pun muncul. Di mana Dirga sedang berdiri di depan para pelayan yang ada di rumah Kyra. Dirga menunggu penjelasan dari mereka tentang hubungan Kyra dan Reyhan.


“Sampai kapan kalian akan tetap bungkam? Saya sudah tahu semuanya, hanya saja saya tidak ingin bertindak tanpa adanya bukti tambahan dan saksi yang pasti tahu. Kalian ada di rumah ini selama dua puluh empat jam. Kalian tahu siapa saja yang datang dan pergi dari rumah ini selain Kyra. Sekarang, jelaskan padaku mengenai siapa pria itu!”

__ADS_1


Para pelayan dan keamanan hanya bisa tertunduk takut. Tidak satupun dari mereka yang bersuara saat ini. Rasa simpati pada Kyra jauh lebih besar daripada harus berkhianat. Namun, diam yang mereka lakukan tidak bertahan lama. Dirga sungguh mendesak hingga mengancam mereka semua dengan alasan kebohongan dan melindungi kejahatan.


Jika saja mereka punya kuasa, maka mereka pasti akan memaki Dirga, mengungkapkan rasa peduli mereka pada nona muda mereka tang sudah diabaikan oleh kedua orang tuanya. Namun, mereka hanya pekerja yang tak punya kuasa untuk melakukan hal itu, mereka hanya bisa mengucapkan maaf, terima kasih, dan patuh pada apa yang majikan mereka katakan.


“Jadi, kalian tidak mau mengatakannya padaku?” Sekali lagi Dirga bersuara untuk memastikan dengan penuh penekanan.


“Ampun, Tuan. Kami sungguh takut jika harus pergi dari rumah ini, ke mana kami akan mencari uang untuk hidup dan makan?” Salah satu pelayan di sana mulai bersuara.


“Bagus, sekarang … jika kalian tetap diam, Aku tidak segan-segan memecat kalian semua. Tetapi jika kalian bekerja sama dengan baik, dan informasi itu bisa dibuktikan kebenarannya, maka aku akan memberikan bonus untuk kalian.”


Mereka saling lirik, berharap ada yang berani maju untuk menjelaskan secara detail. Meski terasa sangat berat untuk mengatakan semuanya, tetapi mereka juga tak punya pilihan lain.


“Sialan pria itu! Bisa-bisanya dia memaksa anakku!”


"Tapi, tuan Reyhan bersikap baik pada Non Kyra, Non Kyra juga terlihat bahagia saat ada pria itu meski pun pria itu suka memaksanya," sahut pelayan lainnya yang tidak bisa sepenuhnya mengatakan hal buruk tentang Reyhan.


"Tetap saja dia salah. Katakan apa lag!" ucap Dirga.


“Malam minggu kemarin, mereka pergi berkencan. Nona tampak bahagia dengan gaun yang jarang dikenakan. Nona cantik sekali malam itu, lalu … Tuan Reyhan datang dan menjemput Nona untuk pergi bersama.”


“Baiklah, informasi ini sudah cukup jelas. Pria itu memang tidak tahu diri sudah mendekati putriku. Berani sekali dia datang padahal sudah diusir.”

__ADS_1


Dirga kembali melihat informasi yang diberikan orang suruhannya. Informasi itu ternyata sama persis dengan yang dikatakan oleh para pelayan di rumah itu.


Dirga tidak bisa menahan amarahnya, rasa kesal dan emosi kini menyelimutinya. Dengan sabar Dirga menunggu kedatangan Kyra.


Selama Dirga terdiam, Kyra pun ikut diam dalam kamarnya. Tepat sebelum Dirga berbalik badan, dia mengatakan sesuatu pada anaknya.


“Kamu dilarang untuk keluar tanpa izin dari Papi. Kamu juga dalam pengawasan Papi secara langsung. Kamu Papi larang bertemu dengan pria itu lagi. Ponselmu Papi sita, begitu juga dengan fasilitas lainnya.”


Kyra tidak terima dengan larangan itu. dia beranjak dan berdiri di belakang Dirga dengan emosi.


“Tidak! Aku tidak mau! Ke mana saja Papi selama ini? Hm? Jika sekarang Papi peduli denganku, itu sudah terlambat! Kalian tidak ada yang pernah peduli denganku! Kenapa disaat aku mendapatkan kebahagiaan dari orang lain, kalian melarangnya, seakan ini sebuah kesalahan besar yang aku lakukan. Tidak, aku tidak salah, Pi! Papi dan Mami yang salah! Kalian tidak pernah tahu bagaimana perasaan ku selama ini, kalian hanya sibuk dengan urusan masing-masing hingga tidak pernah tahu bagaimana anaknya. Ini tidak adil buatku Bahkan, selama ini aku tidak pernah menjadi beban kalian, aku melakukan semuanya sendiri, termasuk mencari kebahagiaan dan kehidupan!”


Kyra benar-benar meluapkan semua isi hatinya pada Dirga. Pria yang kini berdiri membelakangi Kyra itu merasa bersalah dengan sikapnya sebagai orang tua. Dirga mengakui kesalahannya yang tak bisa membahagiakan Kyra. Tetapi, apa yang sudah diputuskan tidak bisa diambil lagi.


“Keputusan Papi mutlak, Kyra. Kamu harus terima hukuman dari perbuatanmu. Kamu tahu jika hubungan kalian salah, tetapi kamu masih tetap mempertahankannya. Maafkan Papi, tetapi hal ini tidak bisa diubah. Papi akan tingagl di sini untuk mengawasimu dan menemanimu, Sayang. Untuk saat ini, kamu tenangkan diri dulu di kamar. Kita bicara lagi setelah kamu tenang.”


Dirga menghilang dari balik pintu kamar Kyra. Gadis itu benar-benar menangis sejadi-jadinya. Dia berteriak dan menyalahkan semua orang.


Kyra melempar apa pun yang bisa diraih oleh tangannya. Bahkan dia memecahkan vas bunga kea rah cermin di meja rias. Lalu, Kyra terduduk di sudut kamar dengan memeluk kakinya dan menenggelamkan wajah di antara tangan dan kaki.


“Ini tidak adil! Ini tidak adil! Aku benci kalian,” teriak Kyra.

__ADS_1


__ADS_2