
"Om Rey!" pekik Kyra begitu masuk ke dalam kamar hotel milik Naura dan Sean. Dari pintu, dia bisa melihat bagaimana kekasihnya itu sedang berusaha diobati oleh Niko, tapi terus-terusan menghindar. Sungguh, Kyra benar-benar merasa miris, tatkala melihat wajah Reyhan babak belur penuh lebam dan beberapa bekas darah yang telah mengering.
"Kyra, apa yang kamu lakukan di sini?" Reyhan sendiri terkejut, tak menduga jika Kyra ada di hadapannya sekarang. Dia mengkritik Reyna ra, mungkin saja ayah wanita itu mengurung, atau parahnya langsung mengajak pergi dari Bali.
Lelaki itu mengabaikan teman-temannya, lalu berjalan tertatih mendekati Kyra.
Spontan Kyra langsung menangis. Dia tak tahan lagi dengan perasaan sakit pada hatinya yang kini tampak bergemuruh. Wanita itu langsung merentangkan tangan begitu saja untuk memeluk Reyhan. Benar-benar hilang malu, padahal ada banyak orang di ruangan kamar ini. Yang dia pedulikan hanyalah kecemasannya pada sosok kekasihnya itu.
Sean yang melihat adegan romantis di depannya mendesah kasar, lalu melirik ke arah Niko yang ternyata juga tengah melihatnya. Seolah tahu pikiran satu sama lain, mereka mengangguk bersamaan.
"Ayo pergi!" bisik Sean pelan. Dia langsung berdiri menghampiri Naura dan menggandengnya keluar.
Begitu pula dengan Niko, yang langsung menghampiri istrinya dan mengajaknya pergi begitu saja. Disusul Maria dan suaminya, lalu menutup pintu kamar hotel untuk menerbitkan ruang pada sepasang kekasih yang tengah diberikan cobaan dalam hubungan itu.
Ruangan kamar itu mendadak menjadi hening. Hanya ada suara lirih tangisan Kyra, yang masih setia menempel pada dada bidang Reyhan.
"Sayang, tidak apa ... Jangan khawatir, lihat aku. Aku baik-baik saja," tutur Reyhan menenangkan.
"Bagaimana bisa kamu baik-baik saja jika wajahmu terluka seperti ini, Om!" pekik Kyra kesal, sambil memukul dada Reyhan dengan sedikit kesal.
Hal ini hanya membuat Reyhan terkekeh. Rasanya, semua lukanya terobati hanya dengan kehadiran Kyra. Reyhan bisa merasakan jika kini tubuhnya begitu ringan, dan tak berat seperti tadi.
Lelaki itu menarik Kyra untuk duduk di sofa yang ada di sana. Reyhan menghadap Kyra, dengan tangan yang menggenggam tangan wanita itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Reyhan menatap Kyra lekat dengan sorot mata penuh kecemasan.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Aku yang seharusnya bertanya seperti itu!" ketus Kyra, kesal tapi dia masih bisa terkekeh pelan.
Kyra mengusap pipinya yang basah dengan sedikit kasar. Lalu menangkup pipi Reyhan dengan khawatir. "Maafkan ulah papiku, ya, Om," katanya lirih.
"Sssttt, sudahlah jangan bahas hal ini lagi. Bisakah kamu mengobatiku saja?" tanya Reyhan mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mungkin mengungkapkan kekesalannya pada Dirga yang notabenenya ayah kekasihnya sendiri. Mungkin memang Dirga lah yang salah, tapi tetap saja Reyhan tidak ingin Kyra sakit hati jika dia marah. Meskipun Kyra terlihat lebih membelanya, tetap saja ada sedikit rasa pada Kyra yang membela ayahnya.
Kyra sendiri tak mencurigai pemikiran Reyhan. Wanita itu mengangguk, dan segera meraih kotak peralatan p3k yang ada di meja, yang ditinggalkan oleh Sean tadi.
Dengan telaten dan begitu hati-hati, Kyra menempelkan kapas alkohol pada luka-luka di wajah Reyhan. Saat melihat lelaki itu mengerutkan wajah, Kyra ikut meringis seolah bisa merasakan bagaimana sakitnya kekasihnya saat ini.
"Sudah lebih baik? Bagaimana jika kita ke rumah sakit saja dan periksa?" tanya Kyra berusul setelah kegiatannya mengobati selesai.
"Tidak, Sayang. Ini sudah lebih mendingan. Lagi pula, kamu 'kan sudah mengoleskan salep pada lukaku, aku yakin itu akan segera membuatku sembuh. Maaf jika untuk sekarang, wajahku tak tampan seperti biasa," terang Reyhan dengan wajah memelas yang dibuat-buat.
Praktis, Kyra langsung terkekeh geli. Dia merasa lucu, karena Reyhan. Bahkan saat kekasihnya itu sedang kesakitan, bisa-bisanya malah membuat candaan-candaan lucu.
Kyra membalas tatapan Reyhan dengan penuh haru. Menggigit kecil bibir bawahnya lalu mengangguk dengan pelan.
Reyhan yang melihat itu merasa senang, spontan langsung menarik Kyra dalam pelukannya. "Terima kasih, Sayang, terima kasih. Maaf jika selama ini aku masih mengecewakan kamu," tuturnya berkali-kali dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya. Mendapat kepastian dari Kyra, membuat hati Reyhan begitu bahagia.
"Aku mencintaimu, Om," jawab Kyra semakin mengeratkan pelukan.
Mendengar itu, sontak Reyhan langsung melepaskan pelukan. Tak membiarkan Kyra terkejut lebih lama, dia segera menarik tengkuk wanita itu lalu menempelkan bibirnya. Reyhan mengecup bibir ranum milik Kyra sekilas. Lalu kembali lagi, tetapi dengan *******-******* yang lembut.
Kyra merasakan kasih sayang dalam ciuman kali ini. Hatinya bergetar dengan perasaan yang membuncah. Akhirnya, setelah beberapa hari tidak tenang dan selalu gelisah memikirkan lelaki itu. Hari ini dia bisa bersama, melepaskan rindu dengan hati yang mulai damai karena terungkapnya kebenaran yang terjadi di antara kesalahpahaman.
__ADS_1
Begitu ciuman mereka terlepas, napas keduanya saling beradu dalam hangat menerpa pipi masing-masing. Reyhan masih memegangi tengkuk Kyra, menempelkan dahinya pada dahi wanita itu.
"Aku sangat-sangat mencintaimu, Sayangku Kyra," tuturnya kemudian, membalas ungkapan perasaan kekasihnya.
Bibir Kyra tertarik membentuk senyuman yang begitu lebar. Lalu dengan berani, dia mengecup bibir Reyhan sebelum akhirnya melepaskan diri dari jarak yang terlalu dekat itu.
Kyra menarik napasnya dalam, berusaha mengisi paru-parunya yang seolah terserap habis karena ciuman tadi. Sesaat, setelah semuanya mulai tenang, dia mulai berkata, "Mungkin hari ini aku akan pulang.
Reyhan membulatkan mata sempurna. "Pulang? Kenapa cepat sekali?" pekiknya bertanya.
"Papi tak senang melihatmu di sini. Dia ingin mengajakku pergi, dan menjauh darimu," balas Kyra menjawab dengan sedih.
Tentu saja, Reyhan langsung mendesah kasar. Baru saja dia diberi kesempatan untuk berbaikan dengan wanita itu, kini malah Kyra ingin pergi menjauh darinya.
"Tak bisakah kamu mengundurnya lagi, Kyra?" pinta Reyhan memelas.
Kyra menggeleng. "Aku tidak bisa menolak perintah papi, maafkan aku, Om."
Melihat wajah Kyra sama frustasinya seperti dirinya, membuat Reyhan tidak tega untuk terus menuntut wanita itu. Dia tidak mungkin terus membiarkan Kyra melangkah maju, untuk menunjukkan jalan baginya. Kini sudah waktunya Reyhan untuk melangkah, dia tak ingin menjadi pengecut lagi.
"Aku akan menemui papimu," kata Reyhan kemudian dengan tegas.
"Tidak!" jawab Kyra berteriak panik. "Kamu bisa dihajar lagi nanti sama papi. Tidak, aku tidak setuju."
"Kyra," panggil Reyhan lembut. "Ini semua demi kita. Aku tidak mungkin membiarkanmu terus bersembunyi jika ingin menemuiku. Untuk urusan hajar-menghajar, sepertinya itu sudah resiko karena aku mencintai wanita sebaik dan secantik dirimu. Tentu saja, aku memahami perasaan papimu. Mungkin saja dia hanya khawatir aku akan melukaimu." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Reyhan untuk menenangkan Kyra. Meskipun begitu, hatinya tetap saja terasa getir. Dia hanya membicarakan omong kosong, karena nyatanya dia tak bisa menebak pikiran Dirga kepadanya.
__ADS_1
Kyra tampak berwajah sendu, matanya kembali berkaca-kaca. "Om." Sedetik kemudian, dia kembali memeluk Reyhan dengan erat. Dia benar-benar merasa haru dengan perjuangan yang ingin ditempuh oleh kekasihnya itu.